
"Kak, ngapain dia pagi-pagi di rumah kita?" tanya Askar pada kakak nya di dapur.
"Oh, Mentari? ya tadi mampir kasih lontong sayur untuk kita. Punya mu sudah kakak tuang ke piring. Kakak mau ke pasar lagi."
Askar hendak protes namun kakaknya telah pergi dengan motornya. Karena perut sudah lapar, akhirnya memakan lontong sayur pemberian Mentari itu.
Setelahnya ia mencuci piring lalu hendak kembali ke pasar menyusul Hana.
"Kenapa masih disini?" tanya Askar ketika baru saja keluar rumah melihat Mentari masih duduk di teras rumahnya.
"Aku nunggu kau, As."
Askar mengerutkan dahi. "Nunggu? memangnya ada apa?"
"Aku nebeng ya? kan searah sama tempat kerja ku."
Inilah yang ia tak inginkan. Tetapi mana mungkin tega membiarkan Mentari sendiri disini sedang perjalanan mereka satu arah.
"Ya sudah."
Di sepanjang jalan Askar hanya diam atau sesekali menanggapi apa yang di katakan Mentari.
"Makasih, As." ucap Mentari dan anggukan sebagai jawaban Askar.
Ketika motor maticnya hendak memasuki jalan raya, ia di kejutkan dengan seseorang yang tengah tersenyum padanya.
Tapi bukan senyuman keramahan. Ia tahu, itu senyuman luka.
Sial!
Berencana mengejar tetapi sudah tertinggal jauh. Di lajukan motornya ke rumah ayah Yusuf. Dengan buru-buru ia hentikan motornya tepat di depan rumah Ayah Yusuf.
Berulang kali mengetuk dan mengucap salam namun tidak ada jawaban. Askar mengacak rambutnya gusar. Jika saja Adzilla lebih percaya dengan apa yang di lihat daripada penjelasan nya maka ia benar-benar merutuki diri yang memang tidak tegaan kepada orang lain.
Niat hati jarang mengunjungi Adzilla karena ingin memastikan dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada Adzilla atau hanya sekedar obsesi saja dan jualan nya tak bisa di tinggal.
Sekian lama menunggu tetapi tidak ada penghuni rumah yang terlihat, Askar memilih kembali ke Pasar dengan perasaan gelisah tak menentu.
...****...
Malam hari setelah sholat Maghrib di Masjid tak jauh dari rumah Adzilla, Askar memberanikan diri mendatangi rumah ayah Yusuf.
__ADS_1
Seperti biasa, ketika ia datang saat begini, pasti Adzilla membuka pintu dengan mukenah menutupi kepala wanita itu. Setelah mengucap salam dan di persilahkan masuk, Askar memilih duduk saja.
Ia tersenyum melihat Adzilla berjalan kearahnya dengan segelas teh lalu di letakkan di hadapannya.
"Ada apa, As?"
Menghela nafas melihat tatapan dingin dari Adzilla. Ia sudah menduga akan hal ini. "Kangen sama calon istri dan anak-anak. Kemana mereka, kak?"
"Pergi sama ayah."
"Kak, apa yang kakak lihat tadi itu salah paham. Mentari hanya menumpang saja, enggak lebih."
...****...
Adzilla menatap Askar dengan seksama. Bohong jika tak ada rasa cemburu, tetapi rasanya perasaan itu pupus sebelum berkembang.
"Itu hak kau, As. Kita nggak ada ikatan apapun. Bukan nya sudah ku katakan, lebih baik kau cari yang lebih muda dan masih gadis?"
"Perasaanku benar-benar tulus padamu, kak. Aku sengaja menjauh dari kalian karena ingin memastikan perasaan ku sendiri. Ternyata hatiku benar, aku mencintaimu dan menyayangi anak-anak."
Tidak ada lagi jawaban dari mulut Adzilla. Karena ia tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi sangat bahagia, tetapi di satu sisi ia sangat takut melangkah bersama Askar.
"Maaf." katanya menunduk.
"Aku yang minta maaf. Jangan salah paham lagi ya?"
Adzilla mengangguk lalu mempersilahkan Askar meminum teh yang sudah disuguhkan.
"Jangan mengapaikan chat ku lagi, kak."
Adzilla tersenyum lalu mengangguk. Memang selama Askar tahu nomor ponselnya dan rajin mengirim pesan padanya. Tetapi, Adzilla jarang menanggapi walau ia selalu tersenyum senang setiap membaca isi pesan dari Askar.
...****...
Hari terus berlalu, Adzilla selalu mendengar setiap apa saja yang di lakukan Askar setiap harinya.
Sepertinya itu sudah menjadi rutinitas mereka jika larut menjelang. Sebelum tidur, Askar akan menelepon Adzilla dan menceritakan apa saja yang terjadi padanya begitu juga Adzilla.
Termasuk sudah beberapa kali Askar menceritakan jika Mentari beberapa kali sering mendatanginya di lapak jualannya
Adzilla memang menanggapi biasa saja tetapi tidak ada yang tahu jika hatinya menahan perih.
__ADS_1
"Besok mau aku bawain kebab apa?"
"Biasa saja."
"Oke."
...****...
Esok malam nya, bukan kebab yang datang melainkan sang penjual datang untuk menjemput Adzilla. Beruntung kedua anak Adzilla sudah tertidur dan ayah Yusuf mengizinkan mereka pergi.
Kedatangan Adzilla membuat ketiga teman Askar bersorak-sorai.
"Go publik ya, bang?" sindir Reza membuat Askar terkekeh sembari melirik Adzilla sedang meremas bagian samping gamisnya.
Askar tahu saat ini Adzilla merasa tak nyaman karena perlakuan teman-temannya. "Kakak duduk disini, ya." seru Askar mempersilahkan Adzilla duduk di bagian belakang gerobak jualan nya.
"Makasih."
Askar mengangguk lalu pergi ke minimarket yang ada di seberang jalan untuk membelikan minuman dan cemilan untuk Adzilla.
...***...
"Askar, ini berlebihan." tegur Adzilla ketika Askar menyerahkan satu kantung plastik sedang berlogo minimarket tersebut.
"Ini nggak akan seberapa, nanti kalau kita sudah menikah akan lebih banyak lagi." Askar mengerlingkan sebelah mata berniat menggoda Adzilla namun kemudian meringis akibat cubitan Adzilla di lengan nya.
"Aku belum jawab apapun, As."
"Baiklah, biarkan aku bekerja sekarang biar bisa maharin kakak." Askar berlalu begitu saja sedang Adzilla hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakukan Askar.
Adzilla memerhatikan seraya tersenyum melihat kelihaian tangan Askar. Tangan itu begitu cekatan membuat kebab dan burger secara bersamaan.
Keramahan pada setiap orang menjadi nilai plus untuk bisnis makanan seperti Askar. Ia akui juga bahwa Askar sangat mengerti dirinya. Tetapi, bagaimana jika Askar tak suka dengan nya setelah menikahinya, nanti?
Malam semakin larut hingga jualan Askar tutup. Adzilla sama sekali tidak ada menegur bahwa ia sangat bosan. Ia benar-benar menikmati kebersamaan nya dengan Askar.
"Ayo, kak."
❤️
TBC
__ADS_1