
Sidang Perceraian merupakan sidang putusan yang akan membuat hubungan antar suami istri menjadi sah berpisah baik secara hukum maupun secara agama. Namun masih banyak juga dari lain pihak yang mempertanyakan apakah perceraian harus di lakukan dengan persidangan.
Pada dasarnya, masih terdapat beberapa cara lain untuk menghindari proses sidang perceraian. Antara lain dengan melakukan talak ataupun mendapatkan surat cerai secara online. Namun sidang perceraian juga memiliki beberapa alasan yang mengharuskan Anda harus melakukan persidangan dalam perkara cerai. Alasan tersebut adalah adanya proses mediasi terlebih dahulu dari pihak pengadilan.
Pihak pengadilan ataupun hakim akan melakukan proses mediasi tersebut sebagai langkah awal sebelum persidangan perceraian tersebut dimulai. Jika terdapat kata sepakat antara suami dan istri dalam proses mediasi tersebut, maka sidang perceraian tidak perlu dilanjutkan kembali. Namun jika proses mediasi jauh dari kata sepakat, maka mau tidak mau proses sidang perceraian wajib tetap dijalankan.
Beruntung Sidang perceraian Adzilla dengan Bari hanya berlangsung selama tiga bulan. Saat tahap mediasi, Bari sempat menolak cerai, namun Adzilla tak ingin lagi hidup bersama dengan Bari.
Memang Adzilla tidak pernah merasakan kekerasan dari Bari, tamparan saat berkunjung ke rumah ibu mertuanya pertama kali ia merasakan tamparan dari tangan besar Bari.
Tetapi ia tidak ingin luka batin terus menganga dan mengganggu kesehatan mental. Cukup tujuh tahun ia hidup bersama Bari.
Sepuluh menit yang lalu, persidangan terakhir usai. Status janda bersanding padanya, kini.
Janda di usia muda, beranak dua lagi.
Adzilla menggeleng memikirkan nasib ke depannya bagaimana. Hanya satu hal yang ia pikirkan. Harus kuat demi kedua anaknya.
"Ayo kita cari kedua anak mu dimana, ayah sudah ingin pulang."
Adzilla mengangguk. Memang saat persidangan, Askar memilih membawa ke dua anaknya. Entah kemana perginya mereka.
Ia memasukkan akta cerai ke dalam tas lalu mengikuti ayah Yusuf yang sudah berjalan lebih dahulu.
Indera penglihatan terus mengedar di setiap sisi pelantaran gedung Pengadilan Agama. Dan netra matanya menangkap tiga orang sedang duduk di bawah pohon rindang.
Tungkai kaki ia arahkan melangkah kesana di ikuti Ayah Yusuf.
"Kenapa jauh sampai ke sini sih?" sungut Adzilla karena sempat khawatir.
Yang ditanya hanya nyengir kuda.
"Zilla, sudah jangan dimarahin Askar nya, apa nggak kamu lihat, dia sedang kesusahan memangku Sania yang tidur dan jadi bahan sandaran Satria?" Ayah Yusuf merasa tidak enak hsti karena sudah merepotkan malah memarahi Askar.
"Enggak apa, pak. Sania juga baru tidur." kilah Askar berbohong tetapi sepertinya Satria menyadari Askar tengah berbohong.
Anak berusia enam tahun itu mendongak menatap Askar lalu menatap kakeknya, ayah Yusuf.
"Om Askar bohong kek, dari tadi adik Sania minta gendong sama pangku om. Adik manja sekali, padahal sudah besar."
Adzilla mendengar itu hanya bisa menelan saliva dengan kasar. Bahkan ia merasa heran mengapa Sania menjadi begitu manja pada Askar, padahal jika bersamanya gadis kecilnya itu sangat pengertian.
Gegas ia mengambil Sania yang tertidur dari pangkuan Askar. Rasa tidak enak hati menyergap dirinya. Di gendong Sania mengenakan kain batik yang ia bawa tadi.
__ADS_1
"Makasih, As." ucapnya tulus dan lihatlah pria di depan nya ini selalu menampilkan senyum padanya.
"Nggak perlu, kak."
Adzilla menatap Askar dengan tatapan penuh sesal. Bagaimana bisa ia selalu dingin dan ketus pada Askar padahal dengan tukus pria itu selalu ada untuknya dan kedua anaknya.
"Maaf." gumam Adzilla yang masih terdengar di telinga Askar.
Askar hanya mengangguk lalu meminta ponselnya pada Satria karena mereka harus segera kembali dan ia berjalan ke pinggir jalan dimana tempat loket bus untuk membeli tiket untuk ayah Yusuf dan Satria. Sedang ia, Adzilla, dan Sania mengendarai motor matic nya.
Pengadilan Agama terletak cukup jauh dari kota tempat mereka tinggal, lebih tepatnya berada di kota sebelah yang jaraknya 3 jam dari kota mereka.
Askar kembali membawa dua tiket dan menyerahkan pada ayah Yusuf. Tak lupa Ayah Yusuf mengucapkan terimakasih. Kemudian pamit pulang lebih dahulu membawa Satria.
"Hati-hati Yah. Nanti langsung pulang saja naik becak ya, jangan tunggu kami di kota." ucap Adzilla.
"Iya, ya sudah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ayah Yusuf dan Satria masuk ke dalam Bus dan tak berapa lama Bus itu berangkat.
"Ayo kita berangkat." ujar Askar membuyarkan keheningan dan di angguki Adzilla.
"Oh, ternyata kamu selingkuh makanya nggak mau di ajak rujuk?" sindir ibu Bari.
"Aku gak pernah selingkuh, bu."
Tapi agaknya ibu Bari tidak percaya. "Halah, ngaku saja. Perempuan seperti kau itu nggak pernah bersyukur. Pantas anak ku talak kau kan? syukurlah anakku akhirnya pisah dari kau. Paling dia juga bakal talak kau juga."
Adzilla dan Askar tampak diam saja.
"Dan ingat, jangan harap Bari kasih uang bulanan untuk anak-anak mu." setelah mengatakan hal itu, ibu Bari berlalu begitu saja.
...***...
Askar menoleh kearah Adzilla yang sudah meneteskan air mata. Untuk pertama kalinya ia memberanikan diri memeluk wanita pujaan hatinya itu.
"Maafkan aku, kak. Karena aku membuat mu di tuduh seperti itu."
Ia merasakan Adzilla menggeleng dan bertambah terisak. Di tepuk-tepuk punggung wanita itu secara perlahan berharap segera tenang.
"Menangislah hari ini. Jadikan ini adalah tangis terakhirmu untuk mereka yang menyakitimu. Dan esok adalah hari mu yang baru. Jangan ada tangisan untuk mereka lagi, aku akan selalu ada untuk mu."
__ADS_1
Ada sedikit rasa bingung karena Adzilla semakin terisak bahkan tangan wanita itu memukul, bukan sakit namun geli dan itu bisa berbahaya untuknya.
Askar menggeleng ketika otaknya mulai traveling.
"Kak, jangan di pukul." celetuknya dan berhasil membuat Adzilla urung bahkan dengan cepat ia berdiri tegak kembali.
Sepertinya wanita itu baru sadar jika baru saja berada dalam pelukan nya. Askar menahan senyum melihat wajah polos Adzilla yang memerah. Entah karena habis menangis atau malu.
"Sudah tenang?" tanya Askar.
Adzilla mengangguk.
"Ya sudah, tunggu di sini. Aku ambil motor dulu. Jangan kemana-mana." Askar berlalu ke parkiran sepeda motor.
Sedang Adzilla masih berdiri di tempat dengan memukul kepala nya sendiri merutuki ke bodohan nya dengan nyaman berada di pelukan pria muda itu.
Apa yang kau lakukan Zilla, jangan terlihat seperti wanita butuh belaian. Kau seperti jablay. Hah... Jika di pikirkan memang jablay. Apa itu tadi? di peluk? kenapa buat jantungku begini?
Sepeda motor Askar berhenti tepat di depan Adzilla. Askar menyerahkan helm pada Adzilla dan membantu mengenakan nya karena satu tangan Adzilla harus menjadi penyanggah kepala Sania dalam gendongan nya.
"Kakak bisa naiknya?" tanya Askar sepertinya pria itu tahu pasti Adzilla akan kesusahan naik karena mengenakan gamis.
"Tahan ya." Adzilla terpaksa berpegang pada pundak Askar agar memudahkan naik ke motor matic itu.
"Sudah kan? kita berangkat ya."
❤️
TBC
Assalamualaikum
Emak ada sedikit rejeki ini.
Emak mau bagi-bagi pulsa untuk 3 orang terbanyak mendukung karya emak di novel SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
Enggak banyak, masing-masing pulsa 10 ribu.
Jadi mulai sekarang rajin kasih hadiah, vote, dan like komen nya ya..
Pengumuman emak umumin 2 hari sebelum Lebaran ya.
Oh iya, jangan lupa ikuti akun NT emak ya, biar emak undang ke grub chat emak.
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa❤️❤️