
"Arrgghhh!!!” Clara tertidur di dalam pelukan Rabbani. Meski mulut menganga, tapi wajah cantiknya tetap membuat Rabbani tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Clara.
Rabbani membelai lembut puncak kepala Clara. Kedua kelopak mata Rabbani teringat dengan sifat Clara seperti anak kecil saat sedang mabuk. Sangat polos, seperti tidak takut dengan apa pun. Tidak ingin membuat Clara tersiksa dengan ikat pinggang masih mengerat dipergelangan tangan Clara. Rabbani segera melepaskan ikat pinggang tersebut, dan menurunkan perlahan kedua tangan Clara ke samping tubuh.
Rabbani perlahan turun dari ranjang, dan menyelimuti Clara. Rabbani berjalan mendekati pintu, tangan kanan memegang gagang pintu, “Aku pergi sebentar untuk membeli makanan,” ucap Rabbani berpamitan pergi kepada Clara masih tertidur pulas di atas ranjang.
Rabbani pun melangkahkan kedua kakinya meninggalkan kamar hotel. Kedua kaki Rabbani terus berjalan cepat menelusuri koridor menuju lift turun. Kedua kaki Rabbani terhenti di depan pintu lift, dan segera masuk ke lift kosong menuju lantai satu. Saat kedua kaki terus berjalan melewati pintu keluar Hotel, Rabbani sempat berpapasan dengan pria mencurigakan. Pria itu juga melirik tajam dengan senyum tipis dari balik masker. Sedangkan Rabbani masih terus berjalan dan menyetop taksi untuk menuju mini market terdekat.
Pria misterius tersebut masih terus berjalan menuju lift, dan menekan tombol menuju lantai kamar milik Rabbani.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Pria misterius kembali berjalan di koridor menuju kamar milik Rabbani. Sesampainya di depan kamar Rabbani, terlihat Rashi sedang berdiri dengan santainya, jari telunjuk memutar-mutar kunci kamar Hotel.
Pria misterius menghentikan langkahnya tepat di depan Rashi, tangan kanannya mengulur, “Berikan aku kuncinya,” ucap pria misterius kepada Rashi.
Rashi berdiri tegak, tangan kanan memberikan kunci tersebut di atas tangan pria misterius, “Kamu tidak peru terburu-buru melakukannya. Lakukan dengan perlahan, dan nikmati semua pelayanan gratis dari wanita itu. Dan jangan lupa merekam setiap momen kebersamaan kalian berdua,” ucap Rashi kepada pria misterius berperawakan Turki.
Seperti tiada habis dan hentinya Rashi untuk mendapatkan Rabbani. Dengan berbagai macam cara ia lakukan agar Clara bisa menjauhi Rabbani, dan Rabbani bisa menjadi milik Rashi.
“Tentu,” sahut pria misterius, tangan kanan menggenggam erat kunci kamar.
“Kamu juga sudah melihatnya pergi bukan?” tanya Rashi memperjelas semuanya.
Karena Rashi tadi sudah melihat Clara sedang mabuk dan Rabbani juga pasti akan sibuk keluar masuk kamar Hotel. Rashi sudah memikirkan dan memperhitungkan jika Rabbani akan segera meninggalkan kamar Hotel dan membiarkan Clara tidur di dalam. Tidak ingin kehilangan kesempatan emas, Rashi segera membayar orang untuk membuat hal buruk kepada Clara atas nama Rabbani.
“Ya. Bahkan pria bodoh itu sudah pergi naik mobil. Kemungkinan pria bodoh itu akan pulang sedikit lebih lama. Jadi aku akan bebas melakukan apa pun dengan wanita itu,” ucap pria misterius penuh keyakinan.
Rashi menepuk bahu kanan pria misterius, “Baik. Lakukan segera, aku akan berpura-pura tidak melihat apa pun, jika kamu sudah selesai kembalikan kunci serep itu kepadaku lagi,” ucap Rashi kepada pria misterius agar tidak lupa mengembalikan kunci serep curiannya. Rashi berbalik badan, tangan kanan melambai, “Aku pergi dulu!” ucap Rashi sambil melangkah pergi meninggalkan pria misterius di depan kamar hotel milik Rabbani.
Pria misterius membuka kamar Hotel, kaki kanan masuk dengan perlahan. Sesampainya di dalam kamar terlihat Clara sedang terbaring di atas ranjang tubuh masih berbalut selimut hangat. Pria misterius membuka jaket kulit miliknya, dan meletakkannya di atas lantai. Kedua kaki berjalan perlahan mendekati ranjang. Tangannya dengan ramah menyingkap selimut menutupi tubuh Clara.
“Mmm… dingin,” rengek Clara karena baju terusan Clara perlahan dinaikkan ke atas oleh pria misterius.
__ADS_1
“Jangan mengeluarkan nada suara itu sayang.”
Grep!
Kedua tangan memegang paha Clara.
Clara masih tertidur langsung terbangun. Kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat kedua tangan pria tersebut dengan ramah mulai menyapa paha milik Clara. Clara mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah pria misterius sambil berteriak, “Siapa kamu! Dan kenapa kamu bisa berada di dalam kamar ini?”
“Tentu saja karena tuan Rabbani memberikan kunci kamar ini kepadaku,” ucap pria misterius berbohong.
“Tidak mungkin!” sahut Clara tidak percaya jika Rabbani melakukan itu semua. Clara berbalik badan, ingin segera menjauh dari pria misterius. Namun pria misterius menarik kedua kaki Clara. Membuat Clara terlungkup di atas ranjang.
Pria tersebut langsung duduk di atas bo-kong Clara, “Tempat duduk yang sangat empuk,” pria tersebut segera menyergap kedua tangan Clara, memegang kedua tangan menjadi satu dan diletakkan di atas puncak kepala.
Clara menggeliat, melirik penuh ketakutan, “Kamu mau apa?” tanya Clara sedikit takut.
“Tentu saja seperti dugaan kamu!” ucap pria misterius. Tangan kanannya dengan ramah menyelinap masuk ke dalam dan berhenti di titik sensitive, “Jangan berteriak agar semuanya lebih mudah,” ucap pria tersebut mulai memainkan jarinya.
“Tidak! Jangan lakukan itu kepadaku!” rengek Clara, tubuh semakin menggeliat agar pria tersebut turun dari tubuh Clara dan melepaskan tangannya.
“Rabbani tidak mungkin melakukan hal keji seperti ini kepadaku. Tolong lepaskan aku!” teriak Clara kembali, tubuh berusaha melepaskan diri tapi dirinya tidak bisa karena sebuah sentuhan sudah membuat Clara hampir melayang.
Karena pria misterius itu mulai teran-gsang dan sudah tidak sabar. Dengan cepat dirinya hendak memasukkan rudal miliknya. Namun aksinya harus terhenti saat pintu kamar terbuka.
Klik!!!
Rabbani perlahan masuk dan mengunci pintu kamar. Terlihat wajah Rabbani dengan suram menatap pria misterius, kedua kaki melangkah cepat mendekati ranjang, dan membuang semua barang belanjaan di kedua tangan terjatuh di lantai kamar.
“Apa Anda juga ingin ikut bermain?” tanya pria misterius membersihkan jari-jemari basahnya di baju gaun terusan milik Clara.
Clara dengan kedua pipih memerah, dan air mata membasahi wajahnya menatap sendu Rabbani sedang berjalan menuju ranjang.
Grep!!
Rabbani segera menggenggam erat kerah kemeja pria misterius, menarik tubuh pria misterius segera turun dari tubuh Clara. Kepalan bogem mentah melayang ke wajah pria misterius.
__ADS_1
Bam!
“Auw!” pria misterius terjatuh ke lantai.
Rabbani kembali menggenggam erat kerah kemeja pria tersebut, membuat pria misterius kembali berdiri tegak. Berulang kali bogem mentah kembali melayang ke pelipis dan wajah pria misterius.
Bam!
Bug!
Bam!
Rabbani terus memberikan pelajaran tanpa ampun kepada pria misterius hingga wajahnya berubah menjadi lebam, dan sedikit mengeluarkan darah.
“A-ampuni sa-saya…” keluh pria misterius menghalau kedua tangannya di depan wajah agar Rabbani tidak lagi memberikan bogem mentah ke wajah tampannya.
Dengan tatapan suram Rabbani melirik ke Clara sedang ketakutan di sudut atas ranjang. Wajah Rabbani semakin suram, seluruh darahnya berjalan begitu cepat. Bukan ingin memberi bogem mentah, tapi kali ini Rabbani sedang mengeratkan kedua tangannya sangat kuat di jenjang leher pria tersebut.
“Rrrrghhh!” keluh pria misterius seperti kehabisan bernafas, karena Rabbani menghentikan aliran oksigen masuk ke dalam tenggorokan.
“Katakan siapa yang menyuruh kamu melakukan seperti ini?” tanya Rabbani dengan menekan nada suaranya. Dan melonggarkan sedikit genggaman tangannya.
“No-na Rashi,” sahut pria misterius dengan suara susah keluar dari mulut.
Rabbani segera melepaskan pria tersebut. Kedua kakinya mendekati ranjang. Jaket miliknya dilepaskan dan diberikan kepada Clara. Dengan lembut Rabbani membelai puncak kepala Clara sambil berkata, “Tunggu aku kembali,” kaki kanan hendak melangkah namun tangan kiri di tahan oleh Clara.
“A-aku takut,” rengek Clara sura gemetar.
“Aku tidak akan lama,” sahut Rabbani kembali mendekati Clara. Tidak ingin membuat Clara ketakutan, Rabbani memberikan ciuman hangat di dahi penuh keringat Clara, “Aku janji tidak akan lama.”
Clara langsung terdiam.
Rabbani kembali berjalan mendekati pria tersebut. Tangan kanannya dengan cepat menyambar kerah baju kemeja bagian belakang pria tersebut dan membawa pria misterius keluar dari kamarnya.
...Bersambung...
__ADS_1