
Waktu terus berjalan, tepat 1 bulan kemudian. Azzam dan Yusi semakin hari semakin memiliki sifat dan sikap yang buruk di luaran. Sikap dan sifat di mana Laras dan Rabbani tidak pernah mengetahuinya, karena Azzam dan Yusi menyimpan sifat dan sikap SERAKAH dan busuk mereka dengan rapat-rapat.
Yusi yang selalu di teror arwah penasaran dari mendiang orang tuanya yaitu Deni, dan di teror oleh dosa-dosanya, kini malah menambah dosa baru dengan menikmati kenikmatan dunia yang diberikan secara gratis oleh Andra untuk memberikan rasa senang, penghilang rasa takut yang selalu menghantui hati dan pikiran Yusi.
Di tempat lain, Azzam sedang bermain kartu, dan terus menikmati taruhan yang membuat dirinya kini merugi dan memiliki hutang 1 miliyar yang harus di tutupinya. Sedangkan wanita yang terus ia keruk uangnya, sudah jatuh miskin dan di campakkan begitu saja oleh Azzam.
.
.
💦💦 Di kediaman rumah Andra 💦💦
Yusi sedang terbaring di dalam selimut lembut bersama seorang pria tampan, yaitu Andra. Andra yang tak memakai baju bagian atas membawa kepala Yusi menyandar di bidang dada kekar miliknya, tangan kiri membelai lembut bagian puncak rambut Yusi yang lepek karena berkeringat.
“Yusi, kapan kamu akan mengurus perusahaan kamu sendiri?”
Yusi mendongakkan wajahnya sedikit ke atas, “Kenapa?”
“Tidak, aku hanya bertanya saja. Aku ingin melihat wanitaku duduk dengan anggunnya di dalam kantor Mall terbesar yang ada di kota ini, dan aku juga akan mengantar jemput kamu setelah pulang dari kantor. Keinginan terbesar seorang pria kepada wanitanya.”
“Sebenarnya aku tidak tertarik untuk mengurus Mall itu, makanya aku membiarkan Ibu yang mengurusnya.” Yusi yang hanya berbalut selimut duduk, menyandarkan bagian tubuhnya di badan Andra, tangan kanannya mengambil tangan kiri Andra dan meletakkannya di atas paha kanannya, “Setelah tamat sekolah aku ingin pergi ke Jakarta. Aku ingin kuliah di sana, dan tinggal bersama Abang keduaku. Dan hubungan tanpa status, atau hanya teman di atas ran-jang juga harus berhenti setelah aku pergi.”
Andra memalingkan wajahnya ke sisi kanan. ‘Sial. Kenapa dia harus pindah, aku pikir apa yang aku lakukan sudah membuat dirinya nyaman untuk tinggal di sini bersamaku. Bagaimana caranya agar wanita ini mau bertahan di sisiku, agar aku bisa terus-menerus mengeruk hartanya. Agar dia tidak pergi, aku harus membuat dia bertahan di sini, maka aku harus menekan dirinya dengan video tentang kami.’ Batin Andra.
“Bagaimana denganku. Setelah pengorbanan yang aku berikan kepada kamu, apa kamu tetap ingin meninggalkan aku di sini?”
“Bukannya kita tidak memiliki status satu sama lain, melainkan teman tidur? Aku juga sudah memberikan semuanya. Aku juga sering memberi kamu uang jika kamu membutuhkannya. Jadi, kita impas.”
“Haa! Impas?” Andra berdiri, tangan kanan mengambil benda pipih yang berada di atas meja samping kepala ranjang. Andra segera membuka layar ponsel miliknya, dan menunjukkan beberapa rekaman yang diam-diam ia ambil, “Kamu lihat ini!”
“Andra! Berani sekali kamu melakukan itu kepadaku. Apa mau kamu?” sahut dan tanya Yusi, kedua tangan hendak mengambil benda pipih yang di pegang oleh Andra, namun tidak bisa di raih.
“Mauku adalah UANG.”
__ADS_1
“Bukannya aku sudah memberikan apa yang kamu inginkan.” Yusi meraih benda pipih itu kembali, “Berikan ponsel kamu. Aku akan menghapus bukti rekaman itu dan aku tekankan kepada kamu, jangan mencoba untuk menyebarkannya.”
Sudut bibir kanan Andra menaik, wajah ia dekatkan ke wajah Yusi, “Apa imbalannya?”
“Apa kamu mencoba mengancamku?”
“Menurut kamu?”
“Baiklah.” Yusi berdiri dan turun dari ranjang, membungkukkan tubuhnya, tangan kanan dan kiri mengambil pakaian miliknya yang berserakan di atas lantai, dan langsung memakai pakaian miliknya. Yusi berdiri tegak menghadap Andra, bibirnya tersenyum manis saat kedua mata menatap tajam wajah Andra, “Kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu. Kita akan buat ini seperti film yang ada di dalam drama.”
Andra duduk tegak, “Jangan macam-macam kamu, gadis licik.” Ucap Andra meninggikan nada suaranya.
Yusi berbalik badan, kedua kaki melangkah cepat meninggalkan kamar, kedua tangan berusaha merusak beberapa baju kancing kemeja sekolah miliknya, dan kedua tangannya mengoyak rok sebelah kanan miliknya.
“Yusi! Berhenti kamu.” Teriak Andra berusaha menghentikan Yusi yang terus berjalan cepat menuruni anak tangga.
“Tidak, sebelum kamu menghapus semua video kita.”
“Baik, aku akan menghapusnya.” Melihat perbuatan Yusi seperti sedang merencanakan hal buruk buat dirinya, Andra segera menghapus beberapa rekaman. “Lihat, lihat galeri video ini sudah bersih.” Tangan kanan Andra menunjukkan galeri ponsel yang sudah bersih dari rekaman.
“Ka-kamu mau ke mana?”
“Pergi dan menghilang dari hadapan kamu.” Yusi membuka perlahan pintu ketupat.
“Kamu pikir bisa semudah itu pergi dari genggamanku.” Ucap Andra, tangan kanan menahan pergelangan kiri Yusi.
“Lepaskan.”
“Tidak bisa. Aku akan menanam buih cinta, agar kamu bisa menjadi milikku seutuhnya, dan kamu tidak akan bisa lepas dari diriku.”
‘A-apa yang akan dilakukan lelaki ini. Aku harus segera pergi dari rumah ini, sebelum aku dijadikannya Sandra.’ Batin Yusi. Yusi berbalik badan, saat kaki kanan hendak melangkah pergi, kedua tangan Andra menyelinap di bagian pinggul Yusi, menggendong Yusi dan membawanya pergi meninggalkan pintu rumah yang sudah terbuka.
Bam!
__ADS_1
Andra menjatuhkan tubuh Yusi di atas sofa, kedua tangannya berusaha membuka gasper celana miliknya, tatapan tajam dan suram terus tertuju pada Yusi yang sedang duduk di sofa.
“Ha! Berani kamu bermain licik denganku, maka aku akan mempermainkan kamu.”
“Lepaskan!” Kedua tangan berusaha mendorong lekuk perut Andra. Namun, tenaga Andra lebih kuat daripada Yusi. Tidak tahu harus berbuat apalagi, Yusi memukul perut Andra, agar dirinya bisa terbebas dari jeratan Andra.
“Kita akan bermain sebentar saja, setelah itu, kamu akan aku lepaskan.” Hanya dalam satu tangan Andra bisa menggenggam erat kedua pergelangan tangan Yusi, dan melilitkan tali pinggang manis di kedua pergelangan tangan Yusi. Andra berdiri, “Sepertinya tidak asik jika kita bermain di sini. Aku akan membawa kamu kembali ke kamar, dan kita akan bermain kejar-kejar di dalam kamar.” Ucap Andra pelan, namun perkataan tersebut membuat seluruh tubuh Yusi merinding dan dingin.
“A-apa yang akan kamu lakukan?” tanya Yusi dengan suara yang hampir tidak bisa keluar dari mulutnya.
Dengan tergesa-gesah Andra menggendong tubuh Yusi kembali naik menuju kamar miliknya. Setelah meletakkan Yusi di atas ranjang, Andra mengunci pintu kamar miliknya, dan membuang kunci di atas lantai begitu saja, hingga kunci yang terjatuh masuk ke dalam kolong laci lemari rias. Sepanjang perjalanan menuju ranjang, Andra perlahan melepaskan celana yang ia kenakan.
“Wajah kamu terlihat gugup, bukannya hal ini sudah sering kita lakukan selama 1 bulan lamanya. Dan kamu terus memberikan aku imbalan uang di setiap aku membutuhkannya. Karena satu bulan lagi mendekati kelulusan sekolah, dan kamu berniat untuk meninggalkanku. Maka aku akan memberikan sedikit butir-butir cinta di…” tangan kanan Andra menjalar bebas di perut Yusi, “di sini.” Lanjut Andra.
“Sudah tidak waras kamu!” Yusi berusaha bangkit namun tidak bisa, karena tubuhnya sudah tertindih tubuh Andra. “Biarkan aku pergi, Andra.”
Andra tidak menghiraukan rintihan pedih dari bibir Yusi, tangan kanan Andra bermain di suatu titik sensitive milik Yusi. Andra kembali memasukkan rudal miliknya ke gua milik Yusi. Pinggul Andra kembali bergoyang dengan riang, mengikuti alur nikmat yang ia rasakan dengan berbagai macam gaya yang ada di pikirannya.
Yusi memejamkan kedua matanya, dengan bibir bawah yang ia gigit agar menahan suara indah yang ingin dia keluarkan.
‘Breng*sek. Dia melakukan ini lagi kepadaku. Aku harus mencari cara agar aku bisa terbebas dari jerat pria jahat ini. Sepertinya aku harus pingsan. Ia, aku harus segera pingsan.’ Batin Yusi.
Kedua kaki perlahan turun dan jatuh ke bawah, kedua tangan yang ia kepal erat perlahan terbuka dan jatuh dengan lemas. Melihat Yusi terkulai lemas, Andra menghentikan aksinya. Ia segera beranjak turun dari tubuh Yusi, kedua tangannya menepuk pelan pipi Yusi.
“Hei, pasti ini akal-akalan kamu, ‘kan?”
Plak!!
Untuk menyakinkan Yusi beneran pingsan atau tidak, Andra melayangkan tangan ke pipi kanan Yusi.
“A-aku harus segera mengambil minyak kayu angin untuk menyadarkan dirinya.” Andra segera berlari keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil kotak P3K yang di simpan di lemari gantung kecil dapur.
“Sakit juga.” Keluh Yusi, tangan kanan mengelus pelan pipinya yang memerah akibat bekas tamparan Andra. Yusi segera turun dari ranjang, tak lupa tangan kanan mengambil tisu dan segera membersihkan bagian tubuhnya yang basah. Karena Yusi masih mengenakan baju lengkap dan hanya segitiga yang tidak ia kenakan, Yusi mempercepat langkah kakinya keluar dari kamar. Yusi terus berlari dan berlari, hingga dirinya berhasil keluar dari rumah Andra dengan pakaian dan tubuh yang terlihat menyedihkan.
__ADS_1
...Bersambung...