SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
8. Usaha Askar


__ADS_3

Askar menghentikan motor matic NMAX tepat di depan rumah Adzilla. Dan kebetulan wanita itu tengah duduk di teras sedang memakaikan peci Satria.


Ia berdecak melihat pemandangan itu. Padahal sebelum jatuh hati pada ibu beranak dua si mata teduh itu, kriteria nya bukan lah seperti Adzilla.


Dahulu ia sangat menyukai tubuh wanita ideal. Dengan tinggi semampai, rambut panjang, hidung mancung, bibir tipis.


Dan lihat ibu dari dua anak itu. Bahkan ia tak pernah melihat bentuk tubuhnya bagaimana. Yang ia tahu Adzilla mungil dengan wajah ayu dan mata teduh menenangkan hatinya.


Jangan tanya bagaimana bentuk tubuh dari Adzilla, karena setiap bertemu pasti wanita itu berbalut gamis longgar atau kaos panjang yang longgar pula.


Setelah puas menikmati pemandangan menenangkan itu, Askar turun dari motor berjalan menghampiri mereka.


Tapi lihatlah wanita itu membuat seorang Askar gemas ingin mencubit bibir bawah yang sedikit tebal itu.


"Ngapain datang lagi?"


Pertanyaan ketus dengan wajah masam malah membuat Askar terkekeh.


"Assalamualaikum, kak." ucap Askar tanpa menyahut pertanyaan Adzilla sebelumnya.


"Waalaikumsalam."


Askar tertawa melihat wajah Adzilla bermuram durja. Bahkan ia tak takut dengan pelototan dari Adzilla.


"Jangan gitu muka nya, aku nikahin mau?"


"Apaan sih, nggak jelas. Mau ngapain?"


"Mau jemput Satria loh, calon istri."


...****...


Adzilla menggeleng ketika Askar mengatakan 'calon istri'. Tidak sadarkah pria itu jika dirinya baru saja bercerai?


Dia menghina status barunya atau bagaimana?


Tidak sadarkah pria itu jika seorang wanita mudah baper?


Dasar pria menyebalkan.


"Jangan ngomong aneh-aneh di depan anak-anak." ucap Adzilla melihat Askar duduk bersama kedua anaknya. Sania berada di pangkuan Askar sedang Satria di sisi kiri Askar. Ketiga orang itu tengah menonton Chanel YouTube milik Askar.


"Berarti boleh ngomong aneh-aneh kalau kita berdua?" tanya Askar dengan senyum menggoda.


"Nggak lucu. Sudah sana, katanya mau antar Satria." usir Adzilla karena tidak ingin kedua anaknya terlalu dekat dengan Askar.


...****...


Askar menurunkan Sania dari pangkuan lalu mengecup pipi gadis kecil itu membisikkan sesuatu dan mendapat anggukan dari gadis itu.


Setelah itu Askar menyuruh Satria pamit dan salam takzim kepada Adzilla.

__ADS_1


"Hari ini aku dapat kabar dari surga, katanya mereka kehilangan satu bidadari nya. Tapi tenang saja, aku nggak akan bilang kalau kau ada disini, di hatiku." Askar menatap mata Adzilla dengan serius. Menghela nafas terasa sesak akibat jantung berdebar kencang walau hanya memandang mata teduh Adzilla.


"Nggak mempan. Sudah sana."


Tetapi agaknya pria di depan nya ini enggan pergi.


"Ingin ku tuturkan kata demi kata. Tentang perasaaan ku padamu. Dirimu adalah cahaya dalam hatiku. Dan aku berharap di hatimu aku menjadi setitik cahaya yang dapat menerangi dan mengobati luka di hidupmu."


"Kami berangkat."


Adzilla tertegun. Tak menyangka seseorang yang ia kenal hanya antara penjual dan pembeli bisa mendekati nya. Tentu ia tak bodoh jika sikap Askar padanya berbeda.


Bahkan ia menyadari ketika masih berstatus istri orang. Binar bahagia mata Askar tampak jelas ketika ia beli Kebab jualan nya.


Tetapi sekali lagi ia tekankan pada hatinya untuk tidak menghiraukan segala perhatian Askar kepada ayah Yusuf dan kedua anaknya.


Rasa trauma berumahtangga membuatnya enggan untuk berhubungan pada lawan jenis lagi.


...****...


Malam harinya, Askar datang kembali ke rumah Ayah Yusuf. Kini ia tak lagi gencar walau Adzilla terus saja memberontak.


"Assalamualaikum."


"Kumcayam. Om anteng." pekik Sania berlari ke arah pintu mendatangi seseorang lalu melompat dalam gendongan.


"Mama ada?"


"Ada om, di dayam emam."


Sebenarnya ia sudah makan tetapi makan di satu meja dengan Adzilla itu adalah hal menyenangkan. Bahkan sengaja duduk di sebelah Adzilla karena kedua anak pujaan hatinya bisa di ajak kerjasama.


Satria dan Sania duduk di sebelah ayah Yusuf.


Askar melihat menu makanan yang tersaji di atas meja. Ada tumis kangkung belacan, tempe bacem, rendang jengkol, dan ikan asin goreng.


"Kenapa sama makanan nya? nggak suka? pulang saja sana." Adzilla mengatakan itu sembari mengambilkan makanan untuk Ayah Yusuf dan kedua anaknya.


"Zilla, kalau ngomong yang sopan." tegur ayah Yusuf membuat Adzilla cemberut.


Tapi lihatlah pemuda ini, tanpa malu menyerahkan piring pada Adzilla.


"Apa?"


"Ambilin, pasti menyenangkan dilayani sama wanita cantik kayak kakak."


"Hais.. Dasar tamu gak ada akhlak." cibirnya tetapi tetap menerima piring dari Adzilla mengambil nasi.


"Tumis kangkung mau?"


"Boleh."

__ADS_1


"Jengkol?"


"Jangan, aku mau jualan lagi nanti kak."


Adzilla tersenyum miring atas jawaban Askar. "Malu? jaga images? dasar, buaya."


Askar tidak menjawab karena sudah mulai memakan nya tetapi pikiran nya melayang karena ucapan Adzilla barusan.


Malu?


jaga images?


Buaya?


Entah apa yang di pikirkan wanita di sebelahnya, bagaimana bisa Adzilla berpikir seperti itu?


Usai makan malam bersama, Askar mengobrol sebentar kepada ayah Yusuf dan bermain bersama kedua anak Adzilla hingga menunggu kedua anak itu tertidur pulas.


Ia tidak akan menyerah menunjukkan rasa cinta dan ingin melindungi mereka bertiga. Yakin akan membuahkan hasil bahagia.


Mencari cara meluluhkan hati wanita yang selalu bersikap acuh tak acuh bahkan cuek memang menjadi sebuah bentuk perjuangan tersendiri, ya. Ini karena setiap wanita memiliki prinsip dan sifat yang berbeda-beda, serta sulit ditebak.


Jika berhasil mendapatkan hati wanita yang diidamkan dan disukai, tentu jadi keingingan semua orang. Bahkan, para pria pasti akan melakukan segala cara dan trik untuk menarik hati pujaan hatinya.


Tapi tidak semua berbuah manis. Sebagian ada yang berhasil, namun tidak sedikit pula yang gagal mendapat cintanya.


Saat ia hendak pulang, Ayah Yusuf menyuruh Adzilla mengantar Askar ke depan. Dan kesempatan ini tak akan ia sia-siakan.


Askar duduk di teras membuat Adzilla kebingungan. "Kenapa duduk lagi, bang?"


"Kak, kita perlu bicara."


Adzilla tampak kikuk namun tetap duduk memberi jarak pada Askar.


"Mau bicara apa?" tanya Adzilla menatap lurus ke depan.


"Jangan jutek dan menutup diri kak."


"Siapa yang menutup diri?"


"Kakak, berbahagialah dan belajar untuk menerima kehadiran ku." Tubuh Askar mengarah ke Adzilla yang tengah menatapnya dengan serius


Adzilla sendiri merasa takut karena perkataan Askar lah yang sangat ia hindari. Hatinya belum siap.


Dan ia takut Askar akan sama seperti Bari. Habis manis sepah di buang. Ia takut menerima Askar dan berubah menjadi kasar, dan pelit setelah mendapatkannya.


"Jangan ngomong gitu, bang."


"Oke, aku tak apa di tolak lagi. Tapi jangan halangi aku untuk dekat dengan kalian. Apalagi dengan Sania. Kakak tahukan kalau anak bungsu kakak itu begitu lengket dengan calon papi baru nya."


Adzilla diam seribu bahasa dan ikut bangkit ketika Askar bangkit hendak pulang juga menjawab salam dari Askar.

__ADS_1


❤️


TBC


__ADS_2