SERAKAH

SERAKAH
BAB 75. Arwah Clara


__ADS_3

Setelah kejadian mengerikan, Anggun kini dirawat di rumah sakit, ruangan VIP. Anggun harus menanggung perih atas perbuatan makhluk suruhan Rashi, bernama Jiji. Dengan mendapat 5 jahi-tan dalam dan luar. Semua Rashi lakukan untuk menyingkirkan Anggun sebagai saingan merebutkan Rabbani dan harta Rabbani.


Rashi memang tak tanggung-tanggung. Tidak ingin langsung mengakhiri hidup Anggun, tapi Rashi malah membuat hidup Anggun seperti ingin tiada akhir.


Semoga kita dijauhkan dari manusia-manusia memiliki sikap SERAKAH, iri dan dengki. Dan jauhkanlah sikap itu dari hati kita, agar kita bisa hidup damai, dan tenang. Amin.


Bheni duduk di samping ranjang, wajahnya terlihat suram saat melihat Anggun mendapat perlakuan tidak baik seperti ini. Bheni terus menggenggam erat tangan Anggun, “Siapa yang melakukan hal ini kepada nona?”


“Aku sangat yakin jika ini semua ulah Rashi,” sahut Anggun.


“Siapa Rashi?”


“Dia adalah wanita yang ingin merebut Rabbani dari hidupku.”


Bheni melepaskan genggaman tangannya. Hatinya mendadak panas saat mendengar nama Rabbani selalu tak luput dari incaran Anggun. Bukannya selalu sukses demi mencapai tujuan, Anggun malah lebih banyak berkorban dan sering menyakiti dirinya sendiri. Semua itu demi harta milik Rabbani. Bukan karena cinta.


“Kamu kenapa?” tanya Anggun.


“Saya akan membalas perbuatan Rashi,” sahut Bheni serius.


“Emang kamu tahu rumahnya di mana?” tanya Anggun.


Bheni menggeleng.


“Sudah kamu tenang saja. Lagian aku akan baik-baik saja, hanya butuh 3 kali perawatan lagi agar milikku kembali sempurna.”


Bheni meletakkan dahinya di punggung tangan Anggun, “Apa nona tidak mencemaskan saya. Apa jadinya kalau saya hidup tanpa nona!” ucap Bheni sendu.


“Ingat! kamu hanya pesuruh ku, dan pelampia-sanku. Jadi kamu tidak perlu kawatir seperti ini,” tegas Anggun tak ingin melihat Bheni bersedih.


“Kalau aku menginginkan hal lebih?” tanya Bheni serius.

__ADS_1


“Maka kamu adalah manusia tidak tahu diri.”


“Kenapa saya menjadi manusia tidak tahu diri. Bukannya Anda yang selalu memberikan hal lebih kepada saya. Dan Anda juga yang selalu meminta hal itu duluan kepada saya. Jadi, kenapa saya tidak bisa menjadi kekasih atau Suami nona?”


“Hubu-ngan panas ini ibarat barang har-am. Semakin banyak kamu memakainya, maka kamu akan mendapatkan kenikmatan yang berbeda. Kamu harus camkan ini! aku bukanlah tuan yang baik. Aku adalah tuan yang buruk buat kamu, kenapa bisa seperti itu. Karena kamu hanya pelampia-sanku saja. Jika pun kita menikah, aku tidak jamin akan setia sama kamu. Karena sasaran hidupku adalah harta, uang, dan kejayaan orang lain yang harus aku rebut. Tanpa itu aku rasa, aku tidak bisa bernafas lega di dunia ini,” ucap Anggun santai.


“Berhentilah nona. Semua perbuatan itu akan merugikan nona sendiri. Apa nona tidak sayang kepada diri sendiri. Wajah bagus, tubuh indah dan harta lainnya yang sudah Anda miliki saya rasa itu sudah lebih dari cukup sekarang. Nona, mari hidup lurus dan berhentilah mengejar apa yang tidak bisa nona gapai,” sahut Bheni sedikit menasehati dan kuatir.


Anggun merasa jengkel mendengar ucapan Bheni. Anggun mengambil Vas dan melayang-kannya ke dahi kiri Bheni.


Bam!


“Akh, kenapa nona melakukan ini kepada saya?”


“Pasti sakit ‘kan?” tanya Anggun.


“Kalau luka yang mengeluarkan darah sudah pasti sakit. Tapi kenapa nona melakukan ini kepada saya?”


“Maksudnya sama saja gimana?” sela Bheni.


“Kamu pikir aku tidak tahu jika kamu melakukan semua ini karena kamu juga mengincar hartaku. Nggak usah mengelak kamu Bheni!” ucap Anggun menekan nada suaranya.


“Iya, dulu saya memang mengincar harta milik nona. Tapi melihat nona sering terluka dan mengobrankan diri demi sebuah harta. Saya menjadi kasihan dengan diri Anda,” sahut Bheni datar.


“Hanya manusia lemah yang mengasihi manusia lainnya. Dan aku tidak butuh rasa kasihan itu dari kamu. Dan aku tidak ingin kamu memiliki rasa kasihan kepada ku. Apa kamu mengerti!”


Karena darah mulai menetes ke baju kemeja, Bheni segera berdiri, “Maaf, saya tidak bisa seperti itu,” Bheni menundukkan sedikit tubuhnya, “Saya permisi untuk mengobati luka ini,” ucap Bheni. Bheni pun melangkah pergi meninggalkan ruang rawat Anggun, menuju ruang perawatan medis lainnya untuk mengobati luka.


Anggun memiringkan tubuhnya, kedua mata menatap lurus ke jendela terhubung dengan dunia luar. Air mata Anggun perlahan menetes membasahi bantal, saat mengingat kejadian itu.


“Gimana rasanya?” tanya seorang wanita dari belakang.

__ADS_1


Anggun membulatkan kedua bola matanya saat mendengar suara cukup familiar. Perlahan Anggun melirik ke belakang. Setelah melihat suara itu adalah suara Clara, Anggun perlahan menarik selimut menutupi wajahnya.


“Apa kamu ingin melihat bayiku?” tanya arwah Clara dari dalam selimut.


Anggun kembali melirik kebelakang. Kedua bola matanya membulat penuh, tubuhnya terasa kaku saat melihat arwah Clara sudah duduk di dalam selimut bersamanya, kedua tangan seperti sedang menggendong kain putih kotor berbentuk pocong.


Arwah Clara mengulurkan kedua tangan memegang kain putih kotor berbentuk pocong ke depan, “Apa kamu mendengar suara tangisan merdu dari anakku?”


Tubuh Anggun mendadak berat, keringat dingin terus mengalir di seluruh tubuhnya. Ingin berteriak kuat, tapi mulutnya seperti terkunci rapat. Anggun hanya bisa menahan ketakutannya dengan meringkuk, dan memejamkan kedua matanya.


‘Bukannya ini sudah lewat berapa hari setelah kematian Clara. Kenapa arwah Clara hanya mendatangi aku! mana seram banget bentuk wajahnya, dan kain pocong kecil di dalam genggaman tangannya itu adalah gumpalan daging dipenuhi belatung. Mana baunya sangat menusuk kepala. Ayo lah suara, keluarlah kamu. Aku mohon menjerit lah untuk meminta bantuan orang lain.’


“Hiks… hikss.. hikss.. hiks..” tiba-tiba terdengar suara tangis arwah Clara dari dalam selimut.


‘Kenapa arwahnya bisa menangis? Mana tangisannya buat bulu kudukku merinding dan aku semakin takut. Ya ampun…rasanya aku ingin pipis di celana saja.’


Tangisan arwah Clara terhenti. Bau busuk cukup menyengat dari dalam selimut sudah menghilang. Tubuh Anggun dan mulut seperti terkunci kini perlahan bisa di gerakkan. Anggun segera menyingkap selimutnya, bola mata liar menatap ruang rawat inapnya, “Dimana kamu setan?”


Wuuusshhh!!!!


Sekelebat angin kencang lewat di depan ranjang Anggun.


“Jangan beraninya menghilang tanpa kepastian. Sini tunjukkan di mana wajah kamu, dan katakan apa maksud dari tujuan kamu mendatangi aku!” ucap Anggun meninggikan nada suaranya.


Arwah Clara langsung berdiri tepat di samping ranjang Anggun. Wajah arwah Clara juga sangat dekat dengan wajah Anggun, membuat hembusan nafas berbau bangkai tercium begitu menyengat.


Anggun melirik perlahan, kedua bola mata Anggun membulat sempurna saat mereka saling tatap. Nafas Anggun langsung terhenti saat mencium bau busuk menyengat menebus mulai dari hidung hingga ke kepala.


“Aghhh!!aghh!!” hanya kalimat itu keluar dari mulut Anggun.


“Kamu adalah wanita Iblis. Sudah menghabisi ku, kamu juga menghabisi nyawa bayi dalam kandunganku. Kamu juga sudah tidur dengan Suamiku!” arwah Clara mengulurkan kedua tangannya. Namun, saat kedua tangan itu hendak menyentuh jenjang leher Anggun. Pintu kamar terbuka. Arwah Clara pun segera menghilang.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2