SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
19. Hana dan Askar


__ADS_3

"Masih ngambek ini ceritanya?" tanya Askar masih berada di atas motor dalam perjalanan pulang.


"Gak." sahut Adzilla ketus.


"Dih, galak amat calon istri."


Askar tak lagi mendengar jawaban dari Adzilla. Di akui jika tadi memang salahnya karena tidak peka pada keadaan sehingga membuat Adzilla cemburu.


Tapi jika boleh jujur, ia sangat suka melihat Adzilla cemburu dan posesif seperti tadi. Itu artinya perasaan wanita itu tak main-main padanya.


"Kita ke tempat jualan ku sebentar ya, kak."


"Terserah."


Askar menepikan sepeda motornya karena jawaban Adzilla. Sepertinya pujaan hatinya masih merajuk karrna ulahnya tadi.


"Kok berhenti?" Pertanyaan Adzilla terdengar panik membuat Askar membalik badan untuk melihat pujaan hatinya.


"Ngelapak, disitu sepertinya sepi." sahut Askar asal.


Ingin rasanya Askar tertawa melihat tubuh dan wajah Adzilla berubah menjadi tegang. Ia tahu pasti dipikiran Adzilla mulai kotor sekarang ini, padahal tak ada niatnya seperti itu.


"Kenapa, hm?"


"Aku mau pulang, As."


"Jangan dulu, sekali-kali bolehlah kak."


"Jangan aneh-aneh, As."


Cukup lama mereka berhenti di tepi jalan. Keadaan sepi karena tempat acara teman Askar jauh dari kota.


"Nikah yuk." celetuk Askar.


"Restu dulu baru mikir nikah."


"Oke."


"Kenapa buru-buru, As?"


"Dekat sama kakak buat aku pusing karena traveling terus pikiran ku."


"Haish.. Sudah ayo jalan. katanya mau ke tempat jualan."


"Ya ayo. Jangan galak-galak gitulah, kan pingin cium jadinya." goda Askar lagi.


"Sekali lagi ngomong aneh-aneh, aku turun." ancam Adzilla membuat Askar bergenti menggodanya.


Di sepanjang perjalanan mereka larut dalam pemikiran masing-masing. Askar memikirkan bagaimana cara menyampaikan niatnya menikahi Adzilla kepada Hana.


Apalagi Mentari terus mendekati Hana membuat pembicaraan seputaran kebaikan Mentari saja.


Tetapi hal itu tidak membuat keputusan nya goyah. Perasaan nya tak mungkin sedangkal itu.


Sesampainya di rumah ayah Yusuf, ia ikut masuk ke dalam rumah ingin bertemu dengan kedua anak Adzilla.

__ADS_1


"Assalamualaikum." ucap Askar dan Adzilla bersamaan.


Seperti biasa, kedua anak Adzilla pasti menyambut kedatangan nya dengan riang gembira.


"Ini martabak Bangka untuk abang sama adek." seru nya. Tadi ketika sampai di kota, Askar menyempatkan berhenti di grobak jualan martabak Bangka dan membatalkan mampit ke tempat jualan nya.


"Aku ganti baju dulu."


Askar mengangguk sembari membuka box martabak Bangka tersebut. "Kakek kemana?"


"Sudah bobok, pi." sahut Sania.


"Pi, abang mau satu saja." pinta Satria.


Askar mengangguk. "Siap makan, sikat gigi ya. Baru tidur."


"Iya, pi."


Sesuai yang dikatakan Askar, kedua anak itu melakukan apa yang diperintahkan. Kedua anak itu langsung menggosok gigi dan pergi tidur.


Sedangkan Adzilla menunggu Askar yang berada di dalam kamar anaknya untuk menemani hingga tertidur.


Setelah menemani kedua anak Adzilla tidur Askar langsung berpamit pulang, tak lupa mengucapkan salam sebelum hendak pergi.


...****...


"Dari mana kau dek?" tanya Hana mendapati pulang malam bukan dari jualan.


"Kondangan sama cewek ku kak." sahut Askar duduk di sofa berhadapan dengan Hana yang tengah bermain ponsel.


"Adzilla."


Hana mengerutkan dahi. "Yang mana lagi itu? ku kira si Mentari cewek mu."


Askar mencebik bibir. "Kenapa mesti Mentari?"


"Ya karena aku ingat kau pernah bilang kalau cewek yang kau suka masih jadi milik orang." jawab Hana sekenaknya saja.


Askar mencebik bibir. "Tapi bukan Mentari juga orang nya."


"Kenapa? Mentari baik, ramah, dan cantik. Pandai dia ukir alis nggak seperti kakak mu ini."


"Enggak tahu saja kakak kalau cewek ku jauh lebih cantik dari Mentari. Aku memang akrab sama Mentari kak, tapi bukan berarti Mentari yang ku sukai. Itu dulu waktu zaman sekolah. Sekarang aku sudah punya pacar dan kami berhubungan serius."


Pandangan Hana teralih menjadi menatap Askar dengan serius, ia tidak menyangka bahwa sang adik akan mengambil keputusan seserius itu.


"Kau masih muda jangan mengada-ngada." sergah Hana.


Hana melihat tatapan serius dari Askar meyakini bahwa sang adik tidak bermain-main.


"Aku serius, kak."


Hana menghela nafas. "Kau masih 21 tahun Askar."


Askar mengangguk membenarkan. "Tapi aku enggak mau berlama-lama berhubungan tanpa ikatan yang sah, kak. Dekat dengan Zilla lama-lama buat ku panas dingin."

__ADS_1


Hana tercengang dengan ucapan sang adik. Tentu tahu maksud dari kata panas dingin jika berdekatan dengan lawan jenis.


"Dasar otak mu yang mesum." umpat Hana pada adiknya.


"Dia sangat cantik da sek si." ucap Askar pelan saat mengucapkan kata sek si namun masih terdengar oleh Hana semakin membuat sang kakak melongo.


Sedetik kemudian mata Hana memicing curiga pada sang adik. "Jangan bilang kau sudah aneh-aneh Askar. Atau dia perempuan gak benar sampai kau panas dingin di buatnya."


"Enak saja. Zilla perempuan baik-baik kak. Bahkan aku enggak tahu rambut nya panjang tau pendek, hitam atau pirang, lurus atau ikal, entah enggak ada rambutnya pun aku enggak tahu."


"Sudah gila kau ya? jadi gimana bisa kau panas dingin kalau rambut cewekmu saja gak tahu."


Askar diam saja seperti menerawang jauh mencari alasan mengapa bisa merasakan seperti itu.


"Entahlah kak, mungkin karena tubuhnya terbungkus rapi jadi aku begini."


"Jadi kau lebih selera sama yang tertutup?"


"Awalnya enggak terlalu mementingkan itu juga, kak. Asal orang nya Zilla. Tapi melihat tadi dia berdandan jadi buat aku sadar, Aku enggak rela kecantikan dan keindahan yang dimiliki Zilla di lihat orang lain."


Hana terus menatap sang adik yang nampak berulang kali menghela nafas. Tidak menyangka adik yang dijaganya sendiri dari bersekolah menengah pertama hingga sekarang sudah menjadi pria dewasa.


Adik yang selalu ia sangka masih kecil saja ternyata sudah meminta restu untuk meminang anak gadis orang.


"Askar, menikah bukan hanya melulu urusan ranjang."


"Aku tahu, kak."


"Menikah itu menyatukan kedua keluarga. Gimana sama keluarganya? apa mereka menerima mu sebagai anak yatim piatu? kita orang nggak punya."


Askar tersenyum menatap sang kakak. Sungguh dirinya mengerti ketakutan dalam diri sang kakak. Banyak yang menilai jika anak yang sudah tak memiliki kedua orang tua maka akhlak bisa di ragukan.


"Ayah dia sudah setuju. Aku meminta izin langsung pada beliau untuk bersanding dengan Zilla."


Hana nampak menggeleng kepala merasa tak percaya bahwa adiknya benar-benar telah dewasa.


"Kenapa kau terlalu jauh melangkah, dek? kenapa enggak pacaran saja dulu."


Lagi, Askar menghela nafas. "Enggak baik pacaran kak dan aku juga enggak bakal kuat nahan nya."


"Atau jangan-jangan kalian sudah melakukan nya?"


Askar berdecak. "Asal kakak tahu saja, sekian lama aku mengenal dan mengejar cinta Zilla. Bisa di hitung berapa kali kulit kami bersentuhan karena terpaksa selain tadi dia merangkul lengan ku."


"Lusa ku bawa dia kesini ya, kak."


"Itu lebih baik."


"Siang ku bawa, masak enak kakak ya."


Setelah mengatakan hal itu, Askar bangkit berjalan menuju kamarnya. Di dalam kamar ia mengabari Adzilla tentang pembicaraan barusan.


❤️


TBC

__ADS_1


__ADS_2