SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
32. Melepaskan


__ADS_3

Setelah menemui dan mengajak Adzilla berbicara juga meminta bantuan ayah Yusuf tetapi tak berhasil. Askar menjadi pria dingin.


Berjualan pun tak banyak bicara walau ketika jualan tetap memasang senyuman. Ia juga lebih banyak menghabiskan waktu di Mesjid membaca Alqur'an tanpa ada yang tahu.


"Assalamualaikum." ucap Askar ketika baru saja pulang dari Masjid untuk sholat Zuhur.


"Waalaikumsalam."


Askar menoleh melihat Hana dan Heri sedang makan siang kemudian melangkahkan kaki menuju kamar untuk menyimpan peci dan sarung barulah ikut makan bersama.


Askar sama srkali tak membuka suara ketika makan dan itu membuat Hana dan Heri menghembuskan nafas panjang.


"As." panggil Heri setelah Askar selesai makan hendak bangkit membawa piring kotor ke dapur.


"Ya, bang." sahut Askar.


"Kau sehat? kenapa akhir-akhir ini abang lihat kau jarang makan di rumah?" Memang seperti itulah Askar, lebih banyak menghabiskan waktu di Masjid hingga melupakan waktu makan.


Askar tersenyum. "Aku makan di luar." jawab nya sedikit berbohong.


"Boleh abang tanya?" tanya Heri dan di angguki Askar.


"Apa kau benar-benar serius dengan perasaan mu pada mantan tunanganmu, As?" tanya Heri karena selama ini ia memerhatikan adik iparnya walau tak pernah berkomentar apapun.


Askar menghela nafas sevelum menjawab. "Seserius apapun kalau Zilla memilih meninggalkan ku buat apa, bang?"


Heri manggut-manggut. Hingga sekarang ia tak tahu penyebab batalnya pernikahan antara Askar dengan Adzilla.


"Boleh abang tahu kenapa kau suka dengan Adzilla yang notabane nya perempuan lebih tua, janda, juga sudah punya anak? kita sama-sama laki-laki. Mungkin abang bisa memahami mu. Yang abang tahu laki-laki itu lebih suka perempuan yang lebih muda?"


"Jangan sama ratakan penilaian orang, bang. Aku benar-benar tulus padanya. Dia wanita hebat, aku banyak belajar darinya."


"Tapi kau harus tetap tanggung jawab pada Mentari, dek." Hana menyela obrolan antar pria itu. Bagaimana pun ia tak ingin adiknya lepas dari tanggung jawab atas perbuatan yang sudah merenggut kesucian dari anak gadis orang.


Askar menoleh ke arah Hana merasa heran mengapa ucapan Hana tak jauh berbeda dengan ucapan Adzilla tempo hari.


"Apa yang harus ku pertanggung jawabkan, kak? bahkan aku gak pernah memulai menyentuh kulit Mentari secuil pun. Waktu kondangan tempat Tami waktu itu pun dia yang merangkul lenganku. Apa itu yang harus ku pertanggung jawab kan hanya karena rangkulan itu? seharus nya Adzilla lah yang lebih berhak mendapat pertanggung jawaban ku karena sering sekali aku menyentuh kulitnya." Setelah mengatakan itu tanpa menunggu jawaban dari Hana, Askar berlalu meninggalkan rumah. Sungguh, ia tak ingin berdebat dengan kakaknya, Hana.

__ADS_1


Sedang Hana duduk termangu mendengar semua yang dikatakan Askar. Sebenarnya, ucapan Mentari ketika mereka mendatangi Adzilla belum dapat dipercaya olehnya. Itu karena ia sangat mengenal adiknya. Ia juga tahu bagaimana Askar berpegang teguh untuk sebuah hubungan. Dirinya lah yang mengajari Askar untuk tidak kurang ajar pada wanita.


Itu makanya hingga sampai saat ini belum bisa percaya pada Mentari dan tidak membujuk Askar untuk bertanggung jawab walau Mentari terus mendesaknya agar menikahkan Askar dengan wanita itu.


"Apa maksud dari bicaramu tadi, dek?" tanya Heri.


Akhirnya Hana menceritakan semuanya dan tidak percaya atas ucapan Mentari walau berhasil membuat Askar dan Adzilla batal menikah.


"Apa kau sudah gila, dek? hanya karena ke egoisan, kau pertaruhkan kebahagiaan Askar? Hati mu terbuat dari apa? Dan apa yang membuat mu gak bisa menerima Zilla sebagai ipar mu?" sentak Heri tak habis pikir dengan apa yang di lakukan istrinya itu.


"Aku cuma mau Askar mendapatkan perempuan yang sepadan, bang."


"Perempuan sepadan yang bagaimana? perempuan yang tanpa malu mengakui pernah melakukan hubungan badan sebelum menikah? apa kau gak dengar tadi perkataan Askar? Kau egois, Hana." Heri meninggalkan Hana begitu saja.


...***...


Disinilah Askar, di rumah kontrakan yang seharusnya menjadi tempat tinggalnya bersama Adzila dan kedua anak wanita itu.


Istana yang sudah ia persiapkan semampunya harus pupus di tengah jalan. Tetapi rumah kontrakan ini sudah terlanjur di sewa selama setahun ke depan.


Di kamar belakang ada tempat tidur, lemari pakaian, dan meja hias khusus kamarnya dengan Adzilla.


"Mimpiku terlalu tinggi untuk hidup bersamamu. Tetapi tidak denganmu, Zilla." Askar memejamkan mata merasa lelah dan kurang enak badan akhir-akhir ini.


...****...


Di rumah ayah Yusuf.


Adzilla baru saja sampai setelah mengantarkan Satria mengaji. Sama seperti yang lalu, hanya itulah kegiatan nya. Ayah Yusuf benar-benar tak mengizinkan Adzilla untuk bekerja karena selalu mengatakan jika ayahnya itu masih sanggup membiayai Adzilla sampai menemukan jodoh kembali.


Adzilla membuka pesan whatsapp dari Askar dua jam yang lalu. Hembusan nafas terasa berat mengingat nama itu kembali.


Masih cinta? sudah pasti.


Askar :


*Ingin kau bahagia walau tidak denganku, walau harus aku yang terluka. Jujur, berpisah denganmu adalah takdir Tuhan yang paling tidak aku inginkan. Namun, di sisi lain aku percaya kehendak-Nya adalah jalan yang pasti akan berujung indah, pilihan-Nya adalah tepat dan yang pasti akan sama-sama kita syukuri suatu saat.

__ADS_1


Walau harus kenyataan pahit dulu yang diterima, harus luka dalam dulu yang didapatkan kan, dan harus air mata dulu yang dijatuhkan.


Kelak siapa pun yang akan menjadi pengganti diriku. Semoga dia lebih baik dalam segala hal termasuk mencintaimu, genggam erat tangannya serat aku yang pernah menggenggam tanganmu, dekap kuat tubuhnya sekuat aku yang pernah mendekap tubuhmu, lindungi dirinya semampumu seperti aku yang pernah melindungi dirimu*.


Aku aku tak pernah sesalkan kita dan semuanya, mungkin memang hanya sebatas jadi cerita.


Air mata Adzilla luruh membaca pesan itu. Pesan yang baru saja di baca meruntuhkan hati nya.


Hancur lebur.


"Bahkan ini lebih sakit dari pada menahan luka batin selama tujuh tahun hidup bersama Bari."


"Akhirnya kau melepaskan cinta mu, cinta kita As. Selamat sayang. Semoga kau bahagia bersama Mentari. Terimakasih untuk kenangan indah yang kau ciptakan untukku."


"Terimakasih." Adzilla menangis tersedu-sedu sembari menggenggam ponsel di dada nya. Sungguh, jika hanya masalah restu Adzilla akan berusaha mendapatkan restu itu.


Tetapi keadaan berbeda, Askar harus bertanggung jawab, pikirnya.


โค๏ธ


TBC


*Hayoo.. Gimana? kita udahin salah paham nya atau lanjut ini?


PENGUMUMAN PEMENANG PULSA DARI EMAK. SILAHKAN JAPRI AKU YA.


@windirfinola


Sesuai aku bilang, pendukung 1-3 di novel SETITIK CAHAYA (JANDA KESAYANGAN BERONDONG TAMPAN) maka akan mendapat pulsa 10.000 dari aku.


Sekali lagi selamat untuk pemenang ya..


Selamat Hari Raya Idul fitri


Mohon maaf lahir dan batin๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™*


__ADS_1


__ADS_2