
Pepatah mengatakan tak ada yang lebih pahit daripada pahitnya perpisahan. Kata mutiara perpisahan tersebut sepertinya nyata dialami banyak orang. Setiap pertemuan pasti berakhir dengan perpisahan.
Kebahagiaan selalu diiringi dengan kesedihan yang akan datang silih berganti. Setiap hari seseorang bisa bertemu dengan orang-orang baru dan berpisah dengan orang lama. Terkadang tak semua pertemuan bisa memberi kebersamaan. Bahkan ada yang berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan.
Siapa sih yang menginginkan terjadinya perceraian? Bahkan selebritis sekalipun yang rumornya banyak melakukan “kawin cerai” untuk menaikkan popularitas, rasanya juga tidak dengan sengaja memilih bercerai.
Tetapi perasaan bebas akan dialami khususnya bagi para wanita yang merasa tidak bahagia dalam pernikahannya, misalnya akibat kekerasan rumah tangga. Meskipun korban kekerasan membutuhkan bantuan profesional untuk menyembuhkan luka batin maupun fisiknya, tetapi perasaan bebas pun tetap akan dirasakan sebagai kebahagiaan.
Harus ingat, Wanita mungkin akan merasakan stres hingga terpuruk di awal perceraiannya, tetapi setelah kurang lebih 2 tahun wanita akan lebih bertanggung jawab terutama dengan kehidupannya. Maka dari itu, cukup banyak wanita yang sukses secara finansial atau terlihat lebih menarik dari sisi fisik setelah cukup lama bercerai.
Adzilla teringat ucapan Askar. Dimana ia dan kedua anaknya di antar Askar. Awalnya ayah Yusuf mengira Bari menjatuhkan Talak karena ia ada hubungan terlarang terhadap Askar, namun setelah dijelaskan barulah ayah Yusuf memahami bahkan meminta maaf pada Askar.
“Perpisahan bukanlah akhir dari kehidupan. Tetapi langkah awal seberapa kuat kita meneruskan kehidupan ini tanpanya."
Di bawah terik Matahari, Adzilla mendatangi toko-toko di Kabupaten kota untuk mencari pekerjaan. Ada rasa sesal di hati mengapa setelah lulus ia langsung menerima lamaran dari Bari sehingga kini tak memiliki pengalaman pekerjaan. Ditambah dirinya sedari dulu tidak memiliki teman dekat membuat sangat sulit mencari pekerjaan.
Terdengar suara adzan menandakan telah tiba waktu sholat Zuhur. Ia lakukan motornya ke arah mesjid kota itu. Memarkir motor, tak lupa memasukkan Curriculum Vitae lamaran kerja ke box motor, menutupnya lalu mengunci ganda.
Berjalan ke toilet wanita untuk berwudhu lalu masuk ke dalam mesjid mengambil mukenah yang disediakan pihak pengurus mesjid. Setelah mengenakan mukenah dengan cepat ia berdiri mengambil shaf paling depan.
Usai melaksanakan sholat zhuhur, Adzilla masih duduk di teras mesjid itu karena masih bingung harus kemana mencari pekerjaan. Namun karena isi kepala nya tidak dapat berpikir lagi kemana hendak pergi akhirnya ia memilih pulang karena kedua anaknya saat ini dititipkan pada Ayah Yusuf.
Selama perjalanan, ia memikirkan bagaimana awal perkenalan dengan Bari. Dimana waktu itu ia diperkenalkan tetangganya sekarang sudah pindah ke kota lain ikut suaminya.
Dahulu, Bari bukanlah pria pelit dan perhitungan. Memang bukan pria romantis. Namun semenjak waktu itu dimana ia pulang kerumah membawa dua kantung plastik besar berisi pakaiannya dan pakaian Satria yang masih baru bertepatan ibu mertuanya baru saja datang berkunjung.
"Baru anak satu tapi sudah menghabiskan uang anakku. Enak sekali hidupmu."
Semenjak hari itu, entah apa yang dikatakan ibu mertuanya pada Bari membuat sikap pria itu berubah total padanya. Uang belanja kebutuhan dapur di jatah, uang kebutuhan pribadi tak lagi ia dapatkan.
Cinta yang begitu dalam perlahan terkikis menjadi rasa benci dalam diam.
Dan perpisahan ini? tentu sangat ia harapkan walau harus berakibat pada kedua anaknya yang harus terpisah kepada papanya.
Tapi, apa selama ini Bari dekat dengan anaknya? jawaban nya adalah tidak.
...****...
__ADS_1
"Assalamualaikum." ucap Adzilla ketika baru sampai di rumah.
"Waalaikumsalam."
"Wacayam."
Satria dan Sania berlari kearahnya sembari mmbalas salam dari Adzilla. Tidak ada kebahagiaan yang lebih membahagiakan dari keceriaan kedua anaknya.
"Abang sama adik sudah makan?" tanyanya mengajak Satria dan Sania masuk ke dalam rumah.
"Sudah."
"Kakek mana?"
"Kakek baru saja pergi ke warung, ma." sahut Satria setelah itu anak sulung Adzilla kembali bermain mobil-mobilan.
...****...
Keesokan harinya selesai sarapan, ayah Yusuf bersiap untuk mengantar sekolah Satria.
"Zilla, kau gak usah cari kerja lagi. Uang kita masih cukup untuk biaya sekolah Satria dan Sania nanti." ujar ayah Yusuf setelah memakai jaket nya dan mengambil kunci motor.
Ayah yusuf mendekat lalu mengusap lengan Adzilla. "Sudah jangan bicarakan mantan suamimu lagi. Ayah juga sudah minta tolong Pak Kades untuk mengurus perceraian kalian."
Adzilla mengangguk. "Makasih, yah. Apalah Adzilla tanpa ayah."
Melihat ayah dan anak sulungnya telah berangkat, ia masuk ke dalam rumah untuk merapikan piring kotor dan pekerjaan rumah lain nya.
...****...
Dengan kesetaraan gender yang semakin baik terhadap perempuan, di mana perempuan mampu memegang kendali akan hidupnya dan menunjukkan kemandirian serta kekuatan yang tak teduga, para pria muda menyadari bahwa wanita yang lebih tua ternyata lebih ahli dalam memegang banyak tanggung jawab.
"Woy, bang Askar. Kenapa senyum-senyum sendiri?" tegur Reza melihat bos sekaligus sahabatnya senyum-senyum sendiri melihat ponselnya.
"Nggak ada."
"Lihat apa sih, bang?" tanya Reza seditik mencondongkan kepala ke depan agar bisa melihat apa yang sedang di lihat Askar.
__ADS_1
"Ini foto calon anak ku."
Reza mencebik. "Percaya diri sekali, yakin dia bakal mau? yakin kau bakal terima? yakin bakal puas sama yang sudah mengeluarkan anak dua?" cecar Reza pada Askar.
"Kau harus tahu, pera wan lebih menawan." imbuh Reza lagi.
"Tapi janda lebih menggoda." sahut Askar bangga membuat Reza melotot.
"Istri orang, woy."
Askar tak menjawab lebih memilih menyantap kolding yang sudah tersaji di depan meja mereka. Tidak tahu saja Reza jika wanita yang sudah menarik perhatian nya itu sudah berpisah secara agama.
Kini ia yakin untuk mendekati janda anak dua itu apalagi kedua anak Adzilla sudah dekat dengannya.
Sekarang tinggal menaklukkan hati ibunya dan keluarga ibunya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bukan hanya jatuh cinta pada Adzilla tetapi dengan kedua anak wanita itu dan juga keluarga wanita itu.
Cinta memang hal yang penting dalam hubungan, tetapi cinta saja tidak cukup untuk memilih pasangan yang akan membersaimu dalam waktu yang panjang atau setelah pernikahan. Sebab, dalam pernikahan banyak hal yang harus disesuaikan oleh pasangan, termasuk tanggung jawab, komitmen, ekonomi dan sebagainya.
Askar tahu akan hal itu, apalagi faktor utama pertengkaran dalam rumah tangga biasanya karena ekonomi yang lemah.
Itu makanya ia tak kenal lelah bekerja setelah lulus Sekolah Menengah Atas. Karena juga sadar, ia bukanlah dari keluarga kalangan berada.
Mulai dari mengetahui Adzilla di talak, Askar semakin memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Memaksa diri sholat lima waktu, ini ia lakukan bukan hanya untuk menarik perhatian Adzilla namun, pernah ia dengar, "Paksakan dirimu sholat lima waktu hingga menjadi sebuah kebiasaan."
Karakter luhur dan moral baik. Ya, Askar sangat mencoba berubah untuk hal itu.
Memiliki pengetahuan tentang Al-Qur'an. Askar perlu banyak tentang itu.
Perlu untuk mengenalnya. Askar rasa memang perlu, maka dari itu ia sedang menyiapkan diri untuk mendekati janda beranak dua itu.
Keturunan keluarga baik. Tentu, Askar bisa membuktikan nya.
Cukup mampu secara finansial. Harus, Bukan sombong. Tetapi penghasilan sebulan Bari, mantan suami Adzilla. Bisa ia dapat hanya hitungan tiga hari dari penjualan kebab dan burger nya.
Penuh kasih sayang dan lemah lembut. Askar bisa menjamin, apalagi mengingat pipi Adzilla memerah akibat bekas tamparan Bari membuat hatinya sakit.
__ADS_1
❤️
TBC