SERAKAH

SERAKAH
BAB 82. Aku sangat mencintai kamu


__ADS_3

Pukul 19:30 Malam


Mobil di tumpangi Jiji dan Rashi sudah berada di depan rumah Anggun. Pintu gerbang sedikit terbuka, terlihat keluar seorang pria paruh baya memakai seragam satpam dari dalam gerbang. Pria paruh baya tersebut mendekati mobil milik Rashi. Rashi pun terlihat menurunkan kaca jendela mobil miliknya.


“Ada yang bisa saya bantu non?” tanya Pak satpam tersebut.


“Aku ingin bertemu dengan Anggun. Apakah dirinya ada di rumah?” tanya Rashi sopan.


“1 jam yang lalu nona Anggun sudah pergi menuju kediaman rumah tuan Rabbani. Katanya ada urusan penting,” ucap Pak satpam memberitahu Rashi.


“Kalau gitu terimakasih Pak. Kami akan segera ke sana,” sahut Rashi perlahan menutup kaca jendelanya, menghidupkan mobil dan pergi meninggalkan kediaman rumah Anggun.


Pak satpam menggaruk kepala tak gatal, kedua bola mata memandang lurus ke mobil Anggun sudah jauh dari pandangan, “Kami? Bukannya wanita itu sedang duduk sendiri. Tapi kenapa wanita cantik dan kaya seperti dia mobilnya sangat baik. Ah…sudahlah bukan urusanku,” ucap Pak satpam membuyarkan pikiran negatif nya.


Tidak ingin ketinggalan momen penting, Rashi mempercepat langkah laju kendaraannya. Sorot matanya terlihat tidak senang saat dia mengetahui Anggun menuju rumah Rabbani.


“Apa yang ingin kamu lakukan ketika bertemu dengan Anggun?” tanya Jiji.


“Kamu yang membereskannya, bukan aku. Tunjukkan kepada Rabbani kalau yang membunuh Istrinya itu adalah Anggun, bukan aku. Buat juga Anggun merasakan apa yang Clara rasakan sebelum akhirnya dirinya meninggal dunia. Apa kamu paham!” tegas Rashi memberi perintah.


“Baik,” sahut Jiji patuh.


1 jam kemudian mobil milik Rashi akhirnya sampai di kediaman rumah Rabbani. Terlihat di depan teras ada Anggun, dan satu orang wanita mirip dengan mendiang Clara.


Rashi menutup mulutnya, “Tidak mungkin,” gumam Rashi melihat mendiang Clara hidup kembali.


Jiji memegang bahu kiri Rashi, “Kamu jangan takut, wanita itu adalah jelmaan dari mendiang istri Rabbani. Aku bisa menanganinya,” sambung Jiji.


“Tapi kenapa arwah bisa menjelma menjadi manusia?” tanya Rashi penasaran.


“Setiap makhluk yang meninggal dengan cara yang tidak wajar sudah pasti akan bergentayangan, dan menutut balas dendam kepada para pelakunya,” sahut Jiji santai.


“Habislah aku,” keluh Rashi merasa dirinya sedang mengantar nyawanya sendiri untuk dihabisi oleh arwah mendiang Clara.


“Kamu jangan takut. Sudah mari kita turun,” ucap Jiji.


“Baiklah,” sahut Rashi patuh.


Rashi membuka seatbelt miliknya, membuka pintu dan turun. Kedua kaki Rashi melangkah menuju teras rumah Rabbani.


Melihat Rashi datang ke rumah Rabbani, Anggun membulat kan kedua “Kamu!” ucap Anggun menatap kedatangan Rashi.


“Kenapa? Kamu pasti tidak percaya jika aku akan datang ke rumah Rabbani,” sahut Rashi perlahan mendekati Anggun.


“Mau apa kalian kemari?” tanya Rabbani datar.


“Tentu saja ingin menemui kamu!” sahut Anggun dan Rashi serentak.


Prok!prok!


“Kalian wanita yang hebat. Bukannya kalian yang sudah membunuh saudaraku,” sambung Lala dengan tatapan tajam mengarah pada Anggun dan Rashi.


“Dia yang menyantet Clara,” tuduh Rashi ke Anggun.

__ADS_1


“Wanita munafik kini sudah berkumpul. Bukannya ini adalah hal yang bagus. Menempatkan kematian di tempat yang benar,” sela Lala datar.


Di sela-sela perdebatan Anggun, Rashi dan Lala. Terdengar suara Kek Rusdi.


“Hei, setan. Berhentilah kau berpura-pura menjadi manusia. Sekarang tunjukkan wujud asli kamu!” ucap Kek Rusdi berjalan menuju teras rumah.


Lala melipat kedua tangannya, “Waduh! Kenapa Kakek membongkar kedokku di depan suamiku. Bukannya sudah aku peringatkan untuk tidak mengganggu Suamiku!” Lala memutar tubuhnya. Dan kini Lala berubah menjadi sosok hantu arwah Clara.


Rabbani mundur dua langkah ke belakang, “Clara,” ucap Rabbani.


“Suamiku, janganlah engkau takut dengan sosok asliku. Aku sengaja melakukan ini karena aku ingin melindungi kamu dari kedua wanita ini!” tegas arwah Clara mengarahkan kedua tangannya ke Anggun dan Rashi.


“Omong kosong. Hentikan semua ini di sini. Dan mari kita lihat siapa yang akan menjadi pemilik harta dari Rabbani,” sambung Anggun semangat.


“Kamu pikir kamu akan menang dariku. Tunggu saja,” ucap Rashi. Rashi bersiul, “Cieut!”


Wusshh!!!


Angin kencang tiba-tiba saja datang, membuat semua dedaunan kering berterbangan ke arah mereka.


“Akh! Apaan ini?” tanya Anggun menghalau semua daun kering menyapa wajahnya.


“Ha ha ha ha” terdengar suara tawa cukup besar di tengah-tengah mereka.


“Sial. Kamu benar-benar sudah menguasai peliharaan ku. Karena kamu sudah merebut setan terkuat milikku, maka kamu akan rasakan ini Rashi!” Kek Rusdi mengulurkan tangannya ke Rashi. Membuat angin kencang merobohkan tubuh Rashi.


Wush!


“AKh!” keluh Rashi terpental membentur tiang.


“Sini lawan aku!” tegas Kek Rusdi membawa kedua kakinya berlari mendekati Jiji.


“Hiaakk!!!!”


“Matilah kau ke Neraka, manusia mesum!” teriak Jiji berlari ke arah Kek Rusdi.


Bam!


Bug!


Swiishh!!!


Wushsh!!!


Wushh!!


Pertengkaran Kek Rusdi dan Jiji terjadi. Mereka pun adu kekuatan dan malah melupakan niat awalnya untuk menyingkirkan arwah Clara.


Mendengar pertengkaran hebat dari teras rumah. Anton, Ratna, Budi, dan May segera berlari menuju teras rumah.


“Ada apa ini tuan?” tanya Anton terkejut saat melihat ada sosok tak kasat mata bisa ia lihat dengan jelas saat ini.


“Lihat ada arwah nona Clara di sini!” tunjuk May ke sebelah Rabbani.

__ADS_1


“Sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi,” ucap Anton, Budi, dan Ratna pingsan saat melihat arwah Clara melambai ke arah mereka.


Rabbani menepuk dahinya, “May, tolong telpon pihak yang berwajib. Aku akan mengurus Anggun dan Rashi,” ucap Rabbani memberi perintah.


“Baik,” sahut May segera mengambil benda pipih dari dalam sakunya.


Rabbani mendekati Rashi, dan menggenggam pergelangan tangannya, “Sekarang sudah berkahir. Kamu harus menerima hukuman sesuai dengan perbuatan kamu,” ucap Rabbani memutar arah tangan Rashi ke belakang.


“Tidak, aku tidak bersalah!” teriak Rashi.


“Diam!” bentak Rabbani.


Tidak ingin ditahan oleh pihak berwajib, Anggun melayangkan tumit sepatunya ke kaki Rabbani, “Rasakan ini!”


Bam!


“Akh!” keluh Rabbani merasa sakit pada ujung jempol kakinya.


Rashi segera membawa kedua kakinya berlari menuju mobilnya. Namun, sebelum sampai mendekati mobilnya. Sebuah kayu melayang dan menetap ke perut Rashi.


Jlub!


“Akh!” langkah kaki Rashi langsung terhenti. Kedua kakinya melemah, dan akhirnya harus terjatuh dengan posisi terlungkup.


“Rashi!” teriak Jiji menatap tubuh Rashi sudah tumbang dan jatuh ke tanah.


“Ups! Sakitnya?” tanya arwah Clara sambil menggoyang-goyangkan baju gaun putihnya.


Melihat Rashi sudah meninggal dunia. Jiji marah besar, hanya sekali kibasan tangan panjang dan kuku panjangnya mero-bek perut Kek Rusdi.


Srak!!


“Akh!” kedua tangan Kek Rusdi menutup perutnya, kedua kaki lemah berlutut dan tersungkur di atas tanah.


Arwah Clara melayang bebas di udara. Kedua tangannya mengulur ke Jiji berada di bawahnya, "Rasakan ini!" teriak arwah Clara mengeluarkan angin dari kedua telapak tangannya.


Wush!


Wsuh!


Namun serangan itu ditepis oleh Jiji. Jiji segera berlari dan melompat ke arah arwah Clara, “Kamu akan ikut bersamaku ke Neraka!” teriak Jiji.


“Baiklah, mari kita pergi bersama-sama,” sahut arwah Clara dengan santainya. Tangannya segera menarik lidah panjang Jiji. Dengan centilnya arwah Clara berlari di atas udara sembari membawa lidah Jiji hingga lidah itu terle-pas, dan Jiji pun musnah seperti debu di udara.


Setelah masalahnya selesai dengan Jiji. Arwah Clara melayangkan kayu ke arah Anggun, “Hust!” tiup arwah Clara menuju Anggun.


Jlub!


“Akh!”


Melihat arwah Clara terlihat sangat jahat, Rabbani berjalan ke arahnya, kepala mendongak ke atas, “Clara, aku tidak suka dengan cara kamu seperti ini!”


“Maafkan aku, aku hanya ingin melindungi kamu. Sekarang tugasku sudah selesai, aku pun harus pulang kehadapan sang pencipta dengan anak kamu!” ucap arwah Clara. Arwah Clara perlahan naik ke udara, “Aku sangat mencintai kamu, Rabbani. Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya,” sambung arwah Clara menghilang di langit gelap.

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2