
💫💫1 Minggu kemudian💫💫
Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah satu minggu Yusi meninggalkan Laras. Yusi juga sudah masuk ke Universitas yang ia tuju. Sedangkan Azzam, dirinya masih terus melakukan kesalahan yang sama, bermain judi dan bermain wanita hingga membuat hutang baru yang sulit untuk di lunasi.
Azzam yang terlilit hutang kembali ke rumah Laras. Seperti aktor yang terkenal, Azzam kembali memasang muka lesu dengan wajah yang sedikit lebam. Bukan itu saja, dirinya juga menambah beberapa sa-yatan di lengan kanan dan kirinya, seolah-olah ada orang jahat yang ingin memo-tong lengannya.
Tanpa mengetuk pintu rumah, Azzam berjalan ke dalam rumah Laras dengan terhuyung-huyung. “Ibu, ibu!” panggil Azzam memasuki ruang tamu.
Mendengar suara Azzam yang terdengar lirih, Laras yang berada di ruang Tv keluarga langsung berlari menuju ruang tamu. Langkah kaki Laras terhenti saat melihat Azzam di penuhi luka lebam, serta tangan yang masih mengalir darah. “Azzam!” Laras kembali memacu kedua kakinya dengan cepat, kedua tangan langsung memeluk tubuh Azzam yang lemah, “Kamu kenapa nak?”
“Tidak bisa bayar hutang, tidak bisa hidup tenang,” sahut Azzam menjatuhkan tubuhnya di pelukan Laras.
“Hutang! Bukannya Ibu sudah memberikan kamu uang 800 ratus juta?”
Azzam melepaskan pelukan Laras, wajahnya terlihat tidak senang saat mendengar ucapan Laras. Azzam melangkahkan kedua kakinya mendekati sofa, dan merebahkan tubuhnya tanpa menjawab pertanyaan Laras.
“Hutang apa lagi kamu di luar sana?” tanya Laras, kedua kaki berjalan mendekati Azzam yang terbaring di sofa.
“Ibu pikir memiliki usaha itu enak! Coba Ibu di posisi Azzam, memegang usaha warisan dari mendiang Ayah yang hanya mendapat keuntungan di setiap panennya. Dan usaha Azzam sendiri yang di mana konsumen banyak maunya. Hanya memberikan uang muka sedikit, tapi keiingan selangit!” Azzam duduk, tatapan serius memandang wajah Laras yang terlihat bingung, “Coba saja mendiang Ayah memberikan warisan seperti milik Rabbani. Mungkin Azzam tidak akan mengalami kesulitan seperti ini.”
“Astagfirullah al-adzim!” tangan kanan memegang bahu Azzam, “Masalah ini sepertinya tidak perlu di ungkit lagi nak. Bukannya hak kamu lebih banyak daripada milik Rabbani. Coba kamu lihat Yusi, dirinya saja tidak…”
“Ahh!” Azzam menepis tangan Laras, Azzam berdiri, jari telunjuk tangan kanan mengarah pada Laras, “Semua ini salah Ibu!”
“Azzam!” ucap Laras terkejut saat melihat tingkah Azzam yang kasar. Jantung Laras yang tadinya berdetak normal perlahan hampir terhenti. Laras berdiri, tangan kanan melayang ke pipi kanan Azzam.
__ADS_1
Plaakk!
“Sepertinya Ibu sudah gagal mendidik anak!” Laras berbalik badan, air mata kesedihan perlahan jatuh ke atas lantai. Badai dan kilatan petir seolah menyambar hati Laras. Rasa sakit dan sesak di dalam dada melihat perlakuan anak yang ia besarkan penuh dengan cinta dan kasih sayang. Kedua kaki Laras melaju dengan cepat menuju kamarnya.
‘Sial. Kenapa aku terbawa emosi, bagaimana jika Ibu tidak memberikan apa pun kepadaku setelah ini. Jalan satu-satunya aku harus bersujud dan memohon agar Ibu bisa menerima maafku, dan memberikan apa yang aku inginkan. Aku harus segera bergerak agar aku bisa membayar hutang-hutangku.’
Azzam melangkahkan kedua kakinya dengan cepat untuk menyusul Laras, “Ibu!”
Laras tidak memperdulikan panggilan Azzam, ia terus melangkahkan kedua kakinya, sesekali kedua tangan menyeka kasar air mata yang membasahi kedua pipinya. ‘Maafkan aku, mas. Aku sudah gagal mendidik anak kita.’
“Berhenti Ibu!” panggil Azzam, kedua tangan segera memeluk Laras dari belakang. Azzam membenamkan wajahnya di punggung Laras, “Maafkan Azzam. Azzam terbawa emosi karena semua masalah yang sedang menimpa diri Azzam,” Azzam melorotkan tubuhnya, kini ia berjongkok, kedua tangan memeluk erat kedua kaki Laras, menempelkan wajahnya di betis Laras, “Ibu! Maafkan Azzam.”
Sesakit apa pun perkataan dan perbuatan sang anak, saat Ibu mendengar kata ‘Maaf’ dari sang anak, pasti hati Ibu akan luluh. Semua perbuatan yang melukai perasaan Ibu seketika luntur, hati yang tadinya keras seperti ingin membenci sang anak berubah menjadi luluh.
“Iya Bu.”
“Kamu sudah makan?” tanya Laras memecah suasana.
Azzam menggeleng, “Belum.”
“Kalau begitu mari kita makan,” ucap Laras menggenggam pergelangan tangan kiri Azzam dan membawanya menuju ruang makan.
.
.
__ADS_1
💫💫1 jam kemudian💫💫
✨✨Di dalam kamar✨✨
Azzam berjalan ke sana kemari, kedua tangan menggaruk rambut yang tak gatal, “Akh! Kenapa sulit sekali memintanya. Apa yang harus aku lakukan agar wanita tua itu memberikan sebagian harta miliknya.”
Otak kecil Azzam kembali teringat satu jam yang lalu, saat dirinya sedang menikmati santap makan malam bersama dengan Laras. Mendengar Laras ingin memberikan uang untuk melunasi hutang-hutangnya, Azzam malah mengalihkan pembicaraan tentang hak milik Laras yang diberikan oleh mendiang Ayahnya yaitu Deni, sebaiknya diberikan sebagian kepada Azzam.
Laras menolak permintaan Azzam, ia berkata, “Hak itu akan Ibu berikan kepada kalian bertiga setelah Ibu meninggal nanti.”
Perkataan itu yang membuat Azzam kesal. Buat apa membagi rata hak miliknya kepada Rabbani dan Yusi yang sudah memiliki banyak hak. Jika itu terjadi, berarti dirinya akan mendapatkan sedikit dari apa yang Azzam inginkan.
Azzam menarik nafas dalam-dalam, dirinya kini duduk di tepian ranjang, menatap langit kamar yang terlihat redup. Merasa sedikit pusing dengan semua permasalahan yang ia hadapin, Azzam merogoh saku celananya. Kini di telapak tangan kanan Azzam ada bungkusan plastik kecil berisi pil warna-warni. Azzam membuka plastik kecil dan memakan pil tersebut.
Kini pandangan Azzam berubah menjadi indah, terlihat dunia penuh warna dan ada satu wanita yang perlahan berjalan ke arahnya. Wanita cantik, berbaju ketat kini sudah duduk di pangkuan Azzam. Wanita tersebut memberi kecupan manis yang semakin dalam. Wanita tersebut melepas ciumannya, bibir merah mereka itu kini berpindah ke daun telinga Azzam.
“Habisi saja. Bukannya wanita itu berkata jika dirinya sudah meninggal maka harta itu akan dibagikan. Habisi sekarang, di saat semua orang tidak ada di rumah. Tidak ada saksi mata, dan tidak ada hal yang bisa dicurigai setelah kamu melakukan perbuatan itu!” bisik wanita tersebut lembut.
“Kamu benar,” sahut Azzam mulai merencanakan sesuatu buat menghabisi nyawa Laras, Ibu kandungnya sendiri.
Wanita yang duduk di pangkuan Azzam kini turun, kedua kaki berjalan mundur, dan menghilang di balik keindahan.
Efek halusinasi Azzam akibat meminum obat tersebut perlahan menghilang dan kini membuat dirinya terbaring di atas ranjang dengan kepala yang sedikit pusing dan tubuh seperti melayang ke udara.
...Bersambung...
__ADS_1