SERAKAH

SERAKAH
BAB 62. Menjelang Pernikahan.


__ADS_3

💫💫 PUKUL 08:30 PAGI 💫💫


Hari ini adalah hari di mana semua wanita mendambakannya, dimana seorang wanita di lamar dan menikah dengan seorang pria impiannya.


Pagi ini Clara sudah berdandan cukup cantik, baju kebaya putih susu melekat di kulit sawo matang. Bulu mata lentik, serta bibir berwarna merah muda menambah kesan anggun. Clara sedang duduk di depan cermin rias, senyum kaku sesekali mengembang di wajahnya. Seolah dirinya tidak percaya jika hari ini adalah hari pernikahannya. Satu hari tak mungkin bisa terwujud, pikiran itulah pernah terbesit di dalam hatinya saat mengingat semua dosa-dosanya. Namun, ada satu pria terus mendesaknya, dan terus meyakinkan kepadanya untuk menerima sebuah lamaran tulus. Lamaran pernikahan dari seorang pria, yaitu Rabbani.


Tok!! Tok!!!!


Ketukan pintu halus memecahkan pikiran Clara.


"Nona, saya di suruh menjemput Anda untuk turun ke bawah karena tuan Kadi sudah datang," ucap seorang wanita muda berdiri di depan pintu.


"Baik," sahut Clara beranjak pergi mengikuti wanita muda tersebut.


Clara terus melangkah menuruni anak tangga. Kepala terus menunduk malu saat semua mata tamu undangan, beserta semua karyawan menatap kedatangannya.


'Kenapa aku sangat gugup. Ya Allah, pantaskah aku mendapatkan pria yang baik atas semua dosa-dosa yang pernah aku lakukan?'


"Nona, silahkan duduk di sebelah tuan Rabbani," ucap wanita muda memecah pikiran Clara, dan mengarahkan tangannya ke kursi kosong sebelah Rabbani.


"Terimakasih," ucap Clara kepada wanita muda.


"Kamu sangat cantik. Baju ini memang pantas kamu pakai," puji Rabbani berbisik.


"Ehm" dehem Pak penghulu, tangan kanan mengulur, kedua bola mata melirik ke Rabbani dan juga Clara sedang tertunduk malu, "Sudah tidak sabar? wes lah, cepat terima jabat tangan saya!" gurau Pak penghulu menggerakkan jari-jemarinya, "Ayo cepat!" gurau Pak penghulu sekali lagi.


"Kok tahu! menguping ya?" sahut Rabbani ikut bergurau.


"Sudah hafal!" ucap Pak penghulu membesarkan kedua matanya.


"Haha" tawa renyah terdengar cukup meriah untuk sesaat.


Rabbani segera menerima uluran tangan Pak penghulu, semua karyawan seketika terdiam karena momen sakral akan segera di mulai.


Pak penghulu menggenggam erat tangan kanan Rabbani. Kedua bola mata melirik ke Rabbani dan juga Clara, "Saya nikah dan kawinkan Clara bin Surya dengan mas kawin sebuah Vila di Bandung dan juga toko yang ada di kota Bandung secara resmi."


"Saya terima nikah dan kawinnya Clara bin Surya dengan mas kawin sebuah Vila di Bandung dan juga toko yang berada di kota Bandung secara resmi!" sahut Rabbani mengucap janji.


"SAH!" seru Pak penghulu ke semua karyawan toko.

__ADS_1


"Sahh....."


"Sah-sah!"


Teriakan sebuah kata 'SAH' memenuhi ruang tamu. Doa juga ikut dipanjatkan untuk pernikahan Rabbani dan juga Clara.


Setelah selesai berdoa, Pak penghulu berdiri. Kedua mata penuh maksud melirik Clara dan juga Rabbani, "Saya pamit pergi dulu ya! karena ada tiga orang lagi yang akan saya nikahkan. Kalau saya belum datang entar kasihan lakiknya!" gurau Pak penghulu memecah kemeriahan.


"Terimakasih Pak!" ucap Rabbani mengulurkan tangan kanannya.


"Sama-sama, tapi kalian berdua harus ingat. Karena proses menikah itu sulit, dan mendapatkan jalan menuju pernikahan dipenuhi rintangan. Jangan pernah sekali-kali mengucap kata pisah hanya untuk sekali kesalahan. Harus diingat itu. Saya permisi sekali lagi," ucap Pak penghulu berlari kecil keluar ruangan tamu.


Rabbani menarik tubuh Clara dan merangkulnya, "Itu pasti tidak akan terjadi Pak!" ucap Rabbani melirik ke Clara.


"Apaan sih, malu tahu!" sahut Clara menyikut perut bagian samping Rabbani.


"Kalau kamu terus malu seperti ini, aku jadi semakin...."


"Kami masih ada di sini loh Tuan..." teriak para karyawan dari semua usaha miliknya datang memenuhi undangan dan juga sebuah tiket gratis dan sebuah kamar Hotel sudah di pesan khusus untuk hari spesial ini dan untuk beberapa 2 hari ke depan.


Kenapa tidak ada tamu undangan dan rekan bisnis lainnya datang? karena Rabbani tidak mengundangnya. Rabbani ingin momen spesial ini hanya dinikmati secara khusus untuk orang-orang tertentu tanpa ada hujatan dari orang lain. Hujatan dari mulut manusia menganggap dirinya Malaikat, dan selalu menganggap rendah Clara.


Karena sedikit tegang dan panik, Clara sampai kebelet pipis. Clara mengarahkan tangannya ke atas, "Aku ke atas dulu ya, soalnya kebelet pipis," bisik Clara.


"Aku temani ya!"


"Jangan.."


"Cie...cie..pipis aja mau ditemani. Kalau gitu kami pulang saja lah," sambung karyawan pria pertama memegang kedua tangan karyawan lainnya.


"Kalian ini lucu banget sih!" ucap Clara.


"Sudah sana pergi," ucap Rabbani mendorong tubuh bagian belakang Clara pelan.


Kedua kaki Clara terus melangkah menaiki tangga. Dahi Clara mengerut saat melihat pintu kamar sedikit terbuka. Clara mempercepat langkah kakinya menuju kamar. Tangan kanan membuka penuh pintu, "Siapa di dalam?" tanya Clara, kedua bola mata menatap liar ke sekeliling dalam kamar pengantin. Karena tidak ada jawaban, Clara melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi.


Baru saja masuk kamar mandi, keluar pria memakai baju batik coklat dari dalam lemari pakaian milik Clara. Senyum tipis di balik masker. Pria itu melangkah cepat mendekati pintu, dan mengunci pintu kamar dari dalam.


"Siapa kamu?" tanya Clara berdiri di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Siapa saya itu tidak penting. Yang terpenting itu adalah waktunya untuk memisahkan kamu dengan Rabbani!" ucap pria tersebut membuat bulu kuduk merinding.


"Silahkan pergi dari kamarku!" tegas Clara sedikit meninggikan nada suaranya.


"Uang muka sudah habis, tinggal tugas harus selesai dikerjakan," ucap pria tersebut melangkah cepat mendekati Clara.


Clara menjinjing rok batik miliknya, kedua kaki berlari melewati pria tersebut, "Tolong .. siapa pun di luar sana tolong aku!" teriak Clara berusaha berlari menuju pintu.


Grepp!!!


"Mau ke mana kamu!" ucap pria tersebut menahan bahu bagian belakang Clara.


"Lepaskan!" tepis Clara.


"Jangan berteriak agar aku tidak menyakiti kamu!" ucap pria tersebut langsung menggendong tubuh Clara dan membawanya menuju ranjang di mana seharusnya hanya Rabbani dan Clara saja tidur di atasnya.


Plaaakk!!


Satu tamparan keras melayang.


"Berani sekali kamu melakukan itu kepadaku!" ucap pria tersebut meninggikan nada suaranya. Tangan kanan dengan ramah menggenggam baju kebaya bagian depan dan menariknya.


Kreekk!!


Baju kebaya bagian depan robek, dan terlihat jelas dua penutup gunung kembar berenda ungu.


"Lumayan besar juga," pria tersebut mendekatkan wajahnya.


"Aku mohon jangan lakukan!" ucap Clara memohon belas kasih kepada pria tersebut agar tidak melakukan hal itu di hari pengantinnya.


.


✨✨Di sisi lain✨✨


Hati Rabbani tiba-tiba merasa gelisah. Pikirannya terus teringat dengan Clara tak kunjung turun. Rabbani menatap semua karyawannya, "Aku ke atas dulu," ucap Rabbani melangkahkan kedua kakinya menaiki anak tangga.


Karena hati terus merasa gelisah Rabbani mempercepat langkah kakinya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2