
Tok!tok
“Assalamualaikum!” panggil seorang pria dari depan pintu rumah Laras.
“Wa’alaikumsalam.” Kedua mata Laras membulat sempurna saat melihat pria muda berdiri di depan pintu rumahnya, “Rabbani!”
“Iya”
“Ada apa nak? Apa kamu sedang mengalami masalah?”
“Tidak. Sesuai janji ku kepada Yusi, aku datang ke sini untuk menjemput Yusi.” Rabbani mengedarkan matanya ke sekeliling tempat, “Kok sunyi?”
Laras mengambil koper Rabbani, “Ya beginilah keseharian Ibu, nak.” Tangan kanan Laras mengarah ke dalam, “Kamu seperti orang lain saja, mari masuk!”
Rabbani mengambil koper miliknya, “Ibu tidak perlu repot-repot membawa koperku!” tangan kiri Rabbani merangkul bahu Ibunya, kepala menoleh ke sisi kiri, “Kata Yusi dia sudah selesai ujian, dan 3 minggu lagi akan menunggu ke lulusan sekolahnya. Benarkah itu ‘Bu?”
Laras menghentikan langkah kakinya di depan sofa yang berada di ruang tamu, kepala menunduk, kedua tangan menggenggam erat baju terusan bunga-bunga.
“Ibu kenapa?” Rabbani mengambil tangan kanan Laras, kepala melirik sedikit kebawah, menatap wajah sang Ibu seperti tak ingin menunjukkan wajahnya. “Apa yang sedang Ibu pikirkan?”
“Yusi!”
“Kenapa dengan Yusi?”
“Tadi malam…” tangan kanan Laras melambai, “Akh! Sudahlah, mari kita mengobrol di ruang Tv.” Ajak Laras mengalihkan pembicaraan.
Sebenarnya Laras ingin mengatakan jika Yusi, adik perempuan semata wayang sudah tidak gadis lagi. Hal itu diketahui Laras tadi malam saat kedatangan Azzam. Dan percakapan singkat tersebut sempat terdengar di kedua telinganya. Laras hendak keluar dari kamar untuk menjumpai putranya yang baru saja datang, karena mendengar percakapan yang tidak biasa, Laras memutuskan untuk berpura-pura tidur dan tidak menyapa. Terlebih lagi Laras juga sempat melihat dari kejauhan, jejak merah lebih dari satu di jenjang leher Yusi.
.
.
✨✨ Di depan gerbang sekolah ✨✨
Yusi yang sudah selesai ujian dan tidak memiliki pelajaran aktif, kini berjalan keluar dari gerbang sekolah. Ia berjalan dengan kepala yang tertunduk, kedua tangan menggenggam erat tali ranselnya. “Kenapa aku belum haid juga! Seingatku, aku haid biasanya di tanggal yang sama. Paling tidak sedikit terlambat 1 hari. Apa bibit miliknya benar-benar tumbuh?” Yusi menggeleng, “Tidak mungkin. Aku harus segera mengeceknya. Alat tes pack!” Yusi mempercepat langkah kakinya, saat dirinya hampir menjauh dari gerbang sekolah terdengar suara bunyi klakson mobil.
Tin! Tin
__ADS_1
Yusi menghentikan langkah kakinya, perlahan-lahan dirinya melirik ke belakang. Kedua matanya membulat sempurna saat melihat Rabbani mengulurkan sedikit kepalanya dari jendela mobil dengan tangan kiri melambai.
“Abang Rabbani!”
“Yusi!”
“Akh!” keluh Yusi menarik wajahnya kembali ke depan, “Kenapa datang di saat seperti ini sih!”
Rabbani melajukan mobilnya mendekati Yusi yang masih diam di tempat.
“Dek!” panggil Rabbani dari dalam mobil, tangan kiri menepuk bangku sebelah yang kosong, “Mari masuk. Sebelum pulang ke rumah, temani Abang berkeliling sebentar, ya!”
“Baik.”
Dengan terpaksa Yusi menghentikan rencananya untuk pergi ke Apotek membeli alat tes kehamilan. Sepanjang perjalanan menuju tempat yang ingin di tuju Rabbani, Yusi hanya diam membisu di dalam mobil dengan hati yang terus mengumpat kesal.
‘Kenapa hari ini nasibku sial sekali. Mana aku lupa lagi kalau punya Abang yang selalu tepat waktu. Aku berharap aku tidak hamil, jika aku mengandung anak ba*jingan itu, secepatnya aku harus mengakhirinya.’
Cittt!!!!
“Kenapa bang?”
“Bukannya itu Abang Azzam?” jari telunjuk tangan kiri mengarah ke sebrang jalan, di mana terdapat sebuah kafe.
“Iya, memang benar dia.” Yusi memalingkan wajahnya, kedua tangan di lipat di depan dada, “Sebaiknya kita pergi saja, buat apa urusin manusia seperti Abang Azzam!”
“Kenapa Yusi sebenci itu kepada Abang Azzam?”
“Karena Yusi tidak suka saja sama tingkahnya, apalagi dia suka menyusahkan kedua orang tua kita dan bermain perempuan tanpa sepengetahuan Ibu dan mendiang Ayah.” Ucap Yusi di luar mulut, padahal di dalam hati Yusi, setiap berjumpa dengan Azzam dirinya teringat dengan 3 tahun silam, saat dirinya berusia 13 tahun.
.
.
💦 Kenangan Yusi 3 tahun yang lalu 💦
Saat itu Yusi berusia 13 tahun, Yusi yang sering sendirian di rumah suka membaca novel romantis sehingga menghabiskan waktunya di dalam kamar. Waktu itu Azzam masih berusia 18 tahun, karena kesibukan Laras dan mendiang Deni, Yusi sering tinggal di rumah sendirian. Azzam yang masa mudanya mulai terjerumus di dunia gelap, sering pulang malam atau pagi dengan keadaan mabuk jika kedua orang tuanya tidak ada.
__ADS_1
Malam itu Laras masih pergi ke luar kota, sedangkan Rabbani dan Mendiang Deni, mereka sedang berbisnis barang Antik ke Luar Negeri. Tinggallah Yusi di dalam kamar, dirinya sedang membaca buku dalam posisi terlungkup, kedua kaki berayun di atasnya. Baju piyama tipis menampakkan lekuk tubuhnya.
“Bidadari! ternyata ada bidadari cantik di dalam rumahku!” dalam keadaan mabuk Azzam berjalan masuk ke dalam kamar Yusi yang tidak di kunci.
“Abang salah masuk kamar.” Ucap Yusi menolehkan wajahnya ke sisi kiri, melihat Azzam yang berjalan sempoyongan ke arahnya.
“Bidadari, maukah kamu menemani aku tidur?” Azzam menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Yusi yang sedang terlungkup.
“Bang!” merasa kedua tangan Azzam sedikit menyentuh dua gunung kembarnya, Yusi langsung berbalik badan.
Bam!
Azzam yang masih menindih tubuh Yusi langsung jatuh ke atas lantai, kedua tangan Azzam mengelus bokongnya yang terasa sakit, “Aduh! Kamu Bidadari atau Iblis?”
Byur!!
Yusi menyiram wajah Azzam dengan air putih yang ada di dalam gelas.
“Lebih baik menjadi Iblis daripada menjadi Bi*natang. Iblis masih bisa membedakan mana saudara mana musuh. Sedangkan Bi*natang, mereka tidak bisa membedakan apa pun, yang terpikir hanya nafsu.” Yusi menggenggam erat kerah kemeja leher bagian belakang Azzam, “Entah kenapa Allah memberikan manusia seperti Abang hidup panjang.” Ucap Yusi yang terus menggeret Azzam yang sudah tertidur dengan posisi duduk keluar dari kamar.
Dari saat itu Yusi mulai sedikit menjauh dari Abang pertamanya, dirinya juga sering menutup diri dan tidak pernah membicarakan kejadian apa pun kepada Laras, meski Laras sering membujuk dirinya untuk berbagi beban yang Yusi pikul sendiri.
.
Fashback Off
.
.
Rabbani melepas seatbeltnya, “Walau kita memiliki Abang yang tidak berguna. Tetap saja dia saudara kita, saudara harus saling membantu, jangan dibiarkan seperti itu.” Rabbani turun dari mobil, “Kamu tunggu Abang di sini, ya!”
“Hem” Yusi melirik kepergian Rabbani dari ujung ekor matanya, kemudian melipat kedua tangan diletakkan di depan dada, “Buat apa punya saudara yang sudah sering di bantu tapi dirinya tidak tahu malu dan tidak pernah merubah karakter dan sifatnya. Saudara yang ingin membuat dirinya untung sendiri, itu bukan saudara namanya.” Yusi menghentakkan tubuhnya ke badan bangku, “Akh! Kesal.”
Yusi mengambil benda pipih yang berada di dalam saku kemeja sekolahnya, tangan kanan menulis sesuatu di Goggle, ‘Bagaimana caranya mendeteksi kehamilan tanpa alat’.
...Bersambung...
__ADS_1