SERAKAH

SERAKAH
BAB 32. RENCANA BARU


__ADS_3

✨✨Di kediaman rumah Rabbani✨✨


“Inilah rumah Abang,” ucap Rabbani memberitahu Yusi jika rumah klasik dengan cat kream, dan pintu gerbang berwarna hitam yang ada dihadapan mereka adalah rumah Rabbani.


“Wah” Yusi memalingkan wajahnya ke sisi kiri, “Ini beneran rumah Abang?”


Saat kaki kanan Rabbani melangkah mendekati pagar hitam, pintu gerbang terbuka secara otomatis. “Mari masuk!” ajak Rabbani kepada Yusi.


Yusi dan Rabbani berjalan masuk, terlihat halaman yang begitu luas dengan beberapa pohon yang rindang. Yusi dan Rabbani terus berjalan menaiki anak tangga teras rumah, dan terhenti di depan pintu dengan ukiran kuno. Saat pintu terbuka lebar, kedua mata Yusi membulat sempurna saat melihat isi dalam rumah milik Rabbani.


‘Rumah yang sangat bagus. Berarti jumlah kekayaan Abang Rabbani melebihi kekayaan mendiang Ayah dan juga Abang Azzam. Ini baru hasil kekayaan miliknya sendiri, belum lagi di tambah harta warisan yang diberikan oleh mendiang Ayah. Jika aku merebut sedikit pasti tidak masalah, Abang Rabbani ‘kan sangat menyayangiku. Kalau rencanaku tidak berhasil, maka aku akan membuat Abang Rabbani menjadi seperti Ayah. Berarti ini adalah misi keduaku.’


Pikiran Yusi kembali menjadi SERAKAH, tidak puas dengan apa yang ia peroleh. Melihat Rabbani memiliki rumah bagus, dan hampir semua pajangan yang ada di dalam rumah berjumlah Miliaran rupiah atau bisa jadi trliunan, Yusi kembali merencanakan sesuatu untuk merebut hak milik Rabbani. Belum lagi hilang teror dari mendiang Deni, Yusi kembali beraksi saat melihat kesempatan ada di depan mata. Sifat SERAKAH memang tidak bisa dikuasa. Seperti benalu, saat benalu menemukan inang baru.


Melihat Yusi berdiri sambil melamun, Rabbani melambaikan tangan kanannya, “Dek! Dek Yusi, kamu kenapa melamun?”


Lamuyan Yusi langsung terhenti, kini bibir merah muda yang mungil tersenyum manis, tangan kanan mengambil koper yang ada di sisi kiri Rabbani. “Kamar Yusi di mana Bang?” tanya Yusi mengalihkan percakapan.


“Di atas, kamar kamu bersebelahan dengan kabar Abang,” Rabbani mengambil koper milik Yusi, “Biar Abang saja yang membawa koper kamu!”


“Ti-tidak perlu repot-repot Bang. Yusi bisa sendiri,” sahut Yusi mengambil kembali koper miliknya dari tangan Rabbani.


“Baiklah. Kalau begitu mari kita ke atas,” ajak Rabbani mengarahkan tangan kanan ke lantai dua.


Yusi mengikuti langkah kaki Rabbani yang ada di hadapannya, senyum manis selalu ia tampilkan saat melihat punggung tegap Rabbani, bersama dengan rencana aneh yang melintas di pikirannya.


‘Andai Abang Rabbani bukan Abang kandungku. Mungkin aku akan membuat rencana seperti aku menikahi dirinya, perlahan-lahan merebut semua apa yang ia punya, kemudian masuk ke intinya. Menghabisi nyawanya dalam sekali teguk minuman manis yang aku buat sendiri.’

__ADS_1


Karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri, Yusi sampai tidak mengetahui jika Rabbani sudah berhenti di depannya. Membuat dahi Yusi kepentok bidang punggung Rabbani.


Bam!


“Auw!”


“Apa kamu menyesal ikut tinggal bersama dengan Abang? Jika kamu tidak ingin tinggal bersama Abang, kamu bisa kembali dan berkuliah di dekat rumah Ibu!” ucap Rabbani, tangan kanan mengelus pelan dahi Yusi ang kepentok.


Yusi menarik tubuhnya, kedua tangan melambai, “Yusi hanya kelelahan saja Bang. Yusi sudah membulatkan tekad tetap ingin kuliah di sini, agar Yusi bisa mendapatkan wawasan dan teman yang baru di sini!” sahut Yusi berbohong. Alasan dirinya ingin berkuliah di Jakarta hanya untuk menjauh dari Andra dan teror hantu yang sering menghantui dirinya. Tapi setelah melihat rumah Rabbani sebagus dan semewah ini, Yusi malah tertarik untuk menguasi harta Rabbani.


Rabbani membuka pintu kamar, “Silahkan istirahat di dalam,” Rabbani mengarahkan tangan kanannya ke bawah, “Abang akan membuat makanan ringan buat kamu.”


“Baik.”


Setelah Rabbani keluar dari dalam kamarnya, Yusi segera berlari menuju ranjang besar yang empuk. Yusi menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi telentang, kedua tangan terbang luas selebar ranjang, kedua mata menatap langit-langit kamar.


“Dunia ini sungguh indah. Aku tidak menyangka jika orang terdekatku memiliki harta yang sangat banyak seperti ini. Jika aku memilikinya, mungkin seumur hidupku akau tidak perlu bersusah payah mengurus apa pun.”


.


.


Azzam yang terbaring lemah di atas ranjang menatap langit-langit kamar, kedua tangan di lipat di bawah jenjang leher bagian belakang. “Jika aku terus hidup seperti ini, maka nyawaku tidak akan selamat. Aku harus merencanakan sesuatu agar aku bisa terbebas dari hutang-hutangku!” Azzam duduk, otak kecilnya teringat dengan ucapan Yusi tempo hari di via telpon. Yusi mengatakan jika dirinya akan ikut pergi bersama dengan Rabbani ke Jakarta. Azzam langsung turun dari ranjang, “Ibu!” ucapnya mengingat Laras.


Azzam melangkahkan kedua kakinya meninggalkan kamar, Azzam terus melangkah dan melangkah hingga dirinya memasuki garasi mobil. Azzam melajukan mobilnya meninggalkan kediaman rumahnya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Laras, Azzam mulai menggerutu sendirian, “Ini kesempatan bagus buat merayu Ibu memberikan sebagian harta peninggalan mendiang Ayah yang jatuh ke tangan Ibu,” tangan kiri Azzam memutar sedikit kaca spion tengah ke arahnya, kedua mata menatap pantulan wajah dirinya yang masih terlihat luka lebam dan memar, “Wajah sedih sudah oke, tinggal acting saja yang harus aku lakukan agar Ibu percaya dengan semua kesedihan dan kepahitan yang aku alami belakangan ini.”

__ADS_1


.


✨✨1 jam kemudian✨✨


Mobil Azzam memasuki halaman rumah Laras.


Sebelum turun dari mobil, Azzam mengacak rambutnya yang rapih, tangan kanannya menampar kembali pipi kanannya, hingga terlihat bekas tapak tangan memenuhi pipinya.


“Sudah sempurna,” ucap Azzam saat melihat pantulan wajahnya terlihat kacau dari kaca spion tengah dalam mobilnya. Azzam turun dari mobil, kedua kaki melangkah cepat menuju teras rumah, Azzam menarik nafas panjang saat tangan kanan hendak mengetuk pintu rumah, “Huuuft!!”


Tok!tok!


“Ibu!”


“Astaqhfirullah al-adzim, Azzam!” ucap Laras terkejut saat membuka pintu terlihat Azzam berwajah kacau menyandarkan tubuhnya di salah satu daun pintu ketupat. Laras merangkul tubuh Azzam yang terlihat lemah, dan membawa Azzam masuk ke dalam rumah, “Kamu kenapa nak?”


“Ibu tidak perlu cemas, luka ini hanya luka kecil kok!” sahut Azzam berbohong.


“Luka kecil bagaimana?”


“Ini hanya luka yang terjadi antar sesame pria saja,” sahut Azzam kembali berbohong. Sudut bibir Azzam menaik, kedua mata melirik perlahan Laras yang sedang merangkul dirinya di sisi kiri. Lirikan dan senyuman penuh makna yang terlintas saat melihat raut wajah Laras yang terlihat cemas.


“Kamu duduk dulu, Ibu akan mengambil kotak P3K yang ada di dapur,” ucap Laras meletakkan Azzam perlahan di sofa ruang tamu.


“Azzam tidak kenapa-kenapa ‘Bu! Ini hanya luka kecil,” Azzam menyandarkan tubuhnya di badan sofa, “Akh! Tempat yang nyaman adalah rumah Ibu sendiri.”


Laras berdiri, “Kamu jangan banyak bergerak, Ibu akan mengambil kotak P3K yang ada di ruang Tv.”

__ADS_1


“HEM”


...Bersambung.......


__ADS_2