
Tut!! Tuuut!
Hampir satu jam Rabbani menghubungi nomor telepon milik Laras, tapi tidak di angkat juga. Rabbani yang merasa cemas keluar dari ruang kerja miliknya, berjalan menuju kamar Yusi. Saat kaki kanan hendak naik ke anak tangga terdengar suara wanita memanggilnya.
“Nak!”
“Ibu!” sahut Rabbani mendengar jelas suara wanita yang baru saja memanggilnya seperti suara mirip Laras. Rabbani menoleh ke belakang, kedua matanya membulat sempurna saat melihat sosok Laras berdiri di depan pintu rumah memakai baju piyama putih yang terdapat noda darah. Rabbani segera melangkah, “Ibu kenapa datang memakai baju seperti ini?”
“Perut Ibu sangat sakit,” ucap arwah Laras.
“Wajah Ibu sangat pucat, tubuh Ibu juga sangat dingin,” Rabbani merangkul tubuh Laras, “Mari kita ke dapur. Rabbani akan membuat makanan hangat untuk Ibu,” ucap Rabbani mengajak arwah Laras menuju dapur.
Rasa cemas Rabbani berubah menjadi senang saat melihat Laras datang mengunjungi rumahnya. Rasa senang itu juga yang membuat Rabbani tidak menyadari jika wanita yang sedang berjalan bersamanya bukanlah Ibunya, melainkan arwah penasaran Laras yang ingin memberikan pesan jika dirinya kini sudah meninggal dunia, dan perutnya sakit karena terdapat banyak tusukan pisau sehingga darah terus mengalir.
Yusi yang merasa haus terbangun dari tidurnya, membawa gelas menuju dapur. Yusi menghentikan langkah kakinya di depan ruang dapur, tatapan membulat sempurna saat dirinya melihat arwah Deni duduk. Gelas yang ada di tangan kanan perlahan meluncur ke bawah.
Prang!
Jari telunjuk tangan kanan mengarah ke kursi makan yang ada di belakang Rabbani, “A-ayah!”
Rabbani yang sedang masak segera mematikan kompor, mengalihkan pandangan ke Yusi yang berdiri di depan pintu ruang makan. “Ayah! Apa kamu sedang ngelantur dek?”
“Ti-tidak, di situ ada Ayah,” Yusi mempercepat langkah kakinya mendekati Rabbani yang sedang memasak indomie. Yusi memutar badan Rabbani ke belakang, tangan kanan kembali mengarah ke kursi makan, “Lihat, di sana sudah duduk Ayah dan….” Yusi menutup kedua mulutnya, “Haa…I-ibu!” ucap Yusi terkejut saat melihat arwah Laras berada di sisi kiri Rabbani.
Tangan kanan menepuk bahu kiri Yusi, memutus pikiran adik kecilnya yang seperti sedang ngelantur, “Karena kamu sudah di sini, mari kita pergi makan bersama dengan Ibu,” ajak Rabbani menyajikan indomie ke dalam mangkuk kecil.
“Tidak!” Yusi menggoyang lengan kanan Rabbani, “Abang harus sadar, mereka berdua itu bukan Ayah dan Ibu!” Yusi menarik lengan kanan Rabbani, membawa Rabbani menjauh dari tempat masak dan juga meja makan. Yusi kembali mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke arwah Laras yang masih berdiri di depan tempat masak, “Lihat! Bajunya wanita itu sudah dipenuhi noda darah. Pasti wanita itu adalah korban kecelakaan dengan wajah yang menyerupai Ibu.”
__ADS_1
“Mungkin itu hanya noda minuman,” sahut Rabbani. Kedua tangan Rabbani menempel di kedua pipi Yusi, kedua mata saling menatap satu sama lain, “Kamu bilang tadi ada Ayah?”
Yusi segera menepis kedua tangan Rabbani, “Yusi tidak berbohong,” tangan kanan mencubit jenjang leher bagian depan, “Yusi berani bersumpah Bang,” jari telunjuk tangan kiri mengarah ke kursi, “Ta-tadi ada arwah Ayah di sana!” Yusi melangkahkan kedua kakinya mendekati kursi makan, “Tadi ada arwah Ayah di sini!”
Rabbani tersenyum manis, tangan kanan membelai puncak kepala Yusi, “Kamu pasti masih mengantuk,” Rabbani merangkul tubuh Yusi, “Mari Abang antar kembali kamu ke kamar,” Rabbani menoleh sedikit ke sisi kiri, “Ibu tunggu aku di sini. Aku mau mengantar adik kecil dulu,” ucap Rabbani kepada arwah Laras.
“Tapi bang! Yusi…”
“Jangan berkata apa pun lagi. Abang akan mengantarkan kamu pergi tidur kembali,” putus Rabbani mengakhiri ucapan Yusi yang gugup.
Rabbani dan Yusi terus berjalan, tangan kanan Rabbani selalu memegang wajah Yusi yang terus melihat kebelakang untuk kembali ke depan. Rabbani membuka pintu kamar Yusi, “Minum kamu nanti akan Abang antar.”
Yusi melepaskan rangkulan Rabbani. Yusi memutar arah berdirinya, kedua mata Yusi menatap lekat kedua bola mata Rabbani yang terlihat tenang, “Jika Yusi tidur, Abang juga harus berjanji tidak akan kembali turun ke bawah!”
Rabbani tersenyum manis, tangan kanan mengusap puncak rambut Yusi, “Ibu sudah datang jauh ke sini, masa Abang tidak boleh menjamu Ibu!” Rabbani berbalik badan, “Abang tidak ingin membuat Ibu menunggu lama di dapur,” ucap Rabbani sambil melangkahkan kaki kanannya.
“Jika kamu tidak percaya itu Ibu kita, maka mari kita lihat bersama-sama kembali,” ucap Rabbani berusaha menyakinkan dirinya dan Yusi, jika yang mereka lihat itu adalah Laras bukan arwah penasaran.
“Baik,” sahut Yusi.
Rabbani dan Yusi kembali keluar dari kamar menuju dapur. Yusi yang merasa takut hanya bisa berjalan dan bersembunyi di balik tubuh Rabbani, kedua tangan menggenggam pinggiran piyama Rabbani. Langkah kaki Rabbani dan Yusi terhenti di depan pintu dapur.
“Tuh 'kan, wanita itu tadi bukan Ibu!” ucap Yusi yang bertambah takut, kedua tangan semakin mengeratkan genggaman tangannya di pinggiran baju piyama Rabbani.
“Jika memang benar semua ini adalah ulah setan, Abang berharap ini hanya mimpi. Dan Abang berharap Ibu baik-baik saja di rumah,” sahut Rabbani dengan nada sedikit kecewa dan cemas. Rabbani perlahan menatap sekeliling ruang dapur mencari sosok Laras. Namun sosok itu tidak lagi terlihat, yang terlihat hanya mangkuk yang berisi indomie yang sudah mengembang. Rabbani berbalik badan, menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan rasa gelisah yang semakin menyelimuti hatinya.
“Jika Abang merasa gelisah, maka pulanglah melihat Ibu.”
__ADS_1
“Baik,” sahut Rabbani, senyum manis terpaksa ia tampilkan buat Yusi. Rabbani merangkul kembali tubuh Yusi, “Mari kita kembali tidur.”
Beberapa langkah kaki Rabbani dan Yusi meninggalkan dapur, muncul arwah Deni dan Laras berdiri di depan pintu ruang dapur, kedua tangan kanan mereka mengulur ke Rabbani yang terus berjalan tanpa menoleh. Arwah Deni dan Laras pun menghilang saat Rabbani menoleh ke belakang.
.
.
✨✨Pukul 11:30 pagi✨✨
Pesawat yang dinaiki Rabbani mendarat dengan mulus. Dirinya yang baru saja turun segera melangkah cepat keluar dari Bandara menuju taksi online yang sudah ia pesan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Laras, Rabbani selalu menekan nomor ponsel milik Laras, tapi panggilan telpon itu harus terputus tanpa jawaban. Kecemasan Rabbani bertambah saat nomor ponsel milik Azzam juga tidak bisa di hubungi.
Tangan kanan Rabbani memukul pelan bangku kemudi, “Pak, tolong di percepat saja.”
“Baik,” sahut supir taksi online mempercepat laju kendaraannya.
.
.
1 jam kemudian taksi online sampai di depan gerbang rumah Laras yang sedikit terbuka. Rabbani segera membayar ongkos taksi online, “Terimakasih Pak,” Rabbani segera melangkah besar memasuk gerbang kediaman rumah Laras.
Langkah kaki Rabbani terhenti di depan pintu rumah yang tidak terkunci, kecemasan semakin menjadi-jadi. Tangan kanan memegang gagang pintu, “Ibu!” saat kaki kanan melangkah masuk ke dalam rumah, tercium bau darah dan busuk dari dalam rumah. Rabbani segera menghalau bau busuk yang menusuk hidungnya, “Hem! Kenapa baunya sangat menyengat!” tatapan mengarah ke ruang tamu yang terhubung dengan ruang Tv keluarga, kamar Laras, dan juga dapur, “Ibu!” Rabbani meletakkan koper miliknya di depan pintu, kedua kaki berlari cepat menuju kamar Laras.
...Bersambung...
__ADS_1