SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
51. Bahagia


__ADS_3

"Suamiku, aku hamil."


Askar terkekeh lalu mengelap peluh di dahi Adzilla dengan mengulas senyuman.


"Sayang, kalau capek bilang saja. Maka aku akan berhenti," ucapnya sembari pinggulnya bergerak memutar. Ini dilakukan karena ular piton babon nya telah bangun kembali.


Kedua pandangan mata mereka bertemu. Seketika Askar menelan saliva nya karena tahu jika pandangan Adzilla kali ini berubah menjadi serius.


"Baiklah, aku sudah selesai," Akhirnya Askar melepas penyatuan mereka lalu berguling ke sebelah Adzilla. Di ambilnya selimut untuk menutupi tubuh keduanya.


"Jangan tidur dulu, yang. Ayo kita mandi dan sholat Subuh," ajak Askar dan benar saja, suara gedoran pintu kamar mereka terdengar nyaring.


"Mami."


"Mami."


Askar dan Adzilla saling pandang, sejurus kemudian keduanya buru-buru turun lalu memakai pakaian yang berserakan di lantai. Setelah berpakaian, Askar membuka pintu dan tampaklah kedua anak mereka. Satria berada di depan dengan wajah khas bangun tidur begitu juga dengan Sania sedang mengucek mata sembari memeluk boneka beruang.


"Papi kapan pulang?" tanya Satria yang sudah mulai terbiasa bangun pagi untuk sholat Subuh.


"Tadi malam,"Askar berjongkok memeluk kedua anak sambungnya.

__ADS_1


"Kita enggak sholat, Pi?"


"Sholat kok, Papi sama Mami mandi dulu ya," ucap Askar dan di setujui kedua anaknya.


Melihat kedua anak sambungnya pergi ke ruang tamu, Askar mendatangi Adzilla. "Anak-anak ajak sholat Subuh, Mami mandi lebih dulu."


"Papi nggak percaya kalau aku hamil?" tanya Adzilla.


"Nanti saja bahas itu, sekarang mandi dan berwudhu. Jangan menunda lagi. Waktu Subuh hampir habis," Askar memang selalu tegas bila masalah sholat wajib.


Adzilla pun pergi keluar kamar. Sebenarnya bukan tak ingin percayadengan apa yang telah diucapkan Adzilla. Tetapi Askar takut jika itu hanya harapan belaka.


Selama ini tanpa sepengetahuan Adzilla, setiap kali melaksanakan sholat malam Askar akan menangis mengaduh pada Sang Pencipta betapa ia menginginkan kehadiran buah hati di rahim Adzilla.


Setelahnya kekuarga kecil itu melaksanakan sholat dua rakaat. Satria dan Sania juga sudah bersiap.


Askar menjulurkan tangan ketika Adzilla akan mencium punggung tangan nya diikuti kedua anak sambungnya. Begitupun dirinya akan mencium kening ketiganya.


Ia hanya diam melihat Adzilla bangkit tanpa pamit masuk ke kamat membawa sesuatu dan menunjukkan nya.


Hening. Ia menatap haru benda pipih di tangan nya. Tanpa terasa matanya memanas, pandangan nya beralih menatap Adzilla yang tengah tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


Bahagia.


Hidupnya telah sempurna, kini.


"Sayang, terimakasih banyak," ucapnya tulus memeluk Adzilla. Di kecup punggung sang istri yang masih berbalut mukenah putih. Airmata keduanya tak dapat terbendung lagi.


Ini air mata kebahagiaan.


Di lerai pelukan itu kemudian di kecup seluruh wajah Adzilla dengan ucapan terimakasih terus menerus terlontar dari mulut nya. Tak lupa pula ia bersyukur dan berterimakasih pada Sang Pencipta yang telah mengabulkan segala doa nya.


"Papi sama Mami kenapa nangis?" tanya Sania.


Mendengar pertanyaan dari anak mereka sontah terkekeh karena melupakan keberadaan kedua anak mereka.


Askar menghapus air matanya kemudia mengubah duduk menjadi berhadapan dengan kedua anak sambungnya.


Dengan mengulas senyum dan berseri-seri Askar menyampaikan berita bahagia pada anak sambungnya. "Kalian akan punya adik lagi, di perut mami ada adiknya."


Kedua anak mereka bersorak gembira dan sangat antusias menyambut kelahiran sang adik. Bahkan Satria dan Sania memeluk dan menciumi perut Adzilla.


"Sayang, nanti sore kita periksa ke Dokter ya?kita USG," seru Askar.

__ADS_1


"Belum kelihatan, apa enggak ke Bidan saja?"


Askar menggeleng. "Aku ingin melihat anak kita. Dia mirip kamu atau aku."


__ADS_2