SERAKAH

SERAKAH
BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?


__ADS_3

Keesokan paginya. Rabbani, Anton, dan ketiga karyawan lainnya melakuan sarapan bersama sebelum mereka pergi berangkat bekerja ke toko. Anton, Ratna, Budi dan May terus melirik ke arah Rabbani. Sedangkan Rabbani masih melamun memikirkan tentang Lala yang mengaku saudara kembar mendiang Clara.


“Tuan,” panggil Anton memecahkan lamunan Rabbani.


Rabbani tersentak, “Kamu! Bikin aku jantungan saja,” ucap Rabbani mengelus dadanya.


“Apa tuan sedang memikirkan wanita misterius itu?” tanya Anton.


“Iya. Aku masih tidak percaya jika Clara memiliki saudara kembar,” sahut Rabbani.


“Kenapa tidak tuan selidiki saja. Siapa tahu Lala itu beneran mendiang nona Clara,” ucap Anton dengan pikirannya.


“Kebayakan nonton film hantu legenda Indonesia kamu!” tangan kanan melambai, “Sudah cepat makan, soalnya kita harus segera buka toko karena hari ini ada barang sisa yang akan di antar oleh tuan Arces ke toko,” sambung Rabbani menyuruh semua karyawannya cepat menghabiskan sarapan mereka.


“Siap!” sahut Anton dan lainnya serentak.


Setelah selesai sarapan pagi. Rabbani, Anton, May, Budi, dan Ratna menuju ke kendaraan mereka masing-masing. Mereka pun pergi serentak meninggalkan kediaman rumah Rabbani.


1 jam kemudian berkendara, Rabbani, Anton dan lainnya akhirnya sampai di toko milik. Rabbani, Anton, Ratna, May, dan Budi keluar dari masing-masing mobil mereka.


Rabbani melewati Anton, Budi, May, dan Ratna, “Semangat untuk hari ini,” ucap Rabbani.


“Siap!” sahut Anton, Ratna, Budi, dan May serentak.


Rabbani segera membuka kunci toko, dan masuk.


Ada 20 menit toko buka datang sebuah mobil box berwarna putih. Anton dan Rabbani segera menyambut barang baru kiriman dari Arces.


Supir pengantar paket mendekati Rabbani, “Apa benar ini tuan Rabbani?”


“Benar,” sahut Rabbani.


“Kalau gitu tolong tanda tangan di bawah ini,” ucap supir pengantar paket memberikan kertas putih bukti serah-terima barang.


Rabbani mengambil kertas tersebut, membaca sekilas lalu memberikan tanda tangan. Rabbani menoleh ke barang-barang sudah diturunkan dari dalam mobil box, “Apa ini barang terakhir yang diberikan oleh tuan Arces?” tanya Rabbani ke supir.

__ADS_1


“Iya. Tapi di salah satu kotak ada sebuah hadiah dari tuan Arces buat Anda,” ucap supir.


“Hadiah apa itu?” tanya Rabbani penasaran.


“Saya kurang tahu. Tapi yang jelas katanya hadiah berbagi kebahagian,” sahut supir.


“Oh” sahut Rabbani mengangguk.


Saat menghitung kotak-kotak diturunkan dari dalam mobil box. Anton melihat ada satu buah kotak kecil bertulisan, ‘Buat tuan Rabbani’. Anton segera mengambil kotak tersebut dan ingin memberikannya kepada Rabbani.


“Kenapa kamu membawa kotak kecil itu kepadaku?” tanya Rabbani.


“Sepertinya ini bukan kotak barang pajangan. Mungkin ini adalah hadiah yang seperti supir itu katakan pada tuan tadi,” ucap Anton sedikit menguping pembicaraan Rabbani.


“Apa kamu tadi menguping pembicaraan kami?” tanya Rabbani datar.


Anton melambai, “Suara Anda tadi terbawa angin dan hinggap di telinga saya, tuan,” jari telunjuk mengarah ke toko, “Saya permisi untuk memanggil Budi dan beberapa anak gudang lainnya untuk mengangkat karton-karton ini,” sambung Anton memutus pembicaraan.


Kedua bola mata Rabbani mengikuti langkah Anton, sembari berkata, “ Pasti kamu pergi karena takut aku marahi.”


Di depan Rabbani kini sudah ada 15 kotak berukuran besar, kecil, dan sedang. Setelah semua barang sudah diturunkan, supir dan kernet berpamitan kepada Rabbani.


“Iya,” sahut Rabbani.


Rabbani terus menatap ke kotak mini berada di genggaman tangan kanannya. Hatinya terus bertanya-tanya kotak kecil apakah ini. Karena rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa cueknya. Rabbani pun membawa kedua kakinya masuk ke dalam ruang kantor pribadinya.


Sesampainya di dalam ruangan, Rabbani langsung mengambil pisau lipat dan membuka bungkusan kerdus tersebut. Dahi Rabbani mengerut saat ia melihat isi dalam kotak tersebut adalah satu buah alat tes, dan sepucuk surat kecil. Rabbani langsung mengambil alat tes, dan mendekatkannya ke kedua matanya.


“Kenapa di alat ini ada 4 garis merah?” tanya Rabbani sendiri, tangan kanan mengambil sepucuk surat dan membacanya dalam hati.


...“Aku sangat yakin jika Anda pasti terkejut melihat hasil positif milik kekasihku. Akupun juga tadinya seperti itu, sangat terkejut saat melihat ada 4 garis merah di hasil alat tersebut. Sepertinya aku tidak usah menjelaskan itu hasil apa. Aku hanya ingin kasih tahu kepada Anda. Jangan mau kalah sama kami. Batang sama batang saja bisa hamil, apalagi batang sama kran pipa. Aku doakan kalian semoga kalian cepat-cepat diberikan anak. Amin Tuhan.”...


Rabbani meletakkan kembali sepucuk surat dan alat tes ke dalam kotaknya. Rabbani berulang kali menarik nafas panjang saat mengingat pesan terakhir dari Arces. Tangan kanan Rabbani mengambil foto pernikahan mereka berdua, tangan kanan Rabbani mengelus gambar mendiang Clara.


“Terimakasih atas doanya tuan Arces. Doa itu sebenarnya sudah terkabul. Tapi, kebahagian sesaat yang aku rasakan sudah direnggut paksa oleh perbuatan sirik orang lain. Clara dan bayi dalam kandungan sudah pergi ke surga meninggalkan aku sendirian di atas muka bumi ini,” gumam Rabbani kembali mengenang kepergian Clara dengan cara di santet.

__ADS_1


Drrrt!!!


Ponsel disaku celana berdering.


Rabbani meletakkan kembali bingkai foto mereka berdua. Tangan kanan mengambil benda pipih tersebut. Saat melihat panggilan telpon tersebut adalah panggilan nomor dari Arces, kepala Rabbani mendadak pusing. Namun, jempol tangan harus menekan tombol warna hijau.


.


📞📞📞


[ “Hallo, selamat pagi!” ] ucap Rabbani mengangkat panggilan telpon.


[ “Apa Anda sudah membuka kotak dariku. Pasti Anda tidak yakin jika kekasih ku bisa hamil kan?” ]


[ “Sepertinya itu bukan urusan ku.” ]


[ “Ayolah tuan Rabbani. Kenapa Anda tiba-tiba kembali ke mode dingin. Apakah Anda sudah tidak bersama dengan wanita seksi dan cantik itu?” ]


[ “Istriku sudah meninggal dunia.” ]


[ “Apa! Kenapa bisa meninggal dunia? Bukannya dia kelihatan sehat dan aktif ?” ]


[ Di sini ada satu hal aneh yang mungkin di sana tidak akan mungkin terjadi. Ah…sudahlah tidak perlu di bahas lagi. Sekarang aku tanya, bagaimana bisa usus mengandung seorang bayi. Apa Anda sudah tidak waras?” ]


[ “He he, itu beneran anak kami berdua. Sebenarnya…kami membayar seorang wanita untuk mengandung anak kami sendiri.” ]


[ “Kami! Berarti kalian berdua menjadi bertiga…menjadi satu dengan wanita? Eh…maksudnya..aduh..aku mendadak lupa menyusun kata-kata.” ]


[ “He he, santai saja tuan Rabbani. Di sini hal seperti itu wajar. Karena kami berdua ingin memiliki wajah anak dari karkater kami berdua, makanya kami menanam secara bersamaan.” ]


[ “Ha ha, bisa gila aku mendengar cerita Anda. Kalau gitu aku akhir panggilan telponnya.” ]


[ “Okay. Buat Anda tetaplah semangat, meski sang penyemangat sudah direbut dari Anda.” ]


[ “Terimakasih tuan Arces.” ]

__ADS_1


Rabbani pun mengakhiri panggilan telponnya. Rabbani terus menggeleng saat daun telinga mendadak ternodai oleh ucapan Arces. Dan ucapan terus terngiang-ngiang di kedua telinga dan pikirannya.


...Bersambung ...


__ADS_2