
Clara menyeka kasar air mata di kedua pipinya, “Terimakasih tuan. Baru kali ini aku bertemu dengan orang baik.”
Rabbani berdiri, tangan kanan menepuk bahu kiri Clara, “Aku bukan orang baik, aku hanya seorang pria yang ingin menebus kesalahan atas dosa-dosa mendiang Abang ku,” Rabbani mengarahkan jari telunjuk tangan kiri ke lantai dua, “Aku mau mandi. Setelah pekerjaan kamu selesai kamu boleh beristirahat. Aku pamit pergi,” Rabbani melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Clara.
Clara memegang dadanya, “Kenapa hatiku merasa ada debaran berbeda saat Rabbani menyentuh ku!" gumamnya pelan. Wajah beralih pandangan menatap punggung Rabbani sudah berjalan jauh di depannya.
.
.
✨PUKUL 06:30 PAGI✨
Rabbani perlahan berjalan turun, kedua tangan sibuk memegang tab miliknya sambil membaca beberapa dokumen miliknya.
“Selamat pagi!” sambut Clara dari bawah.
Rabbani menghentikan langkah kakinya, dan mematikan layar tab miliknya. Rabbani sedikit mengangguk, “Pagi juga,” Rabbani mengarahkan jari telunjuk tangan ke pintu, “Kamu tidak perlu memasak untuk makan siang, karena kemungkinan aku pulang malam,” Rabbani melangkah kembali, berdiri di depan Clara. Tangan kanan mengambil uang dari dalam saku, “Uang ini untuk membeli semua kebutuhan rumah dan kamu. Aku pergi dulu, jangan pernah membukakan pintu kepada siapa saja yang datang kecuali aku mengijinkannya.”
“Aku tadi sudah menyiapkan sarapan. Apa Anda yakin tidak ingin sarapan terlebih dahulu walau hanya dalam satu suapan,” ucap Clara mengarahkan tangan kanan ke ruang dapur.
Rabbani menatap jam di pergelangan kirinya, kemudian menatap tulus wajah Clara, “Baiklah, aku akan menyempatkan diri untuk makan meski aku akan terlambat.”
“Mari aku antar,” ucap Clara senang, kedua kaki melangkah pergi menuju ruang makan.
Untuk menghargai masakan Clara, niat Rabbani hanya makan satu suapan saja. Tapi saat nasi goreng pecah di dalam mulutnya, dengan cepat Rabbani menghabiskan nasi goreng di atas piring tanpa menyisakan satu butir nasi di atas piring. Rabbani juga menenggak habis satu gelas penuh air putih, dan berdiri.
“Aku pergi dulu,” ucap Rabbani melangkah pergi dengan terburu-buru.
“Hati-hati” sahut Clara menatap kepergian Rabbani. Clara tersenyum manis saat melihat masakannya dilahap habis tanpa sisa oleh Rabbani, “Suami idaman” Clara tersadar dengan ucapannya, ia pun menggeleng, “Apa yang kamu pikirkan Clara, sadar diri kamu dan dia itu jauh berbeda. Kamu hanya wanita kotor dan dia pria baik dengan hati yang tulus.”
Tok!tok
Baru sepuluh menit Rabbani keluar, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Clara melirik dari ke ruang tamu dari depan ruang dapur, “Perasaan baru pergi,” ucap Clara berpikir jika itu adalah Rabbani. Clara melangkahkan kedua kakinya menuju pintu depan. Saat Clara ingin membuka pintu, ia baru ingat jika pintu rumah belum ia kunci karena Rabbani baru saja pergi. Baru ingin mengunci pintu terdengar suara tendangan pintu.
Brak!
Clara langsung terpelanting ke belakang.
“Akh!” keluh Clara merasa sakit di bagian bokongnya.
__ADS_1
“Ternyata kamu benar di sini!” ucap suara serak dari seorang pria berkulit hitam dan dua anak buah berdiri di belakangnya.
...ILUSTRASI...
.......
.......
Clara segera bangkit, saat kedua kaki hendak berdiri, tubuh Clara segera di gendong di atas bahu pria berkulit hitam tubuh tinggi dan besar.
“Lepaskan….lepaskan!” teriak Clara memukul punggung pria berkulit hitam.
“Karena kamu sudah membuat aku rugi, maka aku akan membuat kamu membayar semua kerugian yang kamu buat padaku!" pria berkulit hitam meletakkan tubuh Clara di atas sofa ruang tamu.
“Tidak! Jangan sentuh aku,” teriak Clara berusaha melawan pria berkulit hitam.
“Dulu kamu tidak pernah berteriak seperti ini saat aku menginginkannya. Apa pria itu lebih hebat dariku?” pria berkulit hitam mulai menjalarkan kedua tangannya di dalam rok Clara.
“Aku tidak serendah itu. Tolong jangan lakukan apa pun lagi padaku!” berontak Clara. Namun kedua tangan langsung di pegang oleh kedua anak buahnya.
“Oh! Apa aku salah masuk rumah?” tanya Rabbani dari depan pintu rumah.
Pria berkulit hitam, dan kedua anak buahnya menatap wajah tenang dan polos Rabbani. Pria berkulit hitam berdiri, jari-jemari basah ia bersihkan di celananya, “Kamu rupanya!” ucap pria berkulit hitam sambil melangkah.
Rabbani melirik ke Clara sedang mengenakan kembali segitiga miliknya, tangan kanan Rabbani melambai, “Hai! Apa aku datang sedikit terlambat?”
Clara tercengang, air mata kembali menetes, kedua kaki gemetar membawa tubuhnya jatuh ke lantai.
“Oh! memang benar aku datang sedikit terlambat,” Rabbani membunyikan leher dan kedua jari-jemarinya.
“Kamu sudah ikut campur terlalu jauh,” kedua tangan melambai, “Habisi pria ini,” tegas pria berkulit hitam kepada kedua anak buahnya.
“Baik Bos,” sahut kedua anak buah serentak, berlari ke arah Rabbani.
“Hiakh!” satu tunjangan meleset dari perut Rabbani.
“Kalian sudah membuat aku terlambat menjumpai klien, kalian juga sudah membuat usahaku rugi besar. Sudah cukup aku bersabar!” ucap Rabbani meninggikan nada suaranya.
__ADS_1
Bam!
Bugh!
Bam!
Siapa sangka Rabbani seorang pria lembut, baik, datar, dan sopan ternyata ahli dalam ilmu bela diri. Hanya dalam sekali gerakan pria berkulit hitam dan kedua anak buahnya sudah tersikat habis dengan cedera parah.
Setelah semua disikat habis, Rabbani berjalan ke arah Clara. Rabbani berjongkok, memeluk tubuh gemetar Clara, “Kamu jangan kuatir, aku akan selalu melindungi kamu dari orang jahat yang ingin melecehkan kamu.”
Tangisan Clara kembali pecah di dalam pelukan Rabbani, “Hiks!hiks"
Rabbani membawa Clara berdiri, “Tadi aku sempat berpapasan dengan mereka di persimpangan jalan. Aku segera menelpon pihak yang berwajib, tapi karena aku tidak sabar melihat kamu dibuat seperti itu. Akhirnya aku turun tangan sendiri,” Rabbani membawa Clara duduk di sofa, “Kamu jangan takut lagi.”
“Kenapa kamu rela membantuku, padahal aku hanyalah wanita…”
Rabbani membungkam mulut Clara, “Sejahat dan sekotor apa pun seorang wanita. Wanita tetaplah wanita, mereka harus dihargai dan dilindungi. Wanita ibarat cahaya dan cermin di dalam rumah,” Rabbani membelai puncak kepala Clara, “Kamu jangan memikirkan apa pun lagi,” Rabbani berdiri, “Sebaiknya kamu ganti pakaian kotor kamu, kalau bisa kamu buang saja baju yang sudah pria itu sentuh.”
“Tapi ini adalah baju…”
“Aku akan mengganti baju yang lebih bagus buat kamu,” sambung Rabbani memutus ucapan Clara.
“Aku permisi pamit pergi dulu,” dengan tubuh masih gemetar Clara segera beranjak pergi meninggalkan Rabbani.
Melihat Clara sudah berjalan jauh, Rabbani berjalan ke arah pria berkulit hitam dan kedua anak buahnya. Tumit sepatu Rabbani menekan tulang kering pria berkulit hitam, dan menggerakkannya dengan kuat, “Kamu benar-benar pria sampah. Kamu sudah membuat sofa mahal ku menjadi kotor karena perbuatan kamu. Karena aku tidak ingin rugi, aku akan meminta uang ganti rugi atas perbuatan kamu!”
“Sa-sakit! A-ampuni saya,” keluh pria berkulit hitam kedua tangan memohon kepada Rabbani.
Rabbani semakin ujung tumit tapak sepatunya, “Sakit kamu bilang? Seharusnya kamu juga mendengar lirih dari seorang wanita yang ketakutan berharap lepas dari kedua tangan kotor kamu!”
“I-iya, a-ampuni saya!”
“Tidak ada kata ampun,” Rabbani masih berbalut emosi kembali melayangkan dengkulnya ke wajah pria berkulit hitam.
Bug!
Gigi rontok, dan darah melayang.
...Bersambung...
__ADS_1