SERAKAH

SERAKAH
BAB 31. KEKECEWAAN


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu setelah kejadian hari itu. Yusi dan Rabbani menutupi semua kejadian yang menimpa kepada mereka bertiga dari Laras, karena Yusi, dan Rabbani tidak ingin melihat Ibunya yang mulai berumur kuatir dengan anak-anaknya.


Yusi, Rabbani, dan Laras sedang berdiri di teras rumah. Sesuai janji Rabbani kepada Yusi, setelah lulus SMA, Yusi akan pergi ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya di sana. Sebenarnya berat bagi Laras untuk berpisah dengan putri kecilnya. Namun apa boleh buat, karena demi masa depan anaknya, Laras pun terpaksa merelakan Yusi ikut Rabbani pergi ke Jakarta dan meninggalkan dirinya sendirian di rumah yang cukup besar dan luas untuk seorang wanita paruh baya.


Yusi memeluk erat tubuh Laras yang mulai rapuh, “Ibu, Yusi pamit pergi. Ibu di sini harus makan yang teratur dan jaga kesehatan Ibu dengan benar ya?”


“Iya!” Laras melepaskan pelukan Yusi, tangan kanan membelai puncak kepala Yusi, “Kamu jangan kuatir, Ibu akan baik-baik saja di sini.”


“Kalau begitu, aku dan Yusi pamit pergi dulu 'Bu.”


“Hati-hati. Ingat, kalian berdua harus sering mengirim kabar ke Ibu!”


“Baik!” sahut Yusi dan Rabbani serentak.


Yusi dan Rabbani melangkah pergi meninggalkan Laras. Kini wanita paruh baya tersebut telah ditinggalkan oleh anak-anaknya yang ingin berkarir dan melanjutkan masa depan yang lebih cemerlang jauh dari rumah dan tempat anak itu di besarkan.


Laras berbalik badan saat melihat kedua anaknya sudah naik taksi online. Kedua kaki yang terasa berat melangkah meninggalkan teras rumah, air mata kesedihan dan kesunyian lolos begitu saja dari kedua mata letihnya, saat kedua kelopak mata teringat akan kenangan ketiga anak-anaknya yang masih berlari dan bermain di rumah


.


.


💫💫Di sisi lain💫💫


Bugh!


Bam!


Bug!


Azzam diberi beberapa pukulan dan tun-jangan oleh beberapa pria bertubuh tegap ke bagian tubuh Azzam secara bergantian. Satu minggu yang lalu Azzam pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dan kedua adiknya masih membela dirinya, tapi kali ini dirinya harus bertahan hidup dan ma-ti sendirian dihadapan para pengunjung tempat perjudian. Azzam hanya bisa meringkuk di atas lantai, tangan kiri memeluk perutnya, sedangkan tangan kanan memegang kepalanya untuk menghindari han-taman keras yang ia dapatkan dari beberapa pria yang mengelilingi dirinya.

__ADS_1


‘Semenjak aku berpisah dari janda miskin itu, nasibku berubah ketularan sial. Awas saja kalian semua, aku akan memberikan kalian pelajaran. Aku akan membuat kalian antara hidup dan mati. Tunggu saja pembalasanku.’


“STOP!” teriak seorang pria tampan, berjas cream, berambut rapih, tangan kanan memegang rokok cerutu.


Sekumpulan pria besar menghentikan aksi mereka, dan memberi jalan kepada pria berkulit hitam untuk bisa masuk melihat Azzam yang sedang terbaring lemah di atas lantai. Sekumpulan pria menundukkan pandangannya saat pria bertubuh kekar, dan berwajah tampan melintas.


“Tidak sampai matikan?”


“Tidak Bos!”


Pria bertubuh kekar dan berwajah tampan jongkok, tangan kiri memegang wajah Azzam yang di penuhi memar dan sedikit noda merah. Pria bertubuh kekar mendekatkan wajahnya ke wajah Azzam, “Tampan dan juga imut! Aku bisa membuat hutang judi kamu lunas, asal….” Pria tersebut mendekatkan bibirnya di daun telinga kiri Azzam, “Asal kita bermain sedikit.”


“Cih!” Azzam mendaratkan saliva ke wajah pria tersebut. Azzam yang sedang meringkuk berusaha bangkit, tangan kanan memegang perutnya, dan tatapan tajam ia arahkan ke pria tersebut. “Lebih baik aku ma-ti daripada melayani pria seperti kamu!”


Pria tersebut menggenggam erat rambut bagian atas, membuat Azzam menengadah, “Pilih hidup atau setengah dari hidup?”


“Tidak perlu repot-repot mengancamku. Aku tidak takut dengan siapapun, termasuk kamu!”


“Baik Bos!”


Bam!


Bug!


Bam!


Azzam kembali di layangkan tun-jangan dan puku-lan dari anak buah pria bertubuh tinggi dan kulit hitam.


“STOP!” teriak seorang wanita cantik, perut yang sedikit membuncit menerobos masuk ke dalam gerombolan pria bertubuh kekar. Wanita tersebut adalah Clara, pemandu karoke. Wanita yang pernah di renggut kesuciannya oleh Azzam tiga bulan yang lalu.


Anak buah dari pria tersebut menghentikan aksinya, tatapan suram mengarah ke Clara yang sedang memeluk tubuh Azzam.

__ADS_1


“Siapa kamu?” tanya pria tersebut atau Bos mereka.


“Siapa saya itu tidak penting bagi Anda. Kenapa kalian main hakim seperti ini, bukannya lebih baik permasalahan ini dibicarakan baik-baik.”


“Berisik!” pria berwajah tampan mendorong Clara hingga terjatuh. Tatapan suram dan tajam mengarah kepada Clara yang sedang terduduk, “Jika kamu ingin kami berhenti memberi pelajaran buat manusia tidak berguna seperti dia! berarti kamu sudah ada jaminan buat menggantinya?”


Clara membuang wajahnya ke sisi kanan, kedua kelopak matanya teringat dengan perlakuan Azzam yang sudah membuat masa depannya hancur. Kedua tangan menggenggam erat pinggiran baju terusan miliknya, “Tidak. Saya tidak punya jaminan apa pun!” Clara berdiri secara perlahan, “Saya hanya tidak ingin melihat seorang anak yang belum lahir ke dunia ini tanpa seorang Ayah.


Pria tersebut berjalan mendekati Clara, senyum manis terpancar saat melihat Clara dari atas sampai bawah. Kemudian terhenti di perut yang sedikit membuncit, “Oh! Jadi anak yang dimaksud itu adalah anak yang ada di dalam kandungan kamu?”


Clara berbalik badan, “Tidak! Saya hanya seorang wanita yang sudah ditinggalkan oleh pria yang tidak bertanggung jawab!” tangan kanan mengelus perut bagian depan, “Meski Ayahnya tidak tahu jika dirinya sudah hadir di dunia ini, tapi saya tidak tega melihat seorang pria yang akan menjadi Ayah, hidupnya akan berakhir menyedihkan sebelum melihat anaknya lahir.”


“Jangan berbohong kamu?”


“Iya,” Clara menundukkan sedikit kepalanya, “Saya permisi pamit pergi.”


“Eits!” pria tersebut menahan tangan Clara, “Karena kamu sudah ikut campur dalam urusan kami, dan kamu juga sudah membuang waktu'ku. Maka aku ingin kita sedikit bermain. Apa aku perlu meminta izin kepada Azzam?”


“Aku tidak mengenal wanita itu,” sela Azzam yang perlahan bangkit, tangan kanan memegang perutnya. Kedua kaki berjalan mendekati pria tersebut. “Kasih aku waktu 1 minggu lagi untuk melunasi hutang-hutangku kepada kamu!” Azzam berbalik badan, melirik sedikit ke Clara yang sedang berdiri dengan wajah yang terlihat bodoh. “Lain kali jangan ikut campur dengan urusan orang yang tidak kamu kenal. Nikmati kesenangan kamu bersama pria yang ada di hadapanmu!”


“Iya aku akan menikmatinya,” tangan kanan membelai lembut perut yang sedikit membesar, “Bersama dengan bayi yang aku kandung. Tapi ingat! Suatu hari nanti KARMA akan datang ke kehidupan kamu dan keluarga kamu. KARMA yang lebih pedih dan sakit dari yang aku rasakan.”


Hati Clara rasanya hancur berkeping-keping. Bukan ucapan terimakasih yang ia dapatkan dan ia dengar dari Azzam, malah rasa tidak bersalah Azzam dan merelakan Clara yang sedang mengandung harus menanggung imbas karena menolong dirinya.


Pria berwajah tampan merangkul tubuh kecil Clara, “Tenang saja, aku tidak akan berbuat hal buruk kepada kamu. Aku hanya ingin seseorang menemani hari-hariku.”


“Hidupku sudah hancur, apalagi yang harus aku takutkan saat kedua kaki harus terus berjalan dan melangkah di atas permukaan bumi yang kering dan penuh dengan duri.”


‘Jika kamu berhasil terlahir di muka bumi ini sebagai seorang laki-laki, Ibu berharap kamu akan menjadi seorang pria yang penuh dengan tanggung jawab dan tidak akan pernah menyakiti hati seorang wanita yang menyayangi dirimu. Jika kamu terlahir menjadi seorang perempuan, Ibu berharap kamu akan terlahir menjadi wanita kuat dan tangguh. Sesulit apa pun beban hidup yang akan kamu tanggung, Ibu akan tetap menuntun kamu ke jalan yang benar. Anakku, kamu harus tetap berjalan dan bertahan di atas muka bumi yang penuh dengan tipu muslihat.’


Seolah dirinya lupa akan semua kesalahan yang pernah ia lakukan, Azzam yang hampir seluruh tubuh di penuhi luka serta wajah memar dan lebam terus berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang. Tanpa melihat raut wajah Clara yang menahan kesedihan atas perlakuan dirinya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2