
✨✨ KAFE ✨✨
Azzam sedang duduk di sebuah kafe bertabur macam warna lampu, di temani 5 wanita mengelilingi dirinya, kafe khusus kalangan orang tertentu. Terlihat banyak gadis memakai baju kurang bahan, dan beberapa pria mulai dari muda dan berumur duduk menjadi satu, rangkul-rangkulan di atas sofa. Di depan mereka tersedia kartu untuk bermain.
“Tuan Azzam, apakah kamu mau bertaruh?” tanya seorang wanita cantik memakai baju ketat, sehingga membuat lekuk tubuh dan belahan terlihat jelas.
“Tentu. Kali ini aku akan bertaruh senilai 50 juta rupiah. Buat apa ada donatur uang, tapi tidak dihamburkan.” Sahut Azzam dengan sombongnya, tangan kanan mengambil beberapa tumpukan uang dari dalam saku jas kanan/kirinya. “Lihat, uang sudah ada di depan mata.” Azzam menepuk dadanya. “Aku orang kaya, kalau hanya 50 juta kecil.” Sambung Azzam dengan sombong, kedua tangan dibuka lebar merangkul 2 wanita yang duduk di samping kanan/kirinya.
Melihat Azzam mengeluarkan uang bergepok-gepok, 5 wanita yang duduk bersama tergiur untuk mendapatkan uang dengan jumlah besar yang di miliki Azzam. Kelima wanita tersebut mulai merayu Azzam dengan berbagai cara untuk bisa mendapatkan uang milik Azzam.
“Kalau begitu, boleh tidak aku servis tuan sampai puas.”
“Aku akan berikan hal di mana belum aku berikan kepada pelanggan lain.”
“Aku juga akan memberikan kepuasan tersendiri buat tuan Azzam.”
“Apa kalian semua bisa bermain malam ini?” tanya Azzam, tangan kanan/kiri mencolek wajah kelima wanita tersebut.
“Sanggup.” Sahut serentak kelima wanita tersebut.
“Jangan sombong dulu kamu, Azzam. Buktikan dulu kalau kamu bisa menang dan mengalahkan kami semua.” Ucap pelanggan yang datang dan duduk di bangku bersama dengan Azzam.
“Iya, betul.” Sambung beberapa pelanggan yang lain.
Azzam melonggarkan kancing baju bagian atas, tangan kanan memanggil wanita pengocok kartu. “Kocok kartu buat kami.”
Kartu pun mulai di kocok, permainan sengit baru di mulai. 1 ronde, 2 ronde, dan 3 ronde, Azzam terus menang. Kemenangan dirinya pun membuatnya sombong kepada para pelanggan yang datang.
Sesuai janjinya kepada 5 wanita tersebut, Azzam berdiri, membawa 5 wanita tersebut pergi dari kafe menuju hotel.
Bagaikan lintah, mulai dari keluar kafe, hingga sampai ke Hotel, kelima wanita tersebut terus menempel. Hal itu membuat para pengunjung hotel melihat Azzam yang terus berjalan sampai masuk ke dalam kamar Hotel khusus bintang lima.
.
.
💦💦 Di dalam kamar 💦💦
Azzam duduk di sofa, jas yang ia pakai kini sudah di lepas dan di gantung rapih. Kelima wanita tersebut kembali menempel ke Azzam, kedua tangan mereka mulai menjelajahi bagian tubuh Azzam yang penuh dengan otot.
“STOP!” ucap Azzam meninggikan nada suaranya.
“Kenapa?” tanya kelima wanita itu serentak.
__ADS_1
“Yang kalian mau itu hanya uang, ‘kan?”
“Ti-tidak.” Sahut salah satu wanita yang berdiri di belakang sofa.
Azzam mendongakkan wajahnya, menatap wanita yang berdiri di belakangnya. “Jika kamu tidak ingin uang, maka pulanglah. Separuh dari 500 jt yang baru saja aku menangkan untuk aku buat bersenang-senang, selebihnya aku akan berikan kepada Ibuku. Masing-masing dari kalian akan aku kasih uang sebanyak 20 jt, asal….”
“Asal apa?”
“Asal kalian bermain sendiri, dan aku jadi penontonnya.”
Kelima wanita tersebut mulai melepaskan tubuh dan pelukannya dari Azzam, para wanita saling bertatap muka sambil berkata, “Bagaimana ini?”
“Jika tidak ada yang mau, maka aku akan memberikan kalian ongkos pulang masing-masing ke rumah. Walaupun aku tidak memberikan uang sebanyak 20 jta, tapi aku tetap akan memberikan uang buat ongkos kalian pulang.”
“Ka-kami pulang saja.” Ucap keempat wanita dengan serentak.
Azzam mendongakkan wajahnya ke atas, menatap wanita yang tadi menolaknya hanya diam membisu di belakang. “Kamu kenapa diam saja, bukannya tadi kamu tidak mau?”
“A-aku akan melakukannya.”
“Baiklah. Karena hanya kamu yang mau, maka kita akan bermain petak umpet di dalam kamar ini berdua. Bagaimana?”
“Baik.”
“Dasar.” Ucap salah satu wanita kepada wanita yang masih berdiri di belakang Azzam.
“Ayo kita pulang.” Ucap wanita yang lainnya.
Setelah kelima wanita tersebut pulang, tinggallah salah satu wanita yang masih berdiri di belakang Azzam. Tangan kanan Azzam menepuk sofa kosong yang ada di sisi kanan, “Sini duduk. Aku ingin menanyakan sesuatu tentang kamu.”
“Ba-baik tuan.” Sahut wanita tersebut, kedua kaki melangkah dan duduk di samping Azzam.
“Kenapa kamu mau bertahan denganku di sini?”
“Karena aku membutuhkan uang tersebut untuk membayar hutang.”
“Oh.” Azzam mengangguk.
“Maafkan saya telah menolak permintaan tuan.”
“Tidak masalah. Kamu tenang saja.” Azzam menepuk bidang dadanya, “Aku pria yang baik, walaupun aku pria yang jahat, tapi tetap saja aku pria yang baik.”
“Jadi apa yang akan kita lakukan?”
__ADS_1
“Buka.” Ucap Azzam, jari telunjuk tangan kanan mengarah dari atas sampai bawah.
“Ba-baju saya, tuan?”
Azzam mengangguk. Setelah melihat wanita tersebut menuruti keinginnya, Azzam kembali menepuk sofa yang ada di sisi kanannya, “Kembali duduk.”
Wanita itupun nurut.
Azzam memegang dagu wanita tersebut, “Kita akan memulai permainan petak umpetnya. Kamu cukup pejamkan mata, dan biarkan aku yang memulai permainannya.” Bisik Azzam lembut.
“Ba-baik.” Sahut wanita itu patuh.
Azzam memulai serangannya, dengan lembut dirinya mengulum bibir wanita tersebut, tangan kanannya menjalar ke seluruh tubuh yang polos. Karena tidak merasa puas bermain di atas sofa, Azzam menggendong wanita tersebut menuju ranjang. Azzam melepaskan satu-persatu bajunya.
“Sudah pernah melakukannya?”
“Be-belum. Karena aku masih baru di sini.” Sahut wanita tersebut polos.
“Tapi aku tidak percaya sebelum membuktikannya.” Ucap Azzam.
“Baiklah, buktikan saja tuan.”
“Ini tidak akan sakit. Kamu cukup pejamkan mata seperti kita sedang bermain petak umpet.” Ucap Azzam merayu wanita tersebut.
“Baik.” Sahut wanita tersebut memejamkan kedua matanya.
Azzam memulai aksinya kembali, ciuman manis mulai Azzam layangkan dari atas sampai bawah, dan terhenti di titik pusat. Mendengar ada suara lembut yang keluar dari mulut wanita tersebut, Azzam mulai memasukkan rudal miliknya ke gua sempit. Benar kata wanita tersebut, jika dirinya belum pernah melakukan apa pun. Terbukti dari satu tetes darah yang menodai seprai merah.
Setelah menghabiskan waktu 2 jam lebih untuk berolahraga di dalam kamar, hingga membuat nafas Azzam dan wanita tersebut naik-turun dengan cepat, keringat mengalir bebas di seluruh tubuh. Azzam duduk, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, tangan kanannya membelai lembut puncak kepala wanita yang sedang terbaring dengan lembut.
“Setelah ini, carilah uang yang halal buat diri kamu dan keluarga kamu. Aku tahu gadis miskin seperti kalian sangat membutuhkan uang, dan cara kotor seperti ini memanglah muda untuk menghasilkan uang dengan cepat. Aku cuman berpesan, cukup sama aku saja kamu tidur, jangan sama yang lain. Kasihan badan cantik kamu nanti di rusak oleh orang lain. Tapi jika kamu butuh uang, telpon saja aku, aku akan memberikan uang untuk kamu. Tapi tidak gratisan, ya. Ada kerja ada upah. Karena kamu tidak berbohong kepadaku, maka aku akan memberi kamu uang lebih, asal kamu mau lanjut sampai 2 hari.”
“Apa! Dua hari?”
“Hahaha, bercanda.” Sahut Azzam melambaikan tangan kanannya.
Wanita tersebut duduk, kedua tangannya memegang kedua tangan Azzam. “Tidak. Aku akan melakukannya. Asal tuan memberikan saya uang buat membayar hutang, dan…” wanita tersebut menundukkan wajahnya, “Sebenarnya saya ingin membuka usaha, tapi saya tidak memiliki modal. Jika uang yang tuan beri kepada saya cukup, maka saya akan berhenti bekerja seperti ini.”
Sudut bibir Azzam menaik, kepala mengangguk.
‘Ha ha. Ternyata seperti ini rasanya jika kita memiliki banyak uang. Mengeruk dari yang lama, dan habiskan untuk yang diri sendiri. Azzam-Azzam, kamu memang sangat pintar. Teruslah nikmati hidup ini dengan hasil uang orang lain. Kamu memang manusia SERAKAH yang paling sempurna.’ Batin Azzam.
...Bersambung...
__ADS_1