SERAKAH

SERAKAH
Bab 30. AKAL YUSI


__ADS_3

"STOP!” teriak Rabbani mendekati trotoar jalan. Rabbani menerobos beberapa orang yang sedang mengeroyok Azzam, “Ada apa ini?”


“Siapa kamu?” tanya salah satu pria bertubuh besar, kulit hitam, dan berwajah sangar.


“Aku adiknya. Kalian siapa?”


“Oh!” pria tersebut langsung menggenggam erat kerah kaos oblong bagian depan milik Rabbani, membawa Rabbani ke hadapannya. “Karena kamu saudaranya, maka cepat bayar hutang-hutang bang*sat ini!”


“Hutang?” Rabbani melirik ke Azzam yang sedang tertunduk malu, tangan kanan sedang menyeka kasar darah di samping bibirnya. “Sejak kapan?”


Azzam berdiri, wajah yang di penuhi lebam biru tidak mampu menatap wajah Rabbani. Azzam berjalan mendekati pria berkulit hitam, melepas paksa genggaman tangan dari kerah kaos oblong Rabbani, “Lepaskan adikku. Ini tidak ada urusannya dengan dirinya.”


“Baiklah!” pria berkulit hitam melepaskan Rabbani dengan cara mendorong kuat Rabbani, membuat Rabbani terjatuh kebelakang.


“Auw!”


“Aku sudah bilang kalau urusan kita tidak ada hubungannya dengan saudraku!” Azzam melayangkan bogem mentah ke pria berkulit hitam yang lebih tinggi dari dirinya.


Bam!


“Cih!” pria berkulit hitam menyeka kasar darah yang keluar dari sudut bibir bagian bawah, “Berani sekali kamu!” pria berkulit hitam mengangkat kedua tangannya, seperti memberi kode kepada keempat anak buahnya.


“Hiaakkk!!!”


Melihat Rabbani yang akan menjadi tumbal oleh kesalahan Abang pertamanya, Yusi merasa tidak terima. Dia memang sudah menelpon pihak yang berwajib, tapi butuh waktu 30 menit untuk sampai ke tempat. Sedangkan Rabbani dan Azzam sedang di dalam masalah yang cukup pelik. Yusi akhirnya membuat rencana sendiri, meski rencananya seperti anak kecil, tapi setidaknya Yusi bisa mengulur waktu agar kedua Abangnya tidak berakhir tragis di tangan para pria yang jahat.


“Wiuw! Wiuw! Wiuw!” Yusi berlari dari sebrang jalan, mulutnya membunyikan alarm mobil pihak yang berwajib. Kedua kakinya terus berlari dan terhenti di jarak 10 langkah dari Azzam dan yang lainnya. Jari telunjuk tangan kanan mengarah kelima pria bertubuh besar yang sedang mengililingi kedua Abangnya. “Pak! Ini mereka adalah seorang pem-bunuh, cepat tangkap kelima pria jelek ini. Buat mereka membu-suk di penjara.”


“Hei, bocah ingusan!” salah satu anak buah dari pria berkulit hitam mendekati Yusi, kedua mata menatap Yusi dari atas sampai bawah, “Lumayan juga!” tangan kanan mengelus dagu kasar yang ditumbuhi bulu halus.


Yusi perlahan berjongkok, tangan kanan berusaha menggenggam pasir dan beberapa batu kerikil halus yang terdapat di atas trotoar jalan. Setelah menggenggam pasir dan sedikit batu kerikil halus, Yusi kembali berdiri, tangan kanan melayang ke depan, “Lumayan jidat mu.” Yusi melemparkan pasir dan butiran kerikil tepat ke wajah.


“Ah ah! Dasar kamu bocah ja*lang!” keluh pria tersebut, kedua tangan mengucek kedua mata yang terkena butiran pasir.

__ADS_1


“Ha ha, lihat! Sama bocah ingusan saja dirinya bisa kalah.”


Rencana Yusi untuk mencari perhatian dan mengulur waktu akhirnya berhasil. Rabbani dan Azzam sudah kabur diam-diam dari sekeliling pria bertubuh besar dan tinggi. Kelima pria tersebut kelabakan, melihat Azzam dan Rabbani sudah masuk ke dalam mobil, sedangkan Yusi sudah berlari menyebrangi trotoar jalan menuju mobil Rabbani yang sedang terparkir.


“Punya kedua Abang tidak tahu diri, sudah di bantuin malah meninggalkan aku sendirian di sebrang sana. Tahu gitu aku biarkan saja kalian ma-ti meleleh di tangan mereka semua!” teriak Yusi sambil masuk ke dalam mobil.


“Kejar mereka cepat!” perintah pria bertubuh besar dan tinggi, dan berkulit hitam.


Wiuw! Wiuw!


Saat keempat anak buah ingin menyebrang jalan, datang dua mobil polisi. Melihat mobil pihak yang berwajib sudah terhenti di dekat mereka, pria berkulit hitam kabur duluan, meninggalkan keempat anak buahnya.


“Bos, bos!”


“Kita tidak kenal!”


Melihat pria berkulit hitam kabur seperti seorang pecu*ndang, Yusi yang sudah masuk ke dalam mobil mero*bek sedikit rok bagian sekolahnya. “Enak saja kabur kabur begitu saja!”


“Dek!”


“Tampar aku bang!”


“Jangan gila kamu!”


“Cepat, Yusi tidak ingin melihat pria hitam seperti buah salah itu kabur begitu saja.”


Plaak!!


“Sudah puas?”


Rabbani tercengang, begitu juga dengan Yusi saat mendapat tamparan mendadak dari Azzam yang sedang duduk di bangku kursi penumpang bagian belakang.


“Gak guna!” Yusi keluar dari dalam mobil, kedua tangannya melambai ke pihak yang berwajib yang sedang menahan keempat anak buah dari pria berkulit hitam, “Pak! Saya tadi yang menelpon Bapak-bapak.” Tangan kiri Yusi mengarah ke sisi jalan sebelah kiri, “Pria hitam itu tadi telah melecehkan saya Pak. Tolong tangkap dia.”

__ADS_1


Salah satu pihak yang berwajib menyebrang jalan, kedua kakinya terhenti di samping Yusi. Tatapan serius melihat Yusi dari atas sampai bawah, “Pria tersebut sedang dikejar sama petugas lain. Apa pria itu sudah melakukan sesuatu kepada adik?”


“Iya, benar Pak!” jari telunjuk tangan kanan mengarah ke mobil yang tak jauh dari tempat Yusi dan pihak yang berwajib tersebut berdiri, “Kedua Abang saya juga menjadi korbannya.”


“Kalau begitu, silahkan ikut kita ke kantor polisi. Saya butuh keterangan yang pasti atas pengaduan Anda!”


“Baik!”


.


.


✨✨ 2 jam kemudian ✨✨


Rabbani, Yusi dan Azzam, kembali menuju kafe dimana Azzam memarkirkan mobil miliknya.


Sepanjang perjalanan Yusi mengelus pipinya yang masih memerah, “Akh! Sakitnya masih terasa.”


“Lain kali jangan berbuat seperti ini, ya?”


“Dia sudah biasa seperti ini, jadi kamu tidak perlu kawatir Bani.”


“Bukannya berterimakasih!” Yusi memutar sedikit posisi duduknya ke belakang, wajah suram menatap wajah Azzam yang terlihat kacau, “Sampai kapan Abang terus menyusahkan kami? Lihat, karena Yusi berkata seperti itu kepada pihak yang berwajib, hutang Abang jadi lunas. Jika Yusi tidak berpura-pura dile-cehkan kepada Pak Polisi mungkin Abang juga akan masuk ke dalam sel bersama dengan mereka semua.” Yusi kembali duduk, kedua tangan dilipat di depan dada, wajah ia palingkan ke jendela mobil, “Abang Azzam memang sungguh Abang yang tidak bisa di andalkan!”


“Maaf!”


“Sudah-sudah, kenapa jadi berantem seperti ini?” Rabbani membelai lembut puncak kepala Yusi, “Terimakasih adik kecilku yang baik. Kamu memang adik yang paling pengertian.”


“Jangan elus rambut Yusi!” Yusi menepis tangan Rabbani, wajahnya memerah menaham malu karena masih di anggap anak kecil.


“He he, baik-baik!”


Yusi menyandarkan tubuhnya di badan kursi, wajah masih ia palingkan ke arah jendela mobil. ‘Mustahil aku melakukan ini semua demi kalian berdua. Pertama aku lakukan ini karena aku tidak ingin abang Rabbani terluka, dan kepergian ke Jakarta jadi terhambat. Kedua, aku melakukan semua ini karena aku tahu akal busuknya Abang Azzam. Dirinya masih belum pernah berubah, terus bermain judi, dan yang lainnya sampai memiliki hutang banyak yang tidak bisa di tutupinya. Untung Ayah sudah aku habisi terlebih dahulu, jika Ayah masih ada di dunia ini, maka aku rasa seluruh harta Ayah pasti akan habis di tangan Abang Azzam. Dasar manusia SERAKAH.’

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2