
Siapa yang tidak mengenal kata cinta? Cinta telah hadir sejak zaman nabi Adam diciptakan, dan kemudian diciptakanlah Hawa sebagai pasangan hidupnya.
Cinta juga merupakan fitrah alami manusia dan tanpa keberadaan cinta, orang menyebutnya sebagai perasaan hampa. Cinta juga banyak memberikan inspirasi dan pengorbanan akan tetapi cinta jugalah yang kadang membawa kesengsaraan bagi mereka yang merasakannya.
Islam sebagai agama dan membawa rahmat Allah SWT juga mengenal dan menghargai adanya cinta.
Tanpa terasa kandungan Adzilla sudah memasuki bulan kesembilan. Itu artinya Askar dan Adzilla hanya menunggu waktu kelahiran tiba.
Askar telah memboyong istri dan kedua anaknya ke rumah baru mereka. Rumah yang dibeli Askar hasil jualan kebab dan burger yang ia tabung.
Bukan rumah mewah. Rumah yang sangat nyaman untuk keluarganya. Kamar tidur Satria dan Sania sudah terpisah semenjak pindah ke rumah baru.
Satria baru saja memasuki kelas III SD sedangkan Sania sudah masuk TK. Ayah Yusuf masih setia sendiri karena tak ada wanita manapun yang dapat menggantikan cinta almarhumah Ibu Adzilla. Hana dan Heri masih tetap berusaha untuk mendapatkan momongan.
Awalnya Hana dan Heri meminta mengangkat anak Askar menolak permintaan itu. Karena, calon anaknya berjenis kelamin perempuan. Itu artinya calon anaknya bukanlah muhrim Heri.
Sungguh, ia tak mau aurat calon anaknya akan dilihat orang yang bukan muhrimnya.
"Hati-hati, Mi!" tutur Askar saat ini sedang menemani Adzilla berjalan-jalan pagi.
"Iya, Pi." sahut Adzilla cengengesan.
Askar merangkul pinggang Adzilla. "Terimakasih, Mi. Kamu membuat hidupku lebih berwarna dan sempurna," tutur Askar menoleh ke samping menatap wajah Adzilla.
Ia celingukan melihat sekitar. Dirasa tidak ada orang lain, Askar segera mengecup pipi Adzilla. Kekehan nya terdengar ketika melihat raut wajah Adzilla sedang terkejut akibat perlakuan nya tadi.
__ADS_1
Usai sadar dengan keterkejutan nya, Adzilla juga melihat sekitar karena takut dilihat orang perlakuan Askar tadi. "Pi, gak boleh begitu!" ucapnya merengut.
Adzilla dan Askar meneruskan jalan-jalan pagi. Tetapi Adzilla berhenti karena merasakan ada sesuatu yang keluar dari intinya.
"Sayang, tolong lihat apa yang keluar dari bawah!" pinta Adzilla. Sebenarnya beberapa hari ini, ia sudah merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Pinggul dan pinggang bagian bawah sering nyeri. Kontraksi palsu sudah dirasakan namun karena ia bukan melahirkan untuk pertama kali, menjadi sebisa mungkin untuk merasakan nya sendiri tanpa memberi tahu Askar.
Askar bersimpuh menyibak gamis Adzilla sedikit ke atas begitu juga celana panjang istrinya.
Matanya melotot kala melihat cairan berwarna cokelat sudah membasahi kaos kaki istrinya. "Mi, kaos kaki sudah basah. Ayo kita pulang," seru Askar hendak menggendong Adzilla namun istrinya menolak.
"Kita jalan saja, Pi."
Askar pasrah mengikuti Adzilla berjalan. Rasanya tak sabar melihat Adzilla bolak-balik berhenti karena meringis. Jujur saja, hal itu membuat hati Askar nyeri.
Askar juga menyiapkan apa saja untuk ibu melahirkan dan perlengkapan bayi. "Hijab anak kita juga dibawa atau enggak, Mi?" tanya Askar polos.
Pertanyaan Askar membuat Adzilla terkekeh di tengah sakitnya merasakan kontraksi. "Sekalian saja bawakan gamis, Pi." cibir Adzilla.
"Oke. Papi Bawak yang merah dan merah muda."
...***...
"Jangan menangis," ucap Adzilla menenangkan Askar yang sudah meneteskan air mata karena melihatnya sudah meringis tak karuan.
"Aku gak tega lihat Mami kesakitan," ucap Askar lirih.
__ADS_1
Adzilla tak lagi menjawab. Pembukaan telah sempurna, itu artinya Adzilla telah siap untuk melahirkan.
"Ejan saat saya beri aba-aba ya, Bu. Pinggul jangan di angkat," tutur Ibu Bidan.
Adzilla melakukan sesuai instruksi Bidan tersebut. Tangan nya menggenggam tangan Askar dengan erat.
Sekuat tenaga Adzilla mengejan hingga terdengar suara tangisan bayi mungil yang cantik.
"Terimakasih banyak, sayang."
Askar terus mengucap syukur dang mengecup seluruh wajah Adzilla. Tak pernah terbayang olehnya jika proses melahirkan begitu menegangkan.
Bayi perempuan cantik itu sudah berada di gendongan Askar untuk pertama kali. Matanya berkaca-kaca melihat keajaiban Tuhan yang begitu sempurna.
"Siapa nama anak kita, Pi?" tanya Adzilla.
"Aisyah Hadirah Nazifa artinya perempuan cantik dan bersih, memiliki sifat yang riang gembira seperti istri Nabi."
Askar mengecup kening Adzilla. "Terimakasih telah menjadi pelengkap hidupku. Tetaplah seperti ini sayang, dan teruslah bersabar menghadapi suami mu yang masih bocah ini!" bisik Askar membuat Adzilla meneteskan air mata. Keduanya saling menitikan air mata bahagia.
Ini bukanlah akhir dari kisah Askar dan Adzilla. Tetapi ini adalah awal dari kehidupan mereka yang bahagia. Sebelum mencapai kebahagiaan ini pastilah mereka sudah mengalami jalan berliku, menanjak, bahkan turunan hingga ke dasar jurang.
❤️
TAMAT.
__ADS_1