
Ungkapan "jodoh memang urusan yang di atas" memang tidak pernah salah. Sesekali kita pernah menertawai ungkapan tersebut. Namun sebenarnya, itulah hakikatnya.
Untuk menjadi pribadi yang kuat dan tangguh perlu mengubah rasa sakit hati dan kecewa menjadi semangat. Semangat tersebut didasari rasa pembuktian bahwa kau bisa bangkit.
Ketika bangkit dan menjadi pribadi baru, kau akan familier dengan kondisi buruk dan sudah bisa menemukan serta menentukan jalan keluar.
"Sungguh menyakitkan bernapas karena setiap napas yang aku hirup membuktikan aku tidak bisa hidup tanpamu." ucap Adzilla melihat foto mereka berdua di ponselnya.
Foto dimana mereka sedang berbelanja berdua.
"Aku pikir kau menyembuhkanku. Tapi tidak, kau makin menghancurkanku, As."
Adzilla mengusap kasar pipinya yang basah karena masih saja menangis jika memikirkan Askar. Tetapi tetap saja air mata itu terus saja luruh. Ia memukuli dada yang begitu terasa sesak.
"Mama kenapa?" tanya Satria baru saja masuk ke dalam kamar mendapati Adzilla menangis.
Dengan cepat Adzilla menghapus air matanya lalu menyuruh Satria duduk di sebelahnya. "Sania kemana, bang?"
"Bobok siang sama kakek. Ma, tadi abang ketemu papa."
Adzilla tersentak langsung menoleh ke arah Satria. "Papa Bari?" tanya Adzilla merasa khawatir.
Satria mengangguk. "Iya, papa bilang sekarang punya mama baru kayak abang mau punya papi baru."
Adzilla tersenyum getir tanpa menanggapi. Ternyata mantan suamu nya dengan mudah mendapatkan pengganti dirinya. Dan ia berharap semoga mertua nya tak lagi ijut campur dengan urusan rumah tangga Bari.
"Ma, kenapa Satria punya dua papa dan dua mama? teman-teman satri cuma punya satu papa dan satu mama." tanya Satria dengan polos berharap menemukan hawaban atas penasaran nya.
Adzilla membelai rambut anaj sulungnya sebelum menjawab karena ia tengah menyusun kata semudah dan selembut mungkin agar anaknya mengerti.
"Satria dan Sania adalah anak yang istimewa bukan? kalian tentu hebat dan pasti banyak yang sayang sama Satria dan Sania."
"Tapi papa gak sayang sama Satria dan adek. Papi baru sayang."
Adzilla menghela nafas. "Tapi papa juga sayang abang."
"Kalau sayang gak mungkin marah-marah kan ma?"
Adzilla hanya tersenyum kemudian menyuruh Satria untuk tidur siang. Adzilla mendatangi ayah Yusuf.
"Ayah."
__ADS_1
"Ayah di belakang." jerit ayah Yusuf dan Adzilla menyusul kesana.
Adzilla hanya diam saja ketika melihat ayah yusuf dan dua orang lain sedang membuat kembar mayang.
"Kembar mayang untuk pesta orang mana, yah?" tanya Adzilla.
"Ini untuk pernikahan si Andre. Masa nggak tahu?"
Dahi Adzilla mengerut. "Bang Andre? laku juga dia, ayah."
"Kau ini, ya laku lah dapat darah muda lagi." cebik sang ayah karena tahu Adzilla dengan keponakan nya satu itu selalu saling ejek.
"Kapan resepsi nya ayah?"
"Dua hari lagi."
...****...
Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menghadapi putus cinta. Bagi kaum hawa, patah hati identik dengan masa-masa galau atau masa curhatnya.
Meski begitu, lain halnya dengan kaum pria. Saat patah hati, mayoritas laki-laki akan mencoba untuk tetap bersikap tangguh serta tidak menunjukkan kesedihan mereka.
Tidak hanya itu, laki-laki juga cenderung enggan untuk curhat atau membagikan perasaan mereka kepada orang lain.
"Hai, As." sapa Mentari langsung di balas sapaan yang sama darinya.
"Sebaiknya kalian bicara berdua, ya. Kaka mau masak dulu di dapur."
Askar menghela nafas kemudian ikut duduk berseberangan dengan Mentari. Sebenarnya ia enggan namun tetap menghargai Mentari.
"Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, As." ucap Mentari membuat Askar mengangguk. Hingga saat ini ia tak menampakkan kesedihan di depan kakak dan kakak iparnya, teman-teman, atau ke Mentari sekalipun. Hanya pada Adzilla lah ia menunjukkan itu.
"As, bisakah kau menerima ku?"
Askar yang sedang melamun langsung tersadar setelah mendengar yang dikatakan Mentari.
"Ck. Kau tahu jawaban ku, Mentari. Gak mudah untuk melupakan Adzilla." sahutnya lirih.
"Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap seperti kau menunggu Adzilla waktu itu."
Askar menghela nafas kemudian bangkit melangkahkan kaki menuju kamar nya. Ia tak mungkin mudah menggantikan Adzilla di hati nya.
Terulang kembali berjualan tanpa ada semangat. Sebenarnya perubahan perilaku Askar sangat nampak di mata Reza dan kedua temannya itu.
__ADS_1
Reza hanya bisa memaklumi tanpa menegur karena ia sendiri tahu betapa memangumi nya Askar terhadap Adzilla dahulu saat masih menjadi istri Bari hingga dengan setia menemani Adzilla di masa terburuk sampai cinta sahabatnya itu bersambut.
"Za, kau terusin kerjaan ku ya. Aku mau pergi sebentar." ucap Askar.
"Mau kemana? jangan aneh-aneh kau di luar sana." Reza merasa khawatir karena baru kali ini Askar terlihat sangat menyedihkan.
Askar mencebik tetap melangkah menuju motor matic nya lalu melajukan motornya ke tempat yang bisa membuat hatinya tenang.
Disinilah, di Masjid tengah kota. Berwudhu untuk melaksanakan sholat isya'. Tak ada tempat yang paling menenangkan hatinya selain tempat ibadah ini.
Kedua tangan menengadah memohon ampun karena tak dapat menepis rasa cinta terhadap makhluk-Nya.
Selesai sholat dan berdoa, Askar memilih duduk di teras Masjid, membuka ponsel melihat media sosial milik Adzilla. Hanya melalui ini ia bisa mengetahui aktivitas yang di kerjakan pujaan hati nya karena nomor ponsel nya sudah di blokir oleh Adzilla.
"Satria, Sania. Kalian apa kabar?" gumamnya ketika melihat postingan Adzilla terakhir jali beberapa jam lalu.
Lama memandangi foto-foto Adzilla dan kedua anak wanita itu barulah kembali ke grobak jualan nya.
...****...
Beberapa hari kemudian. Selama itu pula Mentari sering menemui Askar dan hari ini wanita itu meminta pergi bersama.
Askar hanya diam saja. Semenjak putus dan batalnya pernikahan dirinya dengan Adzilla, Askar berubah menjadi pria yang sedikit dingin dan irit bicara.
Motor maticnya berhenti ke tempat tujuan Askar dan Mentari. Disana sudah banyak teman-teman sekolah nya berkumpul.
Keduanya jalan beriringan tanpa ada senyuman dari bibir Askar. Sekarang ini merasa dejavu dimana ia mengajak Adzilla berkumpul dengan teman-teman nya.
Askar duduk setelah berjabat tangan kepada teman-teman nya. Mata nya memicing melihat wanita yang selalu hadur di ingatan dan masih bertahtah di hatinya.
Adzilla Rahma.
Memerhatikan bagaimana raut wajah wanita itu terlihat ceria berbeda sekali dengan dirinya. Kedua anak wanita itu juga tampak tertawa bersama.
Askar berdecak merasa bodoh karena hanya dirinya yang begitu menyedihkan sangat berbeda dengan Adzilla.
"Ternyata hanya aku yang merasa begitu kehilangan dirimu, sayang."
Hingga tatapan mereka bertemu. Keduanya terpaku karena tiba-tiba detak jantung berpacu lebih cepat.
❤️
TBC
__ADS_1