
Sambil mengobati luka memar yang ada di wajah Azzam, Laras mulai mengajukan beberapa pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa kamu tidak melaporkan kejadian buruk ini kepada pihak yang berwajib?"
Perlahan Azzam menjauhkan wajahnya dari tangan Laras, “Karena ini juga kesalahan Azzam,” sahut Azzam memulai serangan pertamanya.
“Kesalahan?”
“Iya, karena biaya permintaan konsumen yang aneh-aneh, bunga dan bibit juga lagi mahal. Azzam sampai berhutang dan tidak mampu membayarnya,” tangan kanan memegang bekas tamparannya sendiri, “Azzam pantas mendapatkan ini.”
“Kenapa kamu tidak memberitahu Ibu!” Laras mengelus lembut punggung Azzam, “Katakan kepada Ibu berapa hutang kamu?”
“Sangat banyak.”
“Seberapa banyak hutang kamu?”
Jari-jemari yang terletak di atas kedua pahanya saling mencubit. Azzam yang sangat pandai berakting, kini mulai merubah mimik wajah dan gelagatnya seperti seseorang yang sedang mengalami ketakutan akut.
Azzam tiba-tiba bersujud, mencium kedua kaki Laras, “Maafkan Azzam, ‘Bu. Azzam tidak pantas menjadi seorang Abang yang selalu dibanggakan kedua adiknya,” Azzam memeluk kedua betis Laras, “Azzam sangat bersalah atas semua hutang-hutang ini. Cukup Azzam saja yang menanggung beban ini, Azzam rela dimasukkan ke dalam penjara!” Azzam perlahan berdiri dengan kedua lututnya, memeluk Laras yang hanya bisa terdiam dengan derai air mata. “Ibu tidak perlu membantu Azzam untuk melunasi hutang-hutang yang Azzam buat sendiri. H u hu hu.”
Laras membelai lembut punggung Azzam, “Ibu tetaplah Ibu. Melihat tubuh anaknya di penuhi luka, dan pulang dengan raut wajah yang tertekan. Dan, sebesar apa pun kejahatan anaknya di luar sana yang tidak diketahui sang Ibu. Ibu akan tetap menolong sang anak, meski nyawa jadi taruhannya.”
Wajah Azzam yang tersimpan di atas pangkuan Laras, kini tersenyum manis. ‘Nyawa jadi taruhannya. Jika tidak bisa mendapatkan apa pun yang sang anak mau, maka nyawa boleh jadi penggantinya. Luar biasa, kalau begitu tunggu apalagi, Azzam. Mainkan peranmu.’
“Sekali lagi Ibu bertanya, berapa hutang kamu?”
Azzam mengangkat wajahnya dari pangkuan Laras, kedua tangan menyeka kasar air mata di kedua pipinya, tatapan di penuhi air mata ia tampilkan saat menatap wajah Laras, “800 ratus juta, ‘Bu.”
“Haa!!!!” Laras terkejut, kedua tangan menutup mulut yang mengangak.
Azzam kembali duduk di sisi kiri Laras, adegan dan rencana masih belum selesai. Azzam kembali memasang raut wajah sedih dan cemas, “Ibu tidak perlu menolong Azzam,” tangan kanan diletakkan di depan dada, “A-azzam bisa melunasi semua hutang-hutang Azzam.”
Laras berdiri, “Tidak perlu cemas, Ibu akan membantu melunasi hutang-hutang kamu,” Laras melangkahkan kedua kakinya menuju kamar, “Ibu akan kembali setelah mengambil cek.”
__ADS_1
Melihat Laras sudah berjalan masuk ke dalam kamar, Azzam menyandarkan tubuhnya ke sofa ruang tamu, kedua tangan di bentangkan selebar sofa, “Sebenarnya hutangku tinggal 500 ratu juta. Maaf Ibuku tercinta, anak kamu kembali berbohong kepada kamu, karena anak kamu ini ingin membalaskan dendam kepada para pemain judi lainnya yang sudah meremehkan 'ku. Setelah mendapatkan cek dari Ibu tercinta, malam ini juga aku akan terjun ke sana. 500 ratus juta buat bayar hutang, sisanya buat aku bermain judi dan sedikit bermain kepada wanita yang sudah merendahkan aku!” gumam Azzam.
.
.
✨✨PUKUL 11:30 MALAM✨✨
💫💫Di tempat perjudian💫💫
Setelah melunasi hutang-hutangnya kepada pemain judi lainnya, Azzam kembali bertarung di atas meja bersama dengan pemain lainnya. Tak lupa, beberapa wanita yang pernah merendahkan dirinya berdiri mengelilingi Azzam yang sedang bermain di meja.
“Masih punya semangat kamu untuk bermain, Azzam?” tanya salah satu pria yang memakai baju kaos oblong biru tua.
“Buat apa banyak uang tapi tidak dihamburkan,” tangan kanan Azzam mengeluarkan beberapa gepok uang, “Tapi malam ini aku hanya menghabiskan uang 100 juta,” tangan kiri Azzam melambai, “Aku mulai bosan bermain dengan para pecun-dang seperti kalian!” ucap Azzam menyombongkan diri.
“Jangan terlalu puas dengan apa yang kamu bicarakan. Main dulu baru tahu hasilnya,” sahut saah satu pemain yang memakai baju kotak-kotak.
10 menit berselang, kedua tangan Azzam mengulur panjang ke tengah meja, meraup tumpukkan uang dan masuk ke dalam dekapannya. Salah satu wanita yang berdiri di sisi kiri segera menyusun uang ke dalam tas hitam kecil, kemudian memberikannya kepada Azzam.
Azzam berdiri, tatapan merendahkan ia arahkan ke masing-masing pemain yang terlihat kesal. “Sekarang aku sudah puas. Aku akan bermain sedikit dengan….” tangan kanan menepuk tas yang ada di genggaman tangan kiri, “Uang 300 ratus juta yang ada di dalam tas ini!” Azzam berbalik badan, senyum penuh makna ia tampilkan, “Selamat tinggal para pecun-dang,” kedua mata melirik ke sisi kanan kiri, dimana sudah berdiri 3 orang wanita seperti benalu yang selalu menempel di tubuh Azzam, “Mari kita bermain.”
.
.
💦💦Hotel 💦💦
Azzam dan ketiga wanita sudah berdiam diri di dalam kamar Hotel. Azzam menyandarkan tubuhnya di badan sofa, tatapan penuh makna mengarah ketiga wanita yang ada dihadapannya.
“Seperti sampah. Kemarin kalian terus menghina kekalahanku, kini kalian sedang berdiri di hadapanku. Kalian berdua tahu apa hukuman yang akan aku berikan kepada kalian berdua, keculia kamu…” jari telunjuk tangan kanan Azzam mengarah ke wanita yang berdiri di sisi kiri, “Kamu pasti anak baru?”
__ADS_1
“Saya baru tiga hari bekerja di sana,” sahut wanita berambut ikal.
“Sudah pernah tidur dengan orang lain?”
“Belum, selama tiga hari bekerja saya hanya menemani bermain kartu saja.”
Tangan kiri menepuk sofa kosong, “Kalau begitu kamu duduk bersamaku di sini!”
“Ba-baik,” sahut wanita tersebut patuh.
Azzam mengarahkan jari telunjuknya kedua wanita yang ada di hadapannya, “Kalian berdua hibur lah aku sampai aku memberikan apa yang kalian inginkan. Jangan lupa berikan tonton eksklusif seperti yang ada di film-film penuh sensor.”
Mimik wajah kedua wanita tersebut mendadak kesal, kedua tangan di kepal erat di sisi tubuh mereka. Kedua wanita tersebut mulai menghibur Azzam, dengan serentak mereka bergoyang. Kedua wanita itu juga bermain di atas ranjang sesuai dengan permintaan Azzam.
Wanita yang duduk di samping Azzam memalingkan wajahnya, “Adegan apa ini?” tanya wanita itu sendiri pelan.
Melihat wanita yang duduk di samping kiri membuang wajahnya, tangan kanan Azzam memegang dagu wanita tersebut, membawanya mendekat ke wajah Azzam. “Biarkan mereka bermain, kita di sini juga akan sedikit bermain. Kamu tenang saja, aku tidak akan berbuat kasar, aku ahli di dalam banyak bidang.”
“Ta-tapi….”
“Oh, aku mengerti. Kamu pasti malu,” Azzam berdiri, “Berhenti, ambil uang yang ada di atas meja dan segera keluar dari kamar ini!”
Kedua wanita tersebut menghentikan aksi mereka, membenarkan baju, melangkah cepat mengambil uang yang sudah diberi jatah oleh Azzam. Kemudian keluar dari kamar hotel.
“Mereka sudah keluar, tinggal kita berdua,” kedua tangan Azzam menjalar lembut di atas kedua pa-ha wanita tersebut.
“Ja-jangan, tuan.”
“Semakin kamu berteriak dan melawan, semakin aku bersemangat.”
Azzam kembali melakukan perbuatan itu, berapa anak gadis yang sudah direnggut kesucian olehnya. Seperti tidak takut dengan Karma, Azzam selalu melakukan perbuatan yang menjijikan kepada siapa saja yang membutuhkan uang dari kedua tangannya. Ada istilah mengatakan, ‘Tidak bekerja, tidak punya uang’, istilah itulah yang selalu Azzam membual saat sebelum melancarkan perbuatannya.
__ADS_1
...Bersambung...