
Setelah malam itu, Rabbani dan Clara kembali akur. Rabbani sudah memaafkan Clara, dan Rabbani juga sudah menjelaskan tentang resleting nya kenapa bisa turun saat bersama dengan Anggrek di dalam ruangan pribadi miliknya. Setelah mendengar semua penjelasan Rabbani, Clara semakin yakin jika dirinya akan aman tinggal dan bekerja di sini bersama dengan Rabbani.
.
✨PUKUL 10:00 PAGI✨
“Clara...apa kamu sudah siap?” tanya Rabbani memanggil dari ruang tamu. Rabbani kini berdiri di tengah ruang tamu. Baju kaos oblong berwarna merah maroon, kemeja kotak-kotak berbahan flannel terpasang di luar, dan tak lupa celana jeans pendek, menambah kesan ketampanan wajah Rabbani.
Clara segera keluar dari kamar tamu berada di bawah anak tangga. Dengan malu-malu Clara berjalan mendekati Rabbani, tangan kanan menggeret koper berwarna oranye. Kepala tertunduk, dengan senyum malu tersimpan di dalam bibir merah mudanya. Berharap mendapatkan pujian karena dirinya memakai baju pemberian dari Rabbani.
“Tidak aku sangka baju ini sangat cocok dan baju terusan yang sopan buat kamu pakai,” puji Rabbani.
“Terimakasih tuan,” sahut Clara lupa akan kesepakatan mereka berdua tadi malam, jika tidak dirinya tidak perlu memanggil Rabbani dengan sebutan tuan.
Rabbani memasang wajah kesal, tangan kanan mengacak puncak kepala Clara, “Sekali lagi kamu memanggilku dengan sebutan tuan. Maka tidak akan ada kata maaf untuk kamu!” ancam Rabbani.
Clara segera menatap wajah Rabbani dengan penuh penyesalan, kedua tangan memegang tangan kanan Rabbani, “Aku mohon jangan marah lagi ya!”
Rabbani mengangguk, tangan kanan menggeret koper miliknya, tangan kiri memegang benda pipih sambil menelpon seseorang sambil berjalan terlebih dahulu menuju pintu rumah.
Langkah kaki Rabbani dan Clara harus terhenti saat melihat Anggun berdiri di depan teras rumahnya. Rabbani segera menutup panggilan telponnya, memasukkan kembali benda pipih ke dalam saku celananya. Karena waktu terus berjalan dan taksi online juga sudah menunggu cukup lama di depan gerbang, Rabbani segera menggenggam erat pergelangan tangan kanan Clara, membawa Clara berjalan melewati Anggun.
Anggun segera berlari, menghalau pintu mobil bagian belakang, “Kamu tidak boleh pergi sebelum memberikan pesanan ku!”
Rabbani melepaskan genggaman tangannya, beralih perlahan menyentuh bahu kanan Anggun. Tatapan dingin menatap wajah Anggun tersenyum penuh maksud karena bahunya di pegang oleh Rabbani. Perlahan pegangan tangan lembut tersebut berubah menjadi kasar. Rabbani mengeratkan genggamannya, “Jika kamu tetap diam di depanku, maka aku akan melakukan hal kasar lainnya kepada wanita seperti kamu!”
Karena bahunya sangat sakit, Anggun perlahan menyerah. Kedua kakinya bergerak sedikit menjauh dari pintu belakang, “Baiklah. Aku akan menyerah hari ini. Tapi tidak buat hari yang akan datang!” Anggun berbalik badan, “Aku akan menunggu kepulangan kamu dengan memberikan semua cinta yang ada di hatiku.”
Rabbani tidak memperdulikan ucapan Anggun. Tidak ingin membuat Clara ikut terlibat, Rabbani terlebih dahulu menyuruh Clara masuk, kemudian ia ikut masuk tanpa menoleh ke Anggun.
__ADS_1
Anggun tersenyum manis, kedua tangan di lipat di depan dada, sudut bibir tersenyum manis menatap taksi online sudah berada jauh di depan mata.
‘Tidak masalah kamu sering menolak ku. Suatu hari aku pastikan kamu akan menerima dan menuruti semua keinginanku. Sampai jumpa suatu hari, Rabbani.’
“Apakah nona sangat menginginkannya?” tanya Ben berdiri di samping kiri Anggun.
Anggun berbalik badan, senyum manis ia pancarkan menatap wajah Ben, “Tentu saja. Bukan hanya karena dirinya tampan, tapi karena dirinya juga memiliki segalanya. Hidup di Dunia ini jika semua keinginan tidak lengkap, maka tidak perlu hidup dan berjalan di atas Bumi ini!” Anggun memegang dagu Ben, “Tapi kepuasan pertamaku ada pada diri kamu. Tetaplah berdiri di sampingku-” kedua mata Anggun perlahan turun ke bagian bawah, menyambung perkataannya kembali, “Karena aku butuh yang besar dan bertahan lama, bukan hanya harta.”
Ben mengulas senyum tipis. ‘Kita berdua juga sama. Sama-sama saling membutuhkan. Aku membutuhkan uang kamu, sedangkan kamu membutuhkan kenikmatan ku. Hidup ini ternyata semudah itu.’
Anggun menepuk bahu kiri Ben, “Mari kita pergi ke tempat praktek Kek Rusdi,” ajak Anggun melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
Ben juga ikut berlari, menghidupkan mesin mobil dan melajukan nya meninggalkan kediaman rumah Rabbani
.
.
.
💫💫PRAKTEK HEBAT💫💫
“Kek, aku datang lagi,” ucap Anggun menatap seorang pria paruh baya cukup segar berumur 75 tahun. Di depan Anggun ada sebuah meja berisi dupa, berbagai macam bunga dan lilin.
Kakek tersebut mengangguk, tangan kanan mengelus janggut panjangnya, “Kamu tahu ‘kan kalau datang ke sini syaratnya apa?”
Anggun melambai, “Sudah pasti tahu. Tapi kali ini permintaanku sangat jauh berbeda dari yang sebelumnya.”
“Apa itu, katakan saja.”
__ADS_1
“Aku ingin membuat seorang pria tidak bisa melupakanku, dan aku juga ingin membuat dirinya menjadi budak cintaku. Apa Kakek sanggup?”
“Ha ha” Kakek tua tertawa renyah, tangan kanan melambai, “Tentu saja bisa,” tangan kanan memukul dadanya, “Kakek Rusdi adalah Dukun terhebat yang bisa melakukan apa pun asal bisa memberikan kekuatan dulu sebelum masuk ke intinya.”
Ben membuang wajahnya ke sisi kanan. ‘Dasar dukun mesum. Kenapa sih Rusdi ini tidak di tangkap saja. Aku rasa sudah banyak anaknya di luar sana.’
Anggun berdiri, “Ada pengaman ‘kan Kek?”
Kek Rusdi berdiri, tangan kanan berusaha meraih tubuh Anggun, “Sudah banyak stok di dalam sana. Mari masuk ke dalam tempat ritual sebelum para tamu yang lain datang,” ajak Kek Rusdi menuju sebuah kamar kecil.
.
.
💫💫Kamar💫💫
Terlihat Anggun sudah terbaring di atas ranjang tanpa sehelai benang pun. Dengan nafas menggebu-gebu melihat tubuh montok Anggun, Kek Rusdi melepaskan pakaiannya. Kini Kek Rusdi merangkak naik ke atas ranjang.
Anggun duduk, tangan kanannya menarik jenggot Kek Rusdi, membuat mereka saling menatap satu sama lain. Jari telunjuk tangan kiri Anggun perlahan bergerak bebas di seluruh tubuh mulai menua Kek Rusdi, “Apa Kakek masih bisa melakukan olahraga sepanas ini?”
“Tentu. Aku bukan Kakek biasa,” mulut panjang ingin nyosor ke bibir merah muda Anggun.
Anggun segera menahan bibir keriput dan kering milik Kek Rusdi, “Et…aku tidak ingin di cium. Karena ciuman bagiku tidaklah nikmat. Aku mau langsung ke intinya saja.”
Kek Rusdi segera menjatuhkan tubuh Anggun. Perlahan ia naik ke atas tubuh Anggun, menyesap salah satu semangkanya. Kemudian beralih ke titik sensitif milik Anggun. Setelah semua pemanasan cukup panas, Kek Rusdi memulai serangannya.
“AAduh…Kek,” di luar mulut Anggun. Sedangkan di dalam hatinya, ‘Pura-pura saja menikmati apa yang sedang di buatnya. Padahal miliknya sama sekali tidak merasakan getaran apa pun. Membuat geli saja tidak apa lagi hal lain.’
...Bersambung...
__ADS_1