SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
45. Papi memancingku, kan?


__ADS_3

"Woy, ngelamu terus? gugup sebentar lagi mau tunangan?" goda Askar melihat Reza sedari tadi melamun.


Teman dekat yang sudah bisa dikatakan sahabatnya itu sedang berada di rumah Askar.


"Ck, siapa yang gugup." elak Reza karena pikiran nya melayang memikirkan Mentari tak ada kabar setelah malam itu.


Askar menepuk pundak Reza. "Tenang saja, menikah itu enak." ia terkekeh atas ucapan nya sendiri.


Sedang Reza mencebik bibir. "Gak segampang itu, Bambang."


Cukup lama mereka terdiam karena Askar juga tak ingin terlalu ikut campur. Hingga keheningan itu buyar ketika Adzilla datang membawa dua gelas es kurnia dan setoples keripik pisang.


"Sudah sholat?" tanya Askar karena tadi ia sholat berdua dengan Satria di Masjid.


"Sudah, pi. Silahkan di minum."


Setelah kepergian Adzilla. Reza menatap Askar begitu intens. "As, aku belum siap tunangan sama Diana."


Askar mengerutkan dahi. "Kalau gitu kenapa tunangan, Za?"


Reza menceritakan asal muasal kejadian Diana mencoba bunuh diri tetapi tak menyertakan nama Mentari disana.


"Aku bingung harus kasih solusi gimana. Apalagi sebulan sesudah tunangan kalian akan menikah. Memang, setiap kita ingin memiliki sesuatu pasti ada saja rintangan. Semoga setelah menikah, hatimu siap menerima Diana."


Reza hanya diam tanpa menanggapi. Cukup lama mereka mengobrol hingga pamit pulang.


...****...


Askar masuk ke dalam rumah membawa dua gelas dan toples kosong ke dapur. Setelah itu di cari ketiga orang yang menjadi prioritas di hidupnya.


"Sayang." panggil nya membuat Adzilla keluar kamar tanpa hijab.


"Ya, aku di kamar." sahut Adzilla mendekati Askar dengan senyum manis.


"Kenapa? kok senyum mulu? anak-anak mana?" berondong Askar melihat tingkah Adzilla ada yang aneh.


Adzilla tersenyum penuh maksud. "Anak-anak ada di kamarSayang, aku mau tanya boleh?"


"Boleh." Askar menuntun Adzilla duduk lesehan di depan televisi agar nyaman mendengar pertanyaan dan menjawab nya.


"Papi tahu gak apa yang disukai istri?" tanya Adzilla membuat Askar mengerutkan dahi.


"Di cintai suami."

__ADS_1


Adzilla mengangguk. "Terus?"


"Dimengerti dan selalu dimaafin."


"Betul, terus?"


"Ada lagi?" tanya Askar membuat Adzilla mengangguk.


Askar tampak berpikir keras karena ia tahu, jika sedikit saja jawaban nya salah maka akan dikatakan suami tak peka. Cukup sekali ia dikatakan begitu hanya karena kata 'terserah'.


"Suka dibantu membersihkan rumah, disayang, terus apa lagi ya?" Askar benar-benar tidak tahu karena wanita adalah makhluk misterius baginya.


"Kau kan gitu, As. Gak peka. Padahal dua lagi jawaban nya."


"Aku gak tahu, yang. Kasih tahu dong." lebih baik pura-pura bersalah sajalah, pikir Askar.


Adzilla mencebik tetapi langsung berubah tersenyum bahkan menyandarkan kepala di dada Askar.


"Dua jawaban itu adalah uang dan perhiasan, pi." kata Adzilla menegakkan badan menatap wajah Askar dengan senyum terbaiknya.


"Bilang saja kalau mau sesuatu, kalau aku bisa bakal di turuti." Sepertinya Askar mengetahui arah jalan pikiran Adzilla sekarang.


Adzilla cengengesan membuat Askar gemas langsung melahap bibir ranum istrinya. "Mau apa, hm?"


Adzilla menunduk. "Kata ibu-ibu di warung, emas turun. Satu mayam nya tiga juta seratus tiga puluh ribu kemarin. Bisa antar aku nggak? uang jajan yang papi kasih sudah lebih segitu."


Senyuman nya mengembang melihat Adzilla bersorak-sorai bak anak kecil di depan nya. Di tambah kecupan di pipi sebagai ucapan terimakasih dari istrinya.


Adzilla membantu Sania bersiap sedang Askar membantu Satria. Lagi-lagi hatinya bahagia melihat Adzilla sedari tadi mengembangkan senyuman.


...****...


Sesampainya di toko emas, Askar duduk bersama kedua anak sambung nya di kursi yang di sediakan sedang Adzilla bergabung dengan calon pembeli lain nya di depan etalase.


Inilah yang paling ia sukai bila Adzilla menginginkan sesuatu dan ia turuti. Istrinya itu akan meminta pendapat dirinya.


Disitu ia merasa bahwa kehadiran nya benar-benar dibutuhkan. Walau tak jarang Adzilla harus beli dua karena pilihannya dan pilihan istrinya bertentangan.


"Beli cincin, lagi?" tanya Askar karena bulan lalu Adzilla juga membeli emas jenis yang sama.


"Abang dan adek duduk dulu. Jaga adek, bang." titah Askar.


Ia bangkit lalu melangkah mendekati etalase. Melihat-lihat barisan cincin, kalung, dan model emas lain nya. Dipilih satu gelang tampak cantik di matanya.

__ADS_1


Tanpa mencoba langsung di bayar dengan harga cukup mahal. Hal itu membuat Adzilla tercengang.


...****...


"Papi, untuk apa beli gelang segitu mahal nya?" tanya Adzilla begitu sampai dirumah.


Pertanyaan Adzilla tak lantas dijawab karena ia sedang merebahkan Sania yang tidur dalam gendongan nya ke kamar. Satria pun menyusul tidur di kamarnya.


"Kenapa, sayang?" tanya Askar ikut duduk di samping Adzilla.


"Kenapa beli gelang segitu mahal nya?"


"Untuk simpanan, yang. Kau pakailah." sahut Askar membuat binar bahagia dimata Adzilla.


"Tapi ingat, berhias boleh tapi jangan buat ajang pamer sama ibu-ibu di warung. Aku lebih suka sayang yang sederhana, kalau pinin pakai perhiasan cukup di depan aku saja." peringat Askar membuat Adzilla mengangguk.


Askar tersenyum melihat Adzilla memakai gelang emas itu dengan senyuman terus terukir. Ia pun membantu mengaitkan gelang tersebut.


"Cantik." Gumam Adzilla masih terdengar oleh Askar.


"Lebih cantik, sayang."


Tatapan keduanya bertemu hingga Adzilla memeluk Askar sangat erat. "Makasih banyak, pi. Aku begitu bersyukur mengenal dan dinikahi, papi. Jangan pernah berubah."


Hati Askar menghangat mendengar ungkapan hati istrinya. Sangat jarang wanita itu mengungkapkan isi hati bila ia tak bertanya. Tapi kali ini, tanpa ditanya istrinya itu mengungkapkan perasaan sendiri.


"Aku akan terus berusaha gak akan berubah. Tegur aku kalau memang itu terjadi dan kita harus berusaha untuk mempertahankan rasa cinta itu tetap sama seperti saat pertama kali kita saling jatuh cinta. Bila perlu lebih dari itu yang kita rasa."


Adzilla mengurai pelukan menatap Askar penuh cinta begitupun sebaliknya. Matanya terpejam kala bibir itu disapu bibir Askar. Merasakan sesapan lembut yang memabukkan. Mulut nya terbuka untuk memberi akses gerak lidah Askar menikmati seisi bibirnya.


"Kenapa diam saja, yang? lagi gak ingin?" tanya Askar menyadari bila Adzilla tak memberi balasan.


Adzilla terkekeh. Jika urusan begini Askar akan berubah menjadi pria imut menurut nya. "Bukan, pi. Istri papi ini sedang menikmati perlakuan papi yang semakin pintar dalam urusan itu."


Askar tersenyum malu. Dengan gemas ia angkat tubuh Adzilla dalam pangkuannya.


"Papi, malu." rengek Adzilla semakin membuat Askar gemas.


Perlahan Askar membuka hijab sedari tadi menutupi rambut istrinya. Mengecupi leher putih Adzilla yang terekspos. Memberi tanda kepemilikan di leher itu lalu dilepas ikatan rambut hingga tergerai.


"Papi memancingku, kan?"


"Di sofa sepertinya seru, yang. Mumpung anak-anak tidur."

__ADS_1


❤️


TBC


__ADS_2