
Sudah berulang kali Hana meminta Mentari untuk datang ke rumah namun tak juga datang. Perasaan nya semakin tak karuan karena Askar tak kunjung pulang semenjak hari itu dimana ia mengucapkan Askar harus bertanggung jawab pada Mentari.
Memang Askar selalu datang pada sore hari tetapi hanya untuk membawa grobak jualan dan kembali menyimpan nya di rumah Hana.
Hana benar-benar merasa bersalah dan khawatir pada adiknya, Askar. Ia tak menyangka bila Askar akan mengalami perubahan seburuk itu dalam bersikap.
Di tambah desakan dari suaminya untuk menyelesaikan masalah ini.
"Cepat selesaikan masalah ini, dek. Jangan sampai berlarut-larut. Kalau memang Askar pernah ngelakuin itu dengan Mentari, cepat nikahkan mereka. Kalau enggak pernah, cepat kau minta maaf sama Pak Yusuf dan Zilla." ucap Heri kala itu.
"Ternyata mengurus Askar dengan tangan mu sendiri belum juga bisa kau mengenali karakter adik mu." imbuh Heri lagi semakin membuat Hana merasa bersalah.
Sore hari Mentari datang ke rumah Hana masih memakai seragam salah satu mini market dimana tempat wanita itu bekerja.
Hana menjawab salam dari Mentari dan mempersilahkan duduk. "Mau minum?" tanya Hana.
"Enggak kak, aku sudah makan dan minum di luar sebelum kesini." jawab Mentari.
Hana masih diam saja menelisik penampilan Mentari. Kalau masalah penampilan tentu lebih modis Mentari dari pada Adzilla.
Adikku lebih suka yang sederhana ternyata.
"Mentari, apa betul Askar pernah ngelakuin itu dengan mu waktu sekolah?"
...****...
Sudah dua hari Askar tak pulang ke rumah untuk menghindari Hana sementara waktu. Tetapi hari ini ia memutuskan pulang ke rumah Hana karena tak ingin masalah ini berlarut-larut.
Dahi Askar mengerut melihat sepeda motor orang lain terparkir. "Mungkin ada tamu."
Askar terus berjalan hendak masuk ke rumah Hana. Saat akan mengucapkan salam ia urungkan ketika mendengar percakapan dua orang dari dalam rumah .
"*Mentari, apa betul Askar pernah ngelakuin itu dengan mu waktu sekolah?"
"I-iya kak, makanya aku harus ngaku di depan Adzilla juga biar pernikahan mereka batal*."
Askar terkejut dengan apa yang baru di dengar. Dan mengapa Mentari berkata seperti itu?
Dengan langkah lebar memasuki rumah tanpa mengucap salam. Sangat jelas dua orang di dalam rumah itu terkejut atas kehadiran nya.
"As-Askar." ucap kedua nya sangat gugup.
Tapi tidak dengan Askar. Ia mencoba mengendalikan diri agar terlihat baik-baik saja. Duduk di hadapan dua wanita yang membuat pernikahan nya gagal dan ditinggal oleh calon pengantin nya.
"Oh, jadi maksud dari tanggung jawab yang kak Hana maksud?" tanya Askar menekan amarahnya.
"Mentari yang bilang kalau kau harus tanggung jawab karena sudah melakukan itu, dek." jawab Hana masih tak percaya dengan perkataan Mentari.
__ADS_1
"Dan kakak percaya?"
Hening. Hana tak bisa menjawab karena hatinya juga bimbang. Antara tak percaya Askar melakukan kesalahan di luar batas namun merasa Mentari tidak mungkin mengatakan hal itu karena itu adalah aib bagi Mentari.
"Kenapa bisa kakak lebih percaya orang lain dari pada aku? dan kau Mentari, perempuan macam apa kau sampai memalukan dirimu sendiri? Kapan aku menyentuh mu, Mentari?"
Askar menatap Mentari dengan tajam. "Perempuan gak punya malu ya sepertimu, Mentari."
Askar berdiri sembari beralih menatap Hana yang menunduk. "Sungguh aku sangat kecewa padamu, kak."
Ia berlalu menuju kamar untuk memberesi pakaian dan barang-barang miliknya. Memutuskan untuk pergi dari rumah Hana adalah keputusan terbaik.
"Dek, kau mau kemana bawa tas gitu?" tanya Hana mulai panik.
"Mulai hari ini aku gak akan tinggal lagi di rumah kakak. Aku mengira, kakak sudah merestui kami atau seenggaknya biarkan kami menikah dan terus usaha agar kakak restui hubungi kami."
"Dan lihatlah sekarang. Zilla benar-benar meninggalkan ku." Askar melangkah keluar meninggalkan Hana yang sudah menangis menyesali perbuatan nya.
...****...
Berhari-hari telah berlalu, Kebab dan Burger Askar tetap berjualan namun ia tak ikut berjualan. Reza sebagai teman dekat ikut prihatin.
"Kau mau kemana, As?" tanya Reza ketika akan mengambil bahan jualan di rumah kontrakan Askar.
"Aku pergi sebentar."
"Ya."
Reza melihat Askar seperti hendak pergi jauh. Ia tak menyangka bila teman dekat nya akan bernasib menyedihkan seperti itu. Dirinya lah yang tahu bagaimana dari awal mengagumi Adzilla dan bagaimana bahagia nya Askar ketika Adzilla menerima cinta teman dekatnya itu hingga bertunangan.
Hingga malam hari Askar tak memberi kabar pada Reza karena biasanya walau teman dekatnya itu tak ikut jualan tetapi masih datang untuk melihat keadaan jualannya.
...****...
Pukul 23.00 WIB.
Ponsel Reza berdering langsung saja mendial icon hijau ketika melihat nama Askar di layar ponsel nya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Za. Tolong ambilkan Kartu Keluarga, KTP, sama ATM ku di lemari, ya? di rumah kontrakan ku."
"Untuk apa? kau dimana?" tanya Reza merasa aneh mengapa larut malam Askar menyuruh nya mengambil surat penting dan juga ATM.
"Aku jatuh dari motor, sekarang di rumah sakit umum. Cepat lah biar bisa ngurus administrasi aku."
"Jangan bohong, As. Suara mu saja terdengar biasa saja."
__ADS_1
"Ck. Jadi harus menangis? Kalau gak percaya datang saja."
"Oke, apa aku harus kasih tahu kak Hana atau Zilla?" tanya Reza kebetulan dirinya baru saja menyimpan gerobak dan peralatan jualan di rumah kontrakan Askar.
"Jangan keduanya."
Karena mendengar suara Askar baik-baik saja, Reza pun masuk ke rumah Askar dan mengambil yang di minta Askar dengan santai.
Bahkan ketika mengendarai sepeda motornya saja, Reza tak terlihat sedang buru-buru. Hingga sampai di rumah sakit dan mengurus administrasi usai barulah ia bertanya pada perawat dimana ruangan dimana Askar di rawat.
"Saudara Askar masih di UGD."
Reza tercengang mendengar itu kemudian melihat nominal biaya yang cukup besar.
"Dari tadi sampai sekarang masih di UGD, sus?"
"Iya."
Oh ya ampun, gimana bisa? gumam Reza menjadi panik.
...****...
Adzilla baru saja menjemput Satria mengaji, ia melihat sepeda motor yang dikenalnya terparkir di depan rumah Ayah Yusuf. Ia pun bertanya-tanya sedang apa Hana di rumah ayahnya.
Semakin heran ketika mendengar suara wanita menangis di dalam. Lantas membuatnya mengucap salam dan terdengar dari dalam menjawab salam nya.
Adzilla mencoba tersenyum pada Hana dan Heri. Ternyata yang menangis adalah Hana, batin Adzilla.
"Aku buat minum dulu." ucap Adzilla tetapi langsung di cegah Hana.
Betapa terkejutnya ketika Hana memeluk nya dan menangis. "Kak, jangan menangis."
Hana mengurai pekukan menatap Adzilla dengan mata basah karena menangis.
"Kakak mohon, maafin kakak."
"Zilla sudah maafin kakak kok. Jangan menangis, kak."
Masih dengan isak tangis Hana kembali berucap. "Tolong kembali dengan Askar, Zilla." Hana menceritakan semua tentang Mentari hingga Askar tak lagi tinggal bersama Hana.
"Askar kecelakaan, Zilla."
Deg
❤️
TBC
__ADS_1