
"Mau ya ikut." bujuk Askar.
"Aku malu, As. Kamu saja deh, itukan teman-teman kamu." tolak Adzilla untuk kesekian kali.
Sedari tadi Askar terus saja membujuk Adzilla untuk menemaninya menghadiri acara pesta pernikahan teman sekolah nya dahulu.
"Nggak perlu malu, kak. Kita hanya sebentar."
Adzilla menatap Askar dengan intens membuat pria muda itu salah tingkah. Gimana nggak malu? bahkan sudah resmi jadi calon suami saja kau masih memanggilku, kakak!
"Aku enggak mau."
"Kakak enggak seru ah. Padahal aku kan mau kenalin kakak ke teman-teman ku." mendadak wajah Askar berubah muram durja dan hal itu membuat Adzilla ingin tertawa karena wajah pria itu nampak menggemaskan dan juga iba.
"Baiklah, tapi pulang jangan latut malam ya."
Askar tersenyum dengan mata berbinar. "Oke, aku pulang dulu. Nanti malam aku jemput ya."
Adzilla mengangguk. Askarpun pamit pulang setelah berpamitan pada Adzilla dan mengucap salam, Askar benar-benar pulang.
Adzilla masuk ke dalam rumah mencari Ayah Yusuf untuk meminta izin pergi bersama Askar malam nanti dan menitipkan kedua anaknya kepada sang ayah.
"Apa kau senang ikut bersama Askar?" tanya ayah Yusuf.
"Sebenarnya tadi aku sempat menolaknya, yah. Tapi melihat wajah sedih Askar aku merasa kasihan dan akhirnya menyetujuinya." sahut Adzilla sembari mengusuk kaki ayah Yusuf.
Ayah Yusuf tersenyum. Ia tentu sangat tahu jika putrinya itu ingin ikut bersama Askar tetapi gengsi untuk mengakuinya. Sangat terlihat jelas raut wajah binar dari Adzilla.
" Pergilah, nak. Kau harus lebih dekat dengan Askar agar ketika menikah nanti lebih mengenalnya."
Adzilla memeluk Ayah Yusuf dengan erat. "Apa Ayah bahagia sekarang yang melihat Zilla bersama Askar?"
"Tentu sayang, kau harus tetap bahagia."
"Makasih, yah."
Ayah Yusuf mengangguk. "Sudah sana siap-siap. Jangan sampai calon menantu ayah lama menunggu mu."
Adzilla langsung bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Untuk pertama kalinya setelah menerima Askar, ia di bawa pergi.
Sesuai perkataan Askar tadi ia menjemput Adzilla setelah ba'da Maghrib. Tanpa ada rencana dari awal mereka memakai pakaian dengan warna yang sama, tapi lihatlah malam ini mereka berdua sangat tampak serasi dengan kemeja panjang yang dikenakan Askar dan dan gamis yang dipakai Adzilla dengan warna senada.
Askar diam terpaku melihat penampilan Adzilla yang tampak berbeda jauh lebih cantik dengan make up natural. Sedang Adzilla tanpa senyum tertunduk tersipu malu.
"Kakak sangat cantik." puji Askar jujur karena baru pertama kali melihat wajah ayu Adzilla di balut dengan make up.
__ADS_1
"Kita enggak jadi pergi, deh." celetuk Askar membuat Adzilla memberanikan diri menatapnya.
"Kenapa?"
"Aku enggak rela wajah kakak di pandangi laki-laki lain."
Adzilla tercengang sekaligus senang secara bersamaan. Ia pun memukul lengan Askar membuat pria tersebut terkekeh.
"Kakau tahu gitu tadi aku nggak perlu dandan begini dan pakai gamis cantik begini." ucap adzilla sewot.
"Iya-iya, ayo kita pergi."
"Tapi jangan panggil aku kakak terus dong. Masa iya calon istri di panggil kakak."
Askar tersenyum dan hanya mengangguk sebagai jawaban karena baginya memanggil Adzilla dengan sebutan kakak adalah sebagai bentuk hormat pada wanita itu.
Setelah berpamitan kepada ayah Yusuf dan kedua anak Adzila, mereka berdua berangkat ke tempat resepsi pernikahan teman Askar.
Sesampainya di tempat acara tersebut Adzila tampak ragu kembali, bagaimana tidak ia akan ikut bergabung dengan teman-teman Askar yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
"Jangan takut, tetaplah bersamaku."
"Kau mah gitu."
Adzilla mencebik bibir. "Itu mah mau nya kau, jangan macam-macam, As."
Askar menggeleng. "Aku enggak macam-macam. Nanti saja kalau sudah nikah baru banyak macam. Ya sudah kalau nggak boleh genggam tangan kakak." Setelah mengatakan itu, mereka berjalan beriringan memasuki tempat acara.
Adzilla melihat raut wajah Askar nampak kecewe akhirnya berinisiatif merangkul lengan kanan Askar. Perbuatan wanita membuat Askar menoleh menatap Adzilla meminta penjelasan.
"Jangan lebih dari ini." kata Adzilla dan diangguki Askar.
"Makasih, sayang."
Tiba di hadapan meja prasmanan rangkulan itu di lepas dan menerima piring yang di berikan penjaga hidangan.
Adzilla mengingat dahulu ketika masih menjadi istri Bari, ia akan mengambilkan makanan jika sedang berada di pesta begini. Ya, Bari selalu minta di layani dimana pun berada ketika hendak makan.
"As, mau aku ambilkan?" tawar Adzilla siapa tahu Askar juga sama seperti Bari ketika makan di luar rumah.
"Enggak, kak. Aku malu." sahut Askar sembari mengambil makanan yang di hidangkan.
"Kenapa malu?" tanya Adzilla lagi sembari melakukan hak yang sama.
"Cukup di rumah saja kakak layani aku. Sini piring nya aku yang bawa, ini pasti berat." Adzilla melongo karena piringnya di ambil begitu saja. Dan apa tadi katanya? berat? Adzilla menggeleng tak percaya.
__ADS_1
Benar dugaan Adzilla bahwa ia akan di bawa berkumpul dengan teman-teman Askar. Di tambah lagi ada Mentari disana.
"Sayang, sini." ujar Askar menepuk bangku di sebelahnya.
"Ciyee.. Sayang."
"Askar ngerih ah. Biasanya sama Reza mulu."
"Kok mau lah kau sama Askar. Dia itu playboy."
"Lain lagi ku lihat ini, As."
"Kalian ini, jangan gitu lah woy.. Aku nunggu nya sampai lebaran capung baru di terima." tukas Askar karena melihat Adzilla merasa tak nyaman.
Di beranikan menggenggam tangan Adzilla di atas paha wanita itu. Tak ada niat lain selain menguatkan.
Ia tahu, mungkin di usia wanita itu sudah tak ada lagi becandaan seperti tadi. Karena biasanya wanita di usia mereka sudah memikirkan masa depan.
"Makanlah." bisiknya di tengah keramaian.
Adzilla mengangguk. Askar pun memulai makan juga tapi sebelum itu, ia sudah menyediakan minuman untuknya dan Adzilla.
Selesai makan teman-teman Askar mengajak ngobrol kembali. Seperti biasa Adzilla hanya menjadi penonton dan pendengar saja tetapi kali ini ia sangat tidak suka melihat Mentari yang terus mencoba mencari kesempatan untuk bisa berdekatan dengan Askar.
Semua itu membuat Adzilla cemburu. Di rangkul kembali lengan Askar dengan posesif untuk menunjukkan pada Mentari bahwa Askar adalah miliknya.
Sang empunya tangan tentu menoleh karena perbuatan Adzilla. Tetapi yang di lihat justru memasang wajah cemberut.
"Maaf. Kita balik srkarang?"
Adzilla mengangguk tetap merangkul lengan Askar. Askar pamit kepada teman-temannya. Adzilla melirik ke arah Mentari yang memasang wajah tak suka padanya.
Keduanya berjalan ke pelaminan memberikan ucapan selamat. Askar merasa heran mengapa Adzilla masih saja merangkulnya dengan posesif.
"Kakak, kenapa?"
"Kau apa gak merasa kalau Mentari terus saja mencoba mendekatimu?"
Askar diam sejenak lalu menggeleng.
"Kau sangat menyebalkan."
❤️
TBC
__ADS_1