SERAKAH

SERAKAH
BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan


__ADS_3

Hari ini rumah sangat ramai. Beberapa karyawan lainnya membantu Rabbani untuk menghias kamar mereka menjadi kamar pengantin. Sedangkan Clara sedang pergi SPA di temani dua karyawan wanita.


"Tuan apa yakin ingin menikahi wanita itu?" tanya karyawan pria satu melirik ke belakang, kedua tangan sedang mendekor kamar.


"Tentu saja. Kenapa aku harus bimbang!" jawab Rabbani tegas.


"Wah... sepertinya tuan sedang dirasuki setan Bucin. Apa tuan sungguh yakin?" tanya karyawan pria satu sekali lagi.


"Iya, aura dari tubuhnya sudah menggetarkan hatiku. Apa lagi....." sahut Rabbani sengaja menggantung ucapannya agar karyawan lainnya penasaran.


"Asal apa tuan?" tanya karyawan pria satu penasaran.


"Kok di gantung! jangan bilang tuan ingin menggantung perasaanku seperti mantan-mantan ku!" sambung karyawan kedua penasaran.


"Masa kalian tidak paham. Sudah pasti icip-icip dulu lah. Apalagi tuan Rabbani tinggal satu rumah dan pernah tidur dalam satu kamar. Kalau aku jadi tuan Rabbani, sudah pasti aku tidak tahan. Apalagi wanita seperti...." sela karyawan ketiga dengan pikirannya.


Tak!!!


Satu ketukan manis mendarat di puncak kepala karyawan ketiga. Menghentikan ucapannya terus berjalan seperti kereta api ekspress.


"Aduh...sakit juga!" ucap karyawan pria ketiga mengelus puncak kepalanya.


"Masih ada yang menyambar dengan perkataan sok tahu?" tanya Rabbani, kedua bola mata berputar menatap para karyawan.


"Tuan apa tidak penasaran kenapa Clara tiba-tiba datang. Mengusik hidup tuan, dan ingin menikahi tuan Rabbani? Apa tuan tidak curiga jika Clara sedang menyembunyikan hal besar?" sambung karyawan pertama merasa aneh tentang Clara.


"Benar. Bukannya tuan Rabbani sering dikelilingi wanita cantik dan kaya raya. Kenapa tuan Rabbani harus menikah dengannya..."


"Pasti Clara memasang pelet untuk memikat tuan Rabbani, untuk mengeruk semua harta milik tuan Rabbani?" sambung karyawan ketiga.


"Berhentilah berkata buruk tentang orang lain. Aku yang melamar Clara dan aku juga yang terus mendesak dirinya untuk menerima dan menikah denganku. Jadi semua ini tidak ada hubungannya dengan pelet atau rencana buruk yang sudah di susun Clara untukku. Jika kalian terus menjelekkan calon Istriku, maka kalian semua akan aku kurangi gaji kalian!" ucap Rabbani dengan tenang dan sedikit mengancam.

__ADS_1


"Ooop...Nggak ikut-ikut!" ucap karyawan pria pertama mengangkat kedua tangannya.


"Aku juga!" sahut karyawan kedua dan ketiga, menolak salah.


Saat Rabbani dan 3 karyawan pria lainnya sedang asik berbincang di dalam kamar. Ada suara ketukan pintu menghentikan perbincangan mereka.


Tok!!tok!!


Rabbani berdiri, "Kalian boleh keluar jika sudah siap mendekor kamarku!" ucap Rabbani kepada ketiga karyawannya karena Rabbani ingin membuka pintu.


"Siap tuan...Bos!" sahut ketiga karyawan pria serentak.


Rabbani melangkahkan kedua kakinya mendekati pintu, dan membukanya. Kedua mata Rabbani membulat sempurna saat melihat Anggun datang membawa sebuah kotak hadiah.


"Kamu!"


Anggun menerobos masuk, "Selamat atas pernikahannya," Anggun memepetkan tubuhnya ke Rabbani, membuat wajah saling menatap sangat dekat, "Jika wanita itu tidak memberikan kepuasan untukmu. Maka aku siap menjadi penggantinya!" sambung Anggun penuh maksud.


"Sepertinya kami sudah siap. Ka... kami pergi turun ke bawah," sambung karyawan kedua merasa tidak nyaman jika berada di dalam kamar, dan melihat Rabbani sedang berurusan dengan hal penting. Karyawan kedua juga menarik karyawan pertama dan juga ketiga ikut keluar dari dalam kamar.


Blam!!!!


Tidak enak di lihat para karyawannya, Rabbani segera menutup pintu.


"Selera kamar malam pengantin yang bagus," ucap Anggun menatap langit kamar di dekor sangat indah. Kedua kaki Anggun terus melangkah mendekati ranjang. Saat bokong hendak mendarat, Rabbani dengan cepat menarik tangan Anggun.


"Jangan pernah mendaratkan dan menyentuh benda apa pun di dalam rumahku!" tegas Rabbani terlihat tidak senang.


Anggun berdiri, berjalan memutari tubuh Rabbani, tangan kanan dengan ramah menyentuh setiap bidang tubuh Rabbani.


Rabbani segera menangkap tangan Anggun, menarik tubuh Anggun hingga mereka saling menatap, "Nggak habis pikir. Kenapa wanita seperti kalian sangat kekeh dengan tujuan. Apa yang kau inginkan dariku?"

__ADS_1


"Yang aku inginkan adalah kamu!" sahut Anggun mendekatkan bibirnya ke daun telinga Rabbani.


Clara baru saja pulang dan mendengar jika ada Anggun di dalam kamar bersama dengan Rabbani, membuat perasaan Clara dipenuhi dengan hal-hal buruk. Kedua kaki Clara bawa melangkah menuju kamar Rabbani.


"Aku dengar ada tamu?" tanya Clara membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamar.


Rabbani terkejut, kedua kaki melangkah mundur kebelakang, "Jangan salah paham!" ucap Rabbani tidak ingin membuat Clara salah paham setelah melihat perbuatan Anggun.


Clara berjalan mendekati Anggun dan juga Rabbani. Tangan kanan melambai, "Aku percaya kok sama calon suamiku!"


"Apa kamu yakin percaya dengan tuan Rabbani?" tanya Anggun mulai memasukkan bumbu.


"Tentu. Kalau Rabbani bisa mempercayai aku, kenapa aku tidak bisa!" sahut Clara santai. Clara memegang bahu kanan Anggun, "Aku mulai bosan bersikap lembut. Karena aku akan menjadi calon Istri dari tuan Rabbani, aku tegaskan untuk menjauhi Suamiku!" ucap Clara di kalimat terakhir terdengar tidak suka.


Anggun menepis tangan Clara. Tatapan tidak suka terlihat di raut wajah Anggun saat melihat Clara, "Yang sudah menjadi Suami saja bisa aku rebut. Apalagi masih calon," Anggun mendekatkan bibirnya di daun telinga kanan Clara, "Pasti kamu menikahi Rabbani karena ingin menguasai semua hartanya. Bukannya kamu tahu jika Rabbani memiliki banyak saham dan usaha yang tersebar di berbagai kota dan pelosok Desa?" tanya Anggun sedikit berbisik.


Clara ikut mendekatkan bibirnya ke daun telinga Anggun, "Sungguh disayangkan, aku tidak memiliki sifat SERAKAH seperti kamu. Jika aku mau merebut harta para pria kaya. Kenapa tidak aku lakukan saat mereka menjadikan aku sebagai boneka yang di kurung dan diikat di dalam sangkar. Jangan-jangan yang ada tuduhkan itu adalah untuk diri Anda sendiri?"


Plaaakk!!!!


Satu tamparan manis dari Anggun untuk Clara.


"Clara!" ucap Rabbani langsung memeluk Clara.


"Katakan kepada calon Istri Anda, tuan Rabbani. Jangan pernah sekali-kali berkata seperti merendahkan aku. Baru saja ingin menikah dengan Anda, tapi sikap dan sifat sudah berlagak sombong!" ucap Anggun mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Clara.


"Memang aku yang menyuruhnya untuk merubah sifat dan sikapnya. Jika kamu keberatan -" Rabbani menggantung ucapannya, tangan kanan mengarah ke pintu, "Silahkan keluar dari kamar dan rumahku. Dan satu lagi. Aku tekankan dan tegaskan sekali lagi. Jangan pernah tunjukkan batang hidung Anda di hadapanku!" tegas Rabbani kepada Anggun.


"Sampai kapanpun aku akan tetap mengejar-mu!" sahut Anggun, kedua kaki ia bawa melangkah pergi meninggalkan kamar dan rumah Rabbani.


Sepanjang kaki melangkah Anggun terus mengumpat kesal, 'Bren-gsek. Kalau Rabbani menikah dengan wanita itu, pasti akan sulit bagiku untuk mengeruk dan memindahkan semua kekayaan Rabbani atas namaku. Sudah susah-susah aku mengorbankan diri demi mendapatkan pelet jaran goyang. Tapi hasil yang aku dapat hanya kekecewaan. Dukun tidak berguna! dan awas saja kamu, Clara. Aku akan memisahkan kalian berdua.'

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2