SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
26. Maafkan aku, As


__ADS_3

Tanpa terasa tanggal pernikahan sebentar lagi.Persiapan resepsi kecil-kecilan juga sudah disiapkan. Dari catering, undangan yang hanya menunggu di sebarkan, souvenir, Make-Up Artist, baju pengantin, dekorasi ruangan, dan hiburan sudah di booking semua.


Sesuai permintaan Adzilla akad akan di laksanakan di Mesjid dan hanya Rukun Nikah yang belum di siapkan karena harus menyerahkan dokumen dahulu ke kantor Agama.


"As, kau dari mana?"


Askar menoleh ke sumber suara dimana Hana sedang duduk dengan tangan bersidekap di dada.


"Dari rumah Zilla bawa mereka jemput kebaya sama baju seragam." sahut nya dengan malas karena akan membahas hal yang sama dari sebelum nya.


"Pikirkan lagi keputusan mu, As. Kakak gak mau kau nyesal. Cuma kau yang kakak punya, dek. Kakak mau kau bahagia."


Ingin rasanya Askar membentak atau segala sesuatu dapat dilakukan untuk melampiaskan amarahnya setelah mendengar apa yang di ucapkan sang kakak.


"Sebenarnya apa yang membuat kakak tak setuju? apa karena Adzilla lebih tua dan janda beranak? atau karena tabungan ku terkuras hanya untuk menikahi perempuan kayak Adzilla?" cecar Askar merasa tak terima keputusan nya selalu tak di hargai.


"Bukan begitu, kakak takut kau belum siap. Nikah itubukan cuma bahagia saja. Pasti ada sedih, marah, dan kecewa." Sebagai kakak, Hana ingin melihat adiknya mendapatkan yang terbaik dan ia merasa Askar belum cukup mengerti untuk berumah tangga.


"Insya Allah aku siap, kak. Kakak enggak perlu khawatir. Kakak doa kan saja aku semoga bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk kedua anak Zilla dan anak-anak ku nanti." Askar terus menekan amarahnya karena tak ingin ada keributan antara keduanya karena selama ini walau mereka sering bertengkar namun hanya karena saling meledek atau awalnya bercanda kemudia menjadi marahan tidak pernah berbeda pendapat seperti ini.


"Tapi tetap saja kakak enggak setuju kau nikah sama Adzilla, Askar. Kenapa kau tak mengerti juga? Kakak mau kau nikah sama gadis biar kalian bisa sama-sama belajar membangun rumah tangga. Apalagi kau laki-laki. Pasti lebih cari yang sempit. Kakak gak mau kau di tengah jalan pernikahan mu malah cari jajan di luar sana."


Ucapan Hana membuat darah Askar mendidih. Tangan nya sudah terkepal saking emosinya. Tak menyangka bila kakak nya berpikir begitu dangkal hanya masalah naf su semata.


Ia tahu tentang itu. Dirinya juga pria normal sebagaimana pria lain nya. Bahkan sering sekali jika malam sebelum tidur pikiran nya kotor membayangi tubuh Adzilla di balik gamis longgar nya itu berada di depan nya pasti pagi hari pakaian dalam nya sudah basah.


Dan karena alasan itu juga dirinya ingin mempercepat pernikahan nya dengan Adzilla.


"Aku cuma mau Adzilla jadi istriku, kak. Tolong." Ia menatap Hana meminta agar kakak nya itu mengerti dan menerima keputusan nya.


Tetapi seperti nya ia salah. Hana diam saja dengan wajah tanpa ekspresi. Askar menghela nafas kemudian memilih masuk ke dalam kamar. Memilih segera pergi dan mencari suasana yang akan mengurangi emosi nya menjadi lebih baik.


...****...


Esok hari nya, Askar datang bersama Satria karena tadi sebelum ke rumah Ayah Yusuf, ia menjemput anak itu lebih dahulu.


Ketepatan Ayah Yusuf tidak ada di rumah. Seperti biasa, gadis kecil itu akan berlati berhambur kepelukan nya. Sudah menjadi kebiasaan dan ia senang akan hal itu.

__ADS_1


Tapi tunggu, kenapa wajah ibu dari dua anak itu datar begitu tidak seperti biasanya.


"Papi, sini deh. Mainan yang papi belikan sudah Nia susun jadi robot."


"Kok Robot?"


"Abang Sat yang ajari."


Sekian lama menemani Satria dan Sania bermain hingga makan siang akhirnya Askar mempunyai waktu luang ketika baru saja ia menidurkan kedua anak itu.


"Sayang." panggil Askar sesuai perkataan nya beberapa bulan lalu.


Tetapi ia heran mengapa Adzilla tampak kaget? apakah calon istrinya itu tengah melamun?


"Ya."


"Aku lapar."


Askar memerhatikan Adzilla menyiapkan makanan untuknya. Ia benar-benar merasa ada yang berbeda dari pujaan hatinya itu.


"Terimakasih." ucapnya saat Adzilla menyerahkan sepiring makanan padanya. Dan lihatlah, Adzilla hanya mengangguk dan duduk di seberang nya.


Ada apa? apa Zilla sedang datang bulan makanya jadi sensitif begitu?


Selesai makan ia langsung ke dalur mencuci piring bekas makan tadi. Setelah ini baru ia akan bertanya kepada Adzilla mengapa tampak berbeda.


"Sayang, boleh nggak aku nambah daftar tamu undangan?"


"Terserah kamu."


Askar mengerut dahi merasa jawaban Adzilla berbeda karena biasanya Adzilla akan menolak jika ingin menambah tamu undangan.


"As."


Askar tak menjawab hanya saja tatapan mereka bertemu, kini.


"As, kenapa kau ingin menikahiku?"

__ADS_1


Pertanyaan Adzilla sungguh membuat Askar bertanya-tanya. Mengapa harus pertanyakan soal itu padahal sudah sejauh ini.


"Sayang tahu bunyi Hadist Riwayat. Imam Bukhari nomor 4700?" bukan menjawab lantas bertanya demikian.


Adzilla menggeleng.


Askar tersenyum lalu kembali berujar. "HR. Imam Bukhari No.4700 yang mempunyai arti, yaitu Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung".


"Dan aku memilihmu karena keturunan, kecantikan, dan agama mu." imbuh Askar lagi tetapi masih penuh tanda tanya di benak Askar karena tak ada sedikitpun senyum atau tersipu malu-malu yang di tunjukkan Adzilla ketika ia memberi jawaban yang tepat.


"Loh, kenapa menangis?" Askar tersentak karena melihat Adzilla menunduk dengan bahu yang bergetar. Ia bangkit lalu berpindah duduk di sebelah wanita itu.


"As. Aku mau batalin pernikahan kita."


Deg


Kalimat yang terlontar membuat jantung nya berhenti bekerja. Seakan waktu terhenti saat itu juga. Ia berharap apa yang di dengar salah.


"Tolong katakan pendengaran ku salah, sayang. Benar salah kan?" Ia terus meyakinkan dalam hati dan berharap itu benar-benar salah.


Tetapi gelengan kepala Adzilla membuat hatinya patah. "Kenapa?"


Tatapan mereka bertemu kembali. Ia melihat tatapan mata Adzilla sama dengan nya. Tatapan penuh luka.


"Kita terlalu terburu-buru. Seharusnya kita meminta restu lebih dahulu sebelum jauh melangkah seperti ini. Atau carilah wanita yang sepadan dengan mu. Aku enggak mau kau menyesal telah memilihku."


"Ada apa dengan mu sayang? kau sakit? atau habis nonton drama sehingga memutuskan hubungan hanya karrna hal sepele seperti itu? aku bahkan tak pernah memikirkan restu dari mereka. Yang menjalani kita. Aku sudah pernah bilang, kau lah jawaban atas doa ku. Kau lah obat dari sakit ku."


Adzilla menggeleng. "Tolong. Pergi dan jangan pernah kembali. Mereka benar, aku gak pantas untukmu." Adzilla bangkit kemudian masuk ke dalam kamar tak berapa lama keluar dengan membawa seserahan yang ia berikan untuk Adzilla.


Lebih sakit melihat ketika Adzilla melepaskan cincin pertunangan mereka.


"Maafkan aku, As."


❤️


TBC

__ADS_1


__ADS_2