SERAKAH

SERAKAH
BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR


__ADS_3

"Assalamualaikum” ucap salam Rabbani memasuki rumahnya.


“Wa’alaikumsallam, tuan sudah pulang?” tanya Clara menyambut kedatangan Rabbani.


“Apa kamu sudah menyiapkan air hangat buat aku mandi?”


“Aku tidak tahu kalau Anda akan pulang secepat ini,” tangan kanan mengarah ke lantai dua, “Biar aku hangatkan kembali airnya,” sambung Clara ingin melangkah pergi.


“Tidak perlu,” tahan Rabbani.


“Kenapa?”


“Seorang pelayan tidak perlu banyak bertanya dengan tuannya,” Rabbani mendekatkan wajahnya ke wajah Clara, membuat tubuhnya mundur sedikit ke belakang, “Apa kamu paham dengan ucapan ku?”


“Apa Anda masih marah dengan ucapan ku?”


“Jika ada seseorang yang berusaha berbuat baik kepada orang lain. Maka biarkan orang itu melakukannya, jangan halangi niat baiknya. Kecuali, niat baik tersebut disalahgunakan!” Rabbani melangkah pergi sambil menyenggol lengan kiri Clara.


Clara menutup mulutnya, air matanya perlahan menetes saat melihat sikap Rabbani sangat jauh berbeda dari awal mereka berjumpa. Dari kejadian itu, tadinya Clara berpikir jika Rabbani sama dengan mendiang Azzam. Tapi setelah melihat sikap Rabbani sedikit kecewa kepada dirinya, Clara sangat bersedih hati. Clara juga sangat menyesali perbuatannya karena tidak mau memberikan Rabbani kesempatan untuk mengatakan sejujurnya mengenai hal tersebut. Hati Clara kini dipenuhi dengan rasa penyesalan.


.


.


✨Kamar Rabbani✨


Rabbani berdiri di depan cermin besar, ia terus menatap wajah suramnya, “Apa aku terlalu kasar?” tanya Rabbani dengan pantulan dirinya di dalam cermin. Rabbani menghela nafas, “Huu” tangan kanan memijat pelipisnya, “Kenapa aku menjadi merasa bersalah sendiri karena bersikap dingin kepada Clara. Hari-hari ku juga menjadi sangat sial setelah aku berbuat seperti ini!” Rabbani merapihkan baju kaos oblongnya, kemudian menarik nafas kembali. Setelah selesai mengeluh pada diri sendiri Rabbani melangkah pergi keluar dari kamarnya, sambil mengeluh sendiri, “Sebaiknya aku bersikap normal saja.”


.


💫Di ruang tamu💫


Rabbani terkejut saat melihat seorang wanita cantik duduk di ruang tamu. Wanita tersebut adalah wanita mencari boneka hujan dan menangis di dalam mobil karena calon suaminya ketahuan berselingkuh di depan toko miliknya.


“Nona, silahkan di minum tehnya,” ucap Clara menyajikan teh hangat buat wanita tersebut.

__ADS_1


Rabbani melangkah cepat mendekati wanita tersebut, berdiri di hadapan wanita cantik dengan tatapan suram, “Mau apa kamu kemari?”


Tidak ingin ikut terlibat, Clara perlahan mundur kebelakang. ‘Gawat. Auranya sangat menyeramkan.’


“Kamu mau ke mana Clara?” tanya Rabbani datar.


“Anu….aku..” sahut Clara semakin gugup.


Wanita cantik berdiri, tatapan liar menatap sekeliling ruangan, “Rumah tuan sangat bagus. Sesuai dengan karakternya, unik dan antik,” puji wanita cantik mencairkan suasana.


“Aku tanya sekali lagi, mau apa kamu kemari?”


“Jangan panggil kamu dong, panggil saja Rashi,” ucap Rashi memperkenalkan diri sendiri tanpa di tanya. Rashi mendekati Rabbani, tangan kanan dengan ramah menyentuh bidang dada Rabbani, “Aku ingin mengenal kamu lebih-”


Rabbani menahan pergelangan tangan Rashi, “Tangan yang sangat ramah. Apa kamu tidak pernah menjaga sopa santun saat masuk ke dalam rumah orang lain?” menghempaskan tangan Rashi.


“Ke-kenapa Anda sangat kasar sekali?” tanya Rashi antara malu kepada Clara, dan menjadi gugup karena melihat sikap Rabbani jauh berbeda sebelumnya.


Rabbani mengulurkan tangan kanannya, “Clara ke mari kamu!”


“Ba-baik,” sahut Clara patuh.


Dengan kaku Rashi mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke Clara, “Di-dia hanya seorang pembantu,” sahut Rashi gugup.


“Kamu salah, dia adalah calon istriku!” ucap Rabbani serius.


“Ha ha” Rashi menggeleng, “Tidak mungkin seorang penguasa barang antik mencari istri seperti dia!” ucap Rashi seperti merendahkan Clara.


Sambil berdiam diri, Clara hanya bisa berdiam diri di dalam pelukan Rabbani. Membiarkan semua perdebatan terjadi di antara mereka berdua.


‘Kenapa aku seperti sorang sandra? Nasib sial apa yang terus menghantui kehidupanku. Mau hidup tenang dan enak sebagai seorang pelayan saja, aku tidak bisa. Apa lagi yang lain. Dan kenapa aku terlibat dalam kasus percintaan ini. Seolah-olah aku adalah pelakor paling jelek yang menyingkir kan Istri sah paling cantik di muka Bumi ini.’


“Tidak mungkin juga seorang Raja menikahi wanita seperti kamu!” Rabbani mengulas senyum tipis, “Bukan kali ini aku melihat wanita penggoda seperti kamu hadir di kehidupanku. Kalau tidak ada urusan lagi-” Rabbani ucapannya, mengarahkan tangan kirinya ke pintu, “Silahkan pergi dari rumahku, karena pintu masih aku buka seluas muka Bumi ini.”


“Ck” sambil menghentakkan kedua kakinya Rashi berjalan, meninggalkan rumah Rabbani.

__ADS_1


Melihat Rashi sudah keluar dari rumahnya, Rabbani memijat pelipisnya, suara hembusan nafas lega terdengar jelas dari dalam mulutnya.


Melihat wajah lelah dan letih Rabbani, Clara segera menutup dan mengunci pintu rumah. Dengan langkah ragu mendekati Rabbani sudah duduk di sofa baru ruang tamu.


“Apa Anda ingin teh tuan?” tanya Clara sedikit kaku.


“Buatkan aku makanan.”


“Benarkah!” Clara menundukkan sedikit tubuhnya, “Apa Anda yakin ingin memakan masakan dari tanganku lagi?” tanya Clara penuh semangat.


Rabbani mengangguk, tangan kanan melambai, “Jangan banyak bertanya lagi. Cepat laksanakan apa yang aku katakan.”


“Baik,” sahut Clara patuh, kedua kaki melangkah dengan cepat menuju dapur.


Rabbani tersenyum manis menatap kepergian Clara. Walaupun masih sedikit gengsi untuk memaafkan Clara, tapi Rabbani tetap ingin berbaikan dengannya.


30 menit kemudian, saat Clara hendak memanggil Rabbani untuk menyantap makan malam buatannya. Ternyata Rabbani sudah tertidur lelap di sofa. Perlahan Clara mendekat, ia berjongkok di samping Rabbani. Sejenak ia berpikir untuk membangunkan Rabbani, tapi Clara kembali bangkit karena dirinya berpikir pasti hari ini Rabbani sangat lelah dan butuh istirahat sejenak. Saat kaki kanan hendak melangkah, pergelangan tangan kiri Clara di tahan.


“Kenapa kamu tidak jadi membangunkan aku?” tanya Rabbani berharap Clara membangunkan dirinya.


Clara menoleh sedikit, “Aku tidak ingin menggangu istirahat tuan. Bukannya sudah terlihat jelas dari raut wajah tuan jika hari ini tuan sedang mendapatkan banyak masalah,” sahut Clara berusaha memahami dan berbicara sopan agar Rabbani tidak tersinggung.


Rabbani perlahan melepaskan genggaman tangannya, “Kamu benar,” Rabbani perlahan berdiri, merenggangkan kedua tangannya setinggi langit, “Ah…hari ini memang banyak sekali masalah yang datang,” Rabbani menurunkan kedua tangannya, menatap Clara berdiri di sisi kirinya, “Besok aku akan ke Yunani. Apa kamu tidak masalah jika aku tinggal di rumah sendirian?”


Clara menundukkan wajah cemasnya. Tidak ingin membuat Rabbani cemas, ia kembali mengangkat wajahnya, senyum paksa menghiasi wajah cantiknya, “Tentu saja. Aku akan menjaga rumah ini selama Anda pergi.”


Rabbani mengelus dagu licinnya, “Tapi kenapa aku yang tidak tenang, ya!” Rabbani melambai, “Sudah aku putuskan, kamu juga akan ikut pergi bersamaku.”


“Tapi tuan…”


“Jangan panggil aku tuan. Aku ‘kan sudah bilang, panggil aku Rabbani. Aku tidak ingin ada jurang pemisah status di rumah ini!” tegas Rabbani.


“Lah!” Clara memutar tubuhnya menghadap Rabbani, tatapan serius menatap wajah datar Rabbani, “Apa Anda sudah tidak marah lagi?”


Wajah Rabbani berubah menjadi kikuk, tangan kanan melambai, “A-aku sudah lapar. Mari kita makan,” ajak Rabbani melangkah terlebih dahulu.

__ADS_1


Semenjak kejadian meninggalnya dan beberapa kejadian buruk menimpa mendiang Ibu, Ayah, Adik, dan Abangnya. Dan termasuk Rabbani hampir menjadi korban keSERAKAHAN dari kedua saudaranya. Sikap Rabbani saat ini memang sudah sangat jauh berbeda. Sikap dan sifatnya sedikit jauh peduli kepada orang lain. Karena sebelumnya Rabbani adalah orang yang tertutup untuk orang lain, kecuali dengan keluarga.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2