
Hati Rabbani tiba-tiba merasa gelisah. Pikirannya terus teringat dengan Clara tak kunjung turun. Rabbani menatap semua karyawannya, "Aku ke atas dulu," ucap Rabbani melangkahkan kedua kakinya menaiki anak tangga.
Karena hati terus merasa gelisah Rabbani mempercepat langkah kakinya. Kedua bola mata terus melirik ke koridor kamar mereka.
"Tolong..siapa pun di luar sana tolong aku!"
Baru saja kedua kaki berhenti di atas, kedua telinga Rabbani terusik dengan teriakan Clara, "Bukannya itu suara Clara!" Rabbani mempercepat langkah kakinya. Kedua kaki terhenti tepat di depan kamar, tangan kanan memegang handle pintu. Namun pintu tidak bisa terbuka. Rabbani menjauh dari pintu, "Berani sekali masuk ke rumahku tanpa izin!" kedua kaki berlari dan mendobrak pintu.
Brakkk!!!
Terlihat jelas Clara sedang terbaring di atas ranjang, baju pengantin sudah terle-pas dari tubuh, dan hanya menyisakan bagian tertutup lainnya. Darah Rabbani semakin menggelegar saat melihat wajah sang Istri dipenuhi air mata dan ketakutan saat menatap kedatangan Rabbani.
Pria tersebut turun dari ranjang, senyum tipis di balik masker menatap kedatangan Rabbani, "Sepertinya kamu terlambat datang. Aku baru saja memasukkan ujung...."
Bam!
Satu bogem mentah mendarat di wajah pria tersebut.
Rabbani segera membuka baju kemeja pernikahan mereka, dan memasangkan ke tubuh polos Clara. Tangan kanan membelai puncak kepala Clara, "Maafkan aku datang terlambat," ucap Rabbani penuh penyesalan. Kedua bola mata Rabbani terusik dengan bercak darah merah di atas seprai, "Kamu berdarah?"
Clara hanya diam, tubuhnya menggigil ketakutan.
Rabbani mengepal kedua tangannya. Kedua kaki berjalan cepat mendekati pria tersebut.
"Sudah tidak ada harapan untuk bersama. Lebih baik berpisah daripada kecewa. Bukannya wanita ini adalah wanita yang buruk, tapi kenapa kamu masih mau menikahinya. Lebih bagus kamu menikah dengan wanita yang pantas. Masih banyak wanita mapan lainnya yang...."
"Bereng-sek....kalian SEMUA!"
BAM!!!!
BUG!!!!
Bam!!!
Rabbani menghujani pria tersebut dengan beribu kali bogem mentah. Rasa sesak di dadanya terus memuncak hingga membuat ubun-ubun nya ingin meledak.
"Walau kau telah menyerang ku. Tapi kau tidak akan pernah bisa mengembalikan semua keadaan," ucap pria tersebut seperti sedang menghina Rabbani. Kedua kaki pria tersebut juga berlari cepat menuruni anak tangga.
"Berani berbuat...berani bertanggung jawab. Aku akan mengantarkan kamu pulang ke tuan kamu!" tegas Rabbani dengan tatapan suram. Kedua kaki terus berjalan cepat mengikuti pria tersebut berlari di depannya.
Pria itu terus berlari di tengah-tengah ramainya karyawan.
"Kenapa ini tuan?" tanya karyawan pria satu heran.
__ADS_1
"Tolong bawa Istriku ke rumah sakit. Atau tolong panggilkan Dokter. Aku akan pergi sebentar untuk mengurus manusia satu ini?" tegas Rabbani kepada karyawannya untuk menjaga Clara dan merawat Clara saat dirinya pergi.
"Baik!" sahut karyawan pria dan wanita patuh.
Setelah menitipkan Clara kepada para karyawan. Rabbani berlari cepat mengejar pria tersebut.
Tap! tap!
Suara tapak sepatu pansus pernikahan milik Rabbani menggema di lantai taman depan. Rabbani segera masuk ke dalam mobil karena pria tersebut sudah berlari keluar dari rumahnya.
Broomm! Broomm!!!!
Seperti seorang pembalap. Rabbani mengendari mobilnya dengan sangat cepat mengejar pria tersebut.
Kedua bola mata suram menatap dari dalam ke pria tersebut sedang berlari tunggang-langgang di depannya, "Aku sudah muak berurusan dengan manusia SERAKAH seperti kalian. Dulu aku memiliki kedua saudara yang dengan tega menghabisi Ayah, Ibu dan terakhir ingin menghabisi aku. Tapi aku sangat bersyukur bisa selamat seperti ini karena ada perlindungan dari mendiang Ayah dan Ibu. Setelah kepergian Abang dan Adikku. Kenapa aku harus kembali berjumpa dengan manusia SERAKAH dari golongan wanita. Terlebih lagi wanita-wanita ini dari kalangan orang atas. Aku sangat membenci dengan orang yang mampu menghalalkan semua cara. Karena kalian sudah mengusik ketenangan orang yang tidak bersalah, maka aku akan membuat kalian membayar semuanya," emosinya semakin bertambah saat mengingat bercak darah di atas seprai pengantin mereka. Rabbani menginjak gas, dan menabr-ak tubuh pria tersebut.
Brakk!!!!
Pria tersebut terpental ke depan.
Rabbani segera turun dari mobil, kedua kakinya berjalan cepat mendekati pria tersebut. Tangan kanan langsung menggenggam kerah bagian belakang, "Aku akan antar kamu ke tuan, kamu!" Rabbani menyeret pria tersebut dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"A...ampuni saya tuan. Saya hanya di suruh oleh nona Anggun karena ia tidak suka melihat tuan menikah dengan Clara," lirih pria tersebut berharap belas kasih kepada Rabbani, agar segera dilepaskan.
Cit!!!!cit!
Tin!!tin!
"Tidak bisakah Anda pelan sedikit membawa mobilnya. Kakiku sangat sakit melihat Anda membawa mobilnya dengan cepat seperti ini!" rengek pria tersebut memegang tulang keringnya.
Rabbani melirik dengan tajam dan suram, kaki kanan menambah kecepatan mobil. Mobil pun melaju dengan cepat tanpa melihat jalan, "Kenapa ada noda darah?" tanya Rabbani dingin.
"Aku tidak tahu. Aku tidak sengaja, dan aku belum melakukan apa pun. Aku hanya bermain dengan tanganku, dan saat aku ingin memasukkannya..."
Bam!!!!
Satu bogem mentah mendarat sekali lagi. Pria tersebut pingsan dengan hidung mengeluarkan darah.
Rabbani berhasil mempersingkat jarak rumah menjadi satu jam kurang. Rabbani kini telah sampai di depan gerbang putih, dengan ukiran indah bercat warna emas.
"Mau cari siapa?" tanya satpam.
"Anggun. Katakan pada Anggun jika pernikahan Rabbani dan Clara sudah batal. Dan Rabbani ingin menjumpai dirinya!" tegas Rabbani kepada satpam.
__ADS_1
"Silahkan masuk saja tuan," ucap satpam membuka pintu gerbang.
Rabbani pun masuk ke dalam, dan memarkirkan mobilnya lurus dengan teras. Rabbani membuka seatbelt. Tangan kanan dengan kasar membangunkan pria tersebut.
Plakk!!!
Pria tersebut terbangun. Kedua mata mengerjap, "Tidak mungkin!" ucap pria tersebut terkejut saat melihat dirinya sudah sampai di rumah Anggun.
"Ikut aku turun!" Rabbani membuka pintu mobil pria tersebut.
"Kenapa harus ke sini?" tanya pria tersebut heran.
"Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada Anggun," ucap Rabbani berbohong.
"Tidak mungkin," sahut pria tersebut tidak percaya.
"Cepat jalan, dan ketuk pintunya!" tegas Rabbani mendorong tubuh pria tersebut.
"Ba....baik!" ucap pria tersebut ketakutan. Kedua kaki berjalan naik ke teras rumah.
Tok!!! tok!!!
"Nona Anggun, saya datang!" teriak pria tersebut dari depan pintu.
"Panggil yang kuat!" tegas Rabbani sekali lagi.
"Nona Anggun ini saya!" teriak pria tersebut sekali lagi.
Pintu rumah terbuka.
"Kenapa kamu tidak menelpon aku?" tanya Anggun berdiri di balik pintu sedikit terbuka.
"Karena aku ikut bersamanya," sambung Rabbani mendorong pintu, dan melangkahkan kedua kakinya ke dalam.
"Ka...kamu bukannya sedang melaksanakan pernikahan?" tanya Anggun panik.
Rabbani melirik, "Tapi kamu sudah membatalkannya. Jadi aku ke sini untuk mengajak kamu menikah!" ucap Rabbani berbohong.
"Benarkan!" Anggun melambai, "Seharusnya kamu memang menikah denganku. Bukan dengan gadis miskin dan simpanan pria hidung belang seperti itu. Jika kita menikah pasti harta kita akan berkembang bersama," sambung Anggun terlihat bangga dan senang.
"Ooh....seperti itu ya?"
...Bersambung...
__ADS_1