
Rabbani segera bersujud, “Maafkan kelakuan mendiang Abang Azzam.”
Rabbani seorang pengusaha termuda rela bersujud di depan wanita baru ia kenal. Clara juga sudah membuat kerugian besar di toko milik Rabbani. Tapi kerugian Rabbani tidak sebesar kesalahan mendiang Azzam. Tidak tahu harus menebus dengan cara apa lagi, Rabbani hanya tahu meminta maaf, dan membiarkan kerugian besar tersebut mengganti separuh masa kelam direnggut Azzam dari Clara.
Clara berdiri, “A-Azzam sudah meninggal dunia!” Clara menggeleng, “Tidak mungkin.”
“Ada peristiwa yang tidak harus aku katakan kepada Anda,” Rabbani berdiri, tangan kanan mengulur, “Jangan panggil tuan. Panggil saja Rabbani.”
Clara menyeka air mata kesedihan bercampur rasa senang setelah mendengar Azzam sudah tiada. Rasa senang tersebut adalah rasa senang karena Azzam akhirnya tidak akan berbuat dosa terlalu banyak di dunia ini. Clara menarik nafas, menerima jabat tangan Rabbani, “Aku akan tetap memanggil Anda dengan sebutan tuan.”
“Sebagai penebus kesalahan mendiang Abang ku, bagaimana jika kamu bekerja dan tinggal di rumahku,” ucap Rabbani memberikan penawaran sebagai tanda penyesalan dirinya atas perbuatan mendiang Abangnya.
“Sepertinya aku lebih pantas bekerja di sini.”
“Para karwaya ku adalah tukang bully nomor satu. Mereka akan terus menghakimi seseorang yang salah sampai orang tersebut mengundurkan diri sendiri dari toko ini,” ucap Rabbani berbohong. Rabbani berkata seperti itu agar Clara mau menerima kebaikan demi menebus kesalahan mendiang Abangnya.
Perlahan Clara menelan saliva, tatapan serius mengarah pada dinding kaca tidak tembus pandang. Terlihat dari kaca para karyawan sedang sibuk mengemas barang-barang untuk di kirim ke alamat bos kedua pria bertubuh kekar. Clara mengangguk, “Baiklah.”
Rabbani merogoh saku celananya, mengambil kunci rumah berserta kartu nama dan memberikan kepada Clara, “Ini kunci rumahku. Kamu bisa datang ke alamat rumah yang sudah tertera di dalam kartu namaku.”
“Aku tidak bisa masuk ke rumah orang tanpa orangnya,” sahut Clara memberikan kemabli kunci dan kartu nama.
Rabbani menggenggam kunci rumah dan kartu nama di genggaman tangan kanan Clara, “Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri.”
“Tapi…”
__ADS_1
Rabbani mendorong punggung Clara, membawa Clara keluar dari ruang kantornya, “Jangan banyak bicara lagi. Pekerjaanku masih banyak dan kamu tunggu saja aku di rumah.”
Bam!
Rabbani segera mengunci pintu kantornya dari dalam.
Rabbani menyandarkan tubuhnya di pintu, kepala menengadah, “Dosa mana lagi yang harus aku tanggung untuk menebus kesalahan kamu, Abang Azzam. Apa aku harus menikahi wanita itu agar Allah mengampuni setiap dosa kamu kepadanya?” Rabbani memijat pelipisnya, “Maafkan dosa Abang hamba, ya Allah.”
.
.
✨Pukul 19:30 malam✨
“Wa’alaikumsalam,” sambut Clara segera berlari mendekati Rabbani. Mengambil tas kecil berisi laptop dan jaket melingkar di lengan kiri Rabbani.
Deqser!
Melihat wajah cantik Clara menyambut tulus kepulangan Rabbani, aliran darah Rabbani naik dengan cepat sampai ke ubun-ubun.
“Apa tuan baik-baik saja?” tanya Clara menatap wajah kaku Rabbani. Karena tidak ada jawaban, Clara melambaikan tangan kanan ke hadapan Rabbani, “Tuan,” panggil Clara sekali lagi memecah lamunan Rabbani.
“Eh” tangan kanan mengarah ke lantai dua, “A-aku sepertinya ingin pergi mandi dulu,” Rabbani melangkahkan kedua kakinya, “Setelah mandi aku akan mengajak kamu makan di luar.”
“Tidak perlu tuan. Aku tadi sudah masak. Aku akan ke dapur untuk memanaskan masakan yang sudah dingin,” ucap Clara melajukan kedua kakinya menuju ruang makan sekaligus dapur.
__ADS_1
.
✨30 menit kemudian di ruang makan✨
Clara berdiri di sisi kanan Rabbani menciduk nasi ke dalam piring kosong, kemudian memberikan sayur dan lauk secukupnya. Clara juga menyediakan air minum di dalam gelas kosong, kemudian kembali berdiri di sisi kanan Rabbani.
“Kenapa kamu hanya diam dan berdiri di samping ku?” tanya Rabbani melihat Clara berdiri di sisi kanannya.
“Aku hanya seorang pelayan. Tugasku hanya melayani tuannya,” Clara memberi senyum tulus kepada Rabbani, “Tuan makanlah terlebih dahulu. Aku akan makan nanti di meja tersendiri,” ucap Clara mengarahkan tangan kanan di balik tembok dapur masak terdapat 1 meja kecil dengan dua kursi.
Rabbani mengulurkan tangannya ke sisi depan bagian kanan, “Aku tegaskan ke kamu untuk duduk di sana dan makan bersama denganku. Jangan buat aku menjadi marah!” tegas Rabbani dengan tatapan suram.
Clara segera menarik kursi, ia duduk dan mengambil nasi berserta lauk pauknya. Clara mengangguk, “Jangan lupa baca niat di dalam hati sebelum makan tuan,” ucap Clara mengingatkan Rabbani sebelum makan hendaknya membaca doa sesuai agamanya masing-masing.
Rabbani hanya mengangguk.
30 menit kemudian Rabbani dan Clara selesai makan. Sambil melihat Clara membersihkan sisa makanan di atas meja, Rabbani mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada Clara.
“Umur kamu berapa? Sebelum kamu bekerja di sini kamu sempat bekerja di mana dulu? Dan kenapa kamu bisa mengenal dan berjumpa dengan mendiang Azzam?” pertanyaan bertubi-tubi Rabbani ajukan buat Clara.
Sejenak Clara diam mematung di depan meja, kedua tangan memegang piring kotor. Clara menundukkan wajahnya, kedua tangan menggenggam erat pinggiran piring kotor, “Dulu aku adalah wanita kotor. Karena terhimpit ekonomi aku memulai pekerjaan menjadi pemandu Karoke yang berada di kota M. Baru saja aku bekerja, aku bertemu dengan mendiang Azzam. Saat itu dirinya seperti sedang mengalami banyak beban, mendiang Azzam sempat mengeluh perihal tentang harta warisan. Mendiang Azzam yang terlalu banyak minum mulai meluapkan kekesalannya kepadaku, aku tidak bisa menolaknya karena dirinya berjanji akan memberikan aku uang untuk aku berhenti bekerja di tempat seperti itu, dan memulai dengan usaha yang halal. Setelah melakukan perbuatan tersebut, mendiang Azzam memang benar menempati janjinya. Tapi setelah satu bulan aku membuka warung, aku dinyatakan positif hamil. Kabar itu membuat aku sedikit terguncang. Dan aku pun diusir dari tempat tinggal ku,” Clara mengakhiri percakapan penuh kenangan pahit.
Rabbani berdiri, mengelus punggung Clara, “Hidup ini terkadang memang tidak adil. Tapi inilah hidup yang harus kita jalani selama kita masih bernyawa di atas muka bumi ini. Mulai sekarang kamu akan tetap bekerja di rumahku, dan berhentilah bekerja ditempat seperti itu. Memang niat kamu baik, tapi cara mencari uangnya salah. Jika kita mau membuka usaha dengan uang halal, sebaiknya kita mencari pekerjaan yang halal juga. Meski sulit untuk mengumpulkan banyak uang, tapi setidaknya uang itu adalah uang halal hasil kerja keras kamu.”
Clara menyeka kasar air mata di kedua pipinya, “Terimakasih tuan. Baru kali ini aku bertemu dengan orang baik.”
__ADS_1