SERAKAH

SERAKAH
BAB 59. Kembali melamar


__ADS_3

Pesawat di tumpangi Rabbani dan juga Clara sudah mendarat tepat di Bandara internasional Soekarno-Hatta.


Clara merentangkan kedua tangannya, "Akhirnya sampai juga," Clara mengelus dadanya, "Tadi pesawatnya sangat mengerikan. Untung saja jantungku tidak copot," keluh Clara mengingat saat pesawat terguncang karena terkena awan.


Rabbani menggeleng, "Sudah puas?"


Clara mengangguk. Tangan kanan mengambil koper, lirikan manis tertuju buat Rabbani, "Mari kita pulang," ajak Clara berjalan terlebih dahulu.


Rabbani tersenyum manis melihat sifat Clara sekarang sedikit lebih terbuka. Rabbani juga merasa senang saat melihat Clara sudah kembali ceria setelah semua kejadian buruk terjadi kepadanya di Yunani.


Kedua kaki Rabbani dan Clara terhenti tepat di parkiran. Rabbani menunggu taksi online pesanannya, belum juga datang.


Clara menatap sekeliling parkiran, "Kita sedang menunggu siapa?"


"Menurut kamu!" sahut Rabbani sedikit kesal.


"Maaf, jangan marah!" ucap Clara menunjukkan wajah permohonan begitu tulus.


Tin!


Mobil Mobilio berwarna merah berhenti di depan Rabbani dan juga Clara.


"Sepertinya itu mobil kita," tunjuk Rabbani ke depan.


Seorang pria turun dari mobil, menyusun koper milik Rabbani dan juga Clara di bagasi. Pria itu juga menundukkan sedikit tubuhnya ke Rabbani, "Maafkan atas keterlambatan saya. Tadi Istri saya mendadak kontraksi dan harus dilarikan ke rumah sakit. Jika Anda ingin memberi ranting buruk tidak apa-apa. Asal jangan di cancel, karena aku butuh uang buat biaya rumah sakit Istriku," ucap pria tersebut.


"Tidak masalah. Aku juga tidak akan marah padamu..." Rabbani melirik ke Clara, "Jika nanti aku punya Istri, aku juga pasti akan mementingkan dirinya daripada hal lain."

__ADS_1


"Lah...kok lihatnya ke aku?" tanya Clara menunjuk dirinya sendiri.


"Nanti aku jelaskan," Rabbani mengarahkan tangan kanannya ke dalam, " Cepat masuk. Aku ingin segera istirahat di rumah."


Clara segera masuk.


Mobil terus melaju. Karena lewat jalur tol dan juga jalan tikus, 1 jam kemudian mobil ditumpangi Rabbani dan juga Clara sudah sampai di depan gerbang rumah Rabbani.


Setelah semua barang diturunin dan sudah memberi lebih jumlah pembayaran. Rabbani dan Clara melangkahkan kedua kakinya berjalan memasuki gerbang.


Rabbani dan Clara juga sudah masuk ke dalam rumah.


Rabbani mengarahkan tangan kanannya ke lantai dua, " Aku naik dulu. Kamu jangan lupa kunci pintu saat kamu mau tidur atau melakukan kegiatan apa pun. Dan satu lagi, jangan terima tamu dari kalangan apa pun, karena aku benar-benar ingin istirahat untuk satu hari ini," ucap Rabbani memberi pesan kepada Clara, karena tubuh Rabbani terasa sangat lelah dan sepertinya sedikit panas.


"Baik," tangan kanan mengarah lurus ke depan, "Aku juga pamit ke kamar dulu," sahut Clara ikut melangkahkan kedua kakinya menuju kamar terletak di bawa anak tangga.


Awalnya kedua kaki Rabbani melangkah dengan santai menaiki anak tangga. Tapi pikirannya tiba-tiba teringat dengan kejadian di Yunani, sewaktu Clara di tinggal sendiri saat Rabbani ingin membeli makanan. Rabbani berbalik badan, kedua kakinya ia ajak kembali menuruni anak tangga dan berlari menuju kamar Clara.


Rabbani langsung membuka pintu kamar Clara tanpa mengetuk. Terlihat Clara sedang berdiri dengan tubuh polos di depan lemari pakaian.


"Ada apa ini?" tanya Clara panik. Kedua tangan langsung cepat-cepat memakai daster. Bukannya memakai baju daster yang benar, Clara malah memakai baju daster terbalik. Karena belum memakai penutup dalam, dua Cherry terlihat jelas menonjol.


Bukannya pergi, Rabbani malah berjalan mendekati Clara. Tanpa berbicara sepatah katapun, Rabbani menggenggam tangan kanan Clara dan membawanya pergi meninggalkan kamar Clara.


"A-anda kenapa membawa aku menuju kamar Anda?" tanya Clara panik, kedua kaki terus mengikuti langkah kaki Rabbani.


"Jangan buat aku tidak bisa tidur nyenyak," sahut Rabbani datar. Kedua kaki berhenti tepat di depan pintu kamar, membuka pintu dan membawa Clara ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak bisa membuat tidur Anda dengan nyenyak? bukannya aku juga akan beristirahat di dalam kamarku!" sahut Clara bingung.


Rabbani berjalan langsung menggendong Clara, "Kamu sangat cerewet. Tinggal nurut, kenapa susah sekali," ucap Rabbani meletakkan tubuh Clara dengan lembut di ranjang.


"Tapi aku tidak ingin tidur di sini. Aku ingin ke kamar," sahut Clara segera bangkit. Namun Rabbani dengan cepat menarik tubuh Clara dan membawanya kembali berbaring.


Tidak ingin melihat Clara kabur, Rabbani ikut berbaring dan memeluk tubuh Clara. Kaki Clara juga dijepit dengan kedua kakinya. Rabbani juga menutup kedua mata Clara agar tidak terlalu bising, "Aku trauma. Banyak trauma yang harus aku lupakan. Jadi aku minta kamu tetaplah di sisiku," ucap Rabbani tegas. Trauma, Rabbani juga masih memiliki trauma mendalam atas perbuatan kedua mendiang saudaranya. Makanya Rabbani sekarang lebih waspada dan cepat tanggap kepada orang ia temui dan memiliki gerak-gerik seperti sikap kedua mendiang saudaranya.


Clara perlahan menurunkan tangan Rabbani dari wajahnya. Lirikan penuh tanya menatap wajah Rabbani sudah tertidur. 'Aku tidak menyangka jika Rabbani memiliki trauma mendalam. Sungguh kasihan pria malang ini. Agar tidurnya nyenyak, aku harus ikut tertidur juga.' Clara ikut memejamkan kedua matanya, dan tertidur pulas dalam pelukan Rabbani. Lengan kekar menjadi bantalnya.


Baru saja tertidur Clara tiba-tiba mengigau. Keringat dingin, kedua tangan dan kedua kaki menghalau ke depan.


"Tolong jangan lakukan itu padaku. To...tolong jangan lakukan. Ja...jangan paksa aku. Aku mohon jangan lakukan itu...kamu juga berbohong jika semua ini bukan rencana Rabbani. A...aku mohon jangan lakukan itu kepadaku."


Mendengar rengekan Clara, Rabbani langsung bangun. Tangan kanan memukul pelan pipi Clara, "Clara...bangun. Apa kamu mimpi buruk? Clara....bangun Clara. Aku, Rabbani dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah melakukan hal buruk kepada kamu. Bangun Clara," ucap Rabbani berulangkali dengan lembut membangunkan Clara.


Perlahan Clara membuka kedua kelopak matanya. Clara spontan duduk dan memeluk Rabbani, "Hiks" tangisan Clara pecah di dalam pelukan Rabbani. Kedua tangan memeluk erat tubuh Rabbani, "Pria itu tiba-tiba datang dalam mimpiku. Dia juga berkata semua itu adalah suruhan Anda. A-aku sangat takut. Ta...tangan kasar itu...hiks!"


Rabbani mengepal kedua tangannya, dahinya mengerut saat mengingat kembali wajah ketakutan Clara saat pria misterius melakukan perbuatan buruk kepada Clara. Rabbani menghela nafas ringan, tangan kanannya membelai rambut bagian belakang Clara, "Kamu tarik nafas dulu. Cobalah melupakan itu semua. Ingat ada aku yang akan selalu berada di dekat kamu. Dan kamu juga harus mengingat pesanku, seorang Rabbani tidak akan pernah ingin berbagi wanitanya dengan orang lain. Aku juga akan segera menikahi kamu. Aku serius!" tegas Rabbani di kalimat terakhir.


Clara langsung melepaskan pelukannya, "Aku terlalu hina untukmu!"


"Tapi kamu juga terlalu berharga buat di rendahkan oleh manusia tidak bertanggung jawab."


"Tapi aku tetap tidak pantas untukmu," sahut Clara membuang wajahnya.


Rabbani memegang wajah Clara, membuat mereka saling bertatap muka, "Jangan menolak lamaran baikku. Aku sangat serius," ucap Rabbani tulus.

__ADS_1


Clara mengangguk.


Bersambung


__ADS_2