SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
25. Sayang


__ADS_3

Di dalam Islam, pernikahan itu bukan hanya berbicara tentang hubungan pria dan wanita yang diakui secara sah secara agama dan hukum negara, dan bukan hanya berbicara kebutuhan biologis laki-laki dan perempuan saja, tetapi pernikahan dalam Islam sangat erat kaitannya dengan kondisi jiwa manusia, kerohanian (lahir dan batin), nilai-nilai kemanusian, dan adanya suatu kebenaran.


Tidak hanya itu, pernikahan dalam pandangan Islam merupakan kewajiban dari kehidupan rumah tangga yang harus mengikuti ajaran-ajaran keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Hal ini senada dengan yang tercantum di dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang berbunyi “perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”


Maka dari itu, perkawinan atau pernikahan bisa dikatakan sebagai salah satu perilaku manusia yang baik atau terpuji yang telah diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan tujuan untuk membuat hidup manusia menjadi lebih baik lagi. Selain itu, pernikahan yang baik juga bisa membuat hubungan suami istri menjadi lebih harmonis dan kebahagiaan akan menghampiri.


"Kak."


"Hem, tolong ambilkan potongan tomat itu dong."


"Nih. Masak yang enak ya calon istri." Askar mengedipkan satu mata membuat Adzilla melotot.


"Ya ampun, kak. Sebentar lagi kita nikah masih galak saja." imbuh Askar lagi sembari melakukan apa yang di katakan Adzilla.


Saat ini mereka berdua berada di dapur rumah ayah Yusuf menyiapkan makan siang. Seperti biasa, jika ingin menemui Adzilla maka Askar akan langsung ke rumah Ayah Yusuf setelah pulang berjualan di Pasar.


Askar memerhatikan Adzilla sedang membawa panci ke kamar mandi. Ingin membantu tetapi pujaan hatinya itu menolak.


"As. Mandilah, aku sudah siapin air hangat untuk mandimu."


Askar menggeleng mendengar ucapan dari Adzilla. Bagaimana mungkin?


"Kak, kau buat aku seperti benar-benar anak kecil." rajuknya.


Lihatlah, bukan membujuk justru tersenyum kemudian duduk di depan nya. Tetapi ucapan nya membuat hati menghangat.


"Manfaat mandi dengan air hangat bagi kesehatan karena kulit mampu merilis hormon endorfin ketika dibasahi air hangat. Karena itu, mandi air hangat dapat memberikan efek terapeutik dan menyegarkan. Aliran darah ke kulit jadi meningkat."


"Ada banyak manfaat mandi air hangat, As. Tapi sebenarnya lebih bagus mandi air hangat sebelum tidur malam. Nanti kalau kita sudah menikah, bakal aku siapin untukmu."


Ternyata cara membujuk Adzilla mampu membuat hatinya bertekuk lutut kembali. Inilah yang disukai dari seorang Adzilla Rahma. Wanita itu bukan seperti wanita diluar sana yang akan menangis atau merengek untuk dimaafin atau bahkan kembali marah ketika pasangannya marah.


Ia suka Adzilla yang dewasa. "Pengen cium, boleh?"

__ADS_1


"Nanti kalau sudah nikah lebih dari itu juga boleh. Sekarang mandi. Ayah dan anak-anak segera pulang. Aku selesaikan masak dulu ya."


Tetapi Askar tak sabar menunggu hari itu. Mengulang kebiasaan selama berhubungan dengan Adzilla. Di kecup lama ujung tiga jemarinya lalu di tempelkan ke kening Adzilla.


"Aih, suka sekali begitu." gerutu Adzilla namun pipinya merona atas perlakuan Askar.


"Aku sudah enggak sabar tahu. Aku mandi dulu ya." Askar masuk ke dalam kamar mandi yang masih satu ruangan dengan dapur.


Setelah pertunangan dua minggunlalu, Askar lebih sering mendatangi rumah Ayah Yusuf pada siang hari karena hanya waktu itu yang ia punya.


"Kak, handuk." serunya membuka sedikit pintu kamar mandi.


Ini bukan seperti di cerita novel atau sinetron lain nya yang akan menarik atau memamerkan tubuh dari pemeran protagonis pria nya.


Askar benar-benar membuka sedikit pintu itu yang hanya tangan nya saja dapat keluar dari pintu. Ia juga malu dan menghargai Adzilla.


"Makasih." Askar segera menutup pintu. Elusan di dada karena selalu merasa gugup ketika berdekatan dengan tunangan nya itu.


Di lihat pakaian kotor nya. Dengan cepat ia mencuci pakaian itu. Bisa malu jika Adzilla mencuci pakaian dalaman nya.


"Papi.." sorak Sania membuat Askar tersenyum mendekati Sania mengecup pipi gadia kecil itu lalu mengecup pucuk kepala Satria kemudia duduk di seberang Sania.


"Kenapa di cuci pakaianmu, As?" tanya Adzilla sembari mengambilkan makanan untuk ayah Yusuf, kedua anak nya, dan terakhir untuk Askar.


"Gak apa, kak. Aku enggak mau kakak repot." sahut Askar sembari mengambil piring Adzilla untuk diisi makanan.


"Itu terlalu banyak, As."


Askar terkekeh kemudian meminta maaf. Ia mengurangi nasi yang telah diambil kemudia sayur dan lauk sesuai intrupsi Adzilla.


Ayah Yusuf tersenyum melihat interaksi keduanya. Ada rasa tenang di hati melihat bagaimana Askar begitu nampak sangat menyayangi putri dan kedua cucunya.


Mereka memukai makan siang setelah bersoa di pimpin Satria. Semuanya makan dalam diam selain Satria dan Sania karena sang abang harus menjawab setiap pertanyaan sang adik. Bila tidak maka bisa di pastikan Satria akan di ganggu terus menerus.

__ADS_1


...****...


"Kak, ada yang ingin aku bicarain." ucap Askar ketika baru selesai makan siang. Kini keduanya sedang berada di teras rumah sedang kedua anak Adzilla sudah tidur dan ayah Yusuf pamit pergi keluar.


Adzilla hanya mengangguk.


"Sebenarnya kakak sayang dan cinta aku nggak, sih? cuek banget gak ada manja nya."


Askar melongo melihat Adzilla tertawa. Apa benar wanita yang sudah bergelar sebagai tunangan nya itu tidak memiliki perasaan padanya?


"Kenapa berpikir seperti itu?"


"Ya ampun kak, sikap kakak bisa di nilai para readers kalau kakak itu gak sayang dan cinta aku. Cuma aku yang begitu."


Adzilla nampak menghela nafas. "Apa tindakan ku gak cukup untuk menjawab pertanyaan mu, As?"


Askar menggeleng karena menurutnya itu lebih dari cukup. "Kak, sebenarnya bukan itu yang mau aku omongin. Aku mau tanya gimana akad kita nanti."


Ia tersenyum melihat Adzilla tersenyum malu-malu. Tidaķ tahu saja jika ia pun gugup berdekatan dengan Adzilla.


"Aku mau sederhana saja, As. Boleh aku minta akad nya di Mesjid?"


Askar pun mengangguk karena permintaan Adzilla begitu mudah dan hal itu juga keinginan nya.


"Kakak mau nggak kalau kita sudah menikah, kita ngontrak rumah sendiri?" tanya Askar hati-hati karena tak mau merasa jika ia memisahkan Adzilla dengan ayah Yusuf.


Tetapi melihat senyuman Adzilla membuat merasa tenang kembali.


"Tentu. Aku akan mengikuti kemana kau mau. Dan bisa kah kau jangan memanggilku kakak lagi? Aku terlihat tua kalau masih di panggil kakak sama calon suami sendiri."


Askar tak dapat menahan tawa karena ucapan dan raut wajah masam Adzilla. Sangat sulit untuk nya mengubah panggilan itu karena sebagai bentuk hormat nya pada Adzilla. Tetapi ucapan wanita itu ada benarnya.


"Baiklah, mulai sekarang aku panggil sayang."

__ADS_1


❤️


TBC


__ADS_2