
"Selamat sore, Bu Adzilla," sapa Dokter SpOG bernama Wardiah itu.
"Sore, Dok," sahut Adzilla kikuk karena Dokter Wardiah adalah Dokter yang menangani kedua anaknya selama hamil sampai lahir dengan operasi caesar.
Askar melihat Adzilla malu-malu merasa aneh sebab ini bukanlah kehamilan pertama bagi istrinya.
"Dok, istri saya semalam coba lakukan test kehamilan hasilnya garis dua," ucap Askar membuat Dokter Wardiah tersentak. Bukan karena kehamilan melainkan ucapan Askar.
Adzilla melihat Dokter kandungan itu langsung memberi penjelasan. "Ini suami saya sekarang, Dok."
Adzilla dan Dokter Wardiah saling pandang. "Sudah enggak sama Pak Bari?"
Ia tersenyum kecut ditanya seperti itu, lalu menggeleng sebagai jawaban. Di genggam tangan sang suami dan tapapan memuja untu Askar.
Akhirnya Adzilla di periksa. Askar terhari melihat segumpal darah tersebut. Dokter Wardiah menjelaskan apa saja yang di pertanyakan maupun tidak di pertanyakan oleh keduanya.
"Bayi nya gak boleh lebih dari 2,7kg ya,"
Askar mengerutkan dahi merasa aneh. "Kenapa begitu dok?"
Dokter Wardiah tersenyum. "Ibu Adzilla memiliki melahirkan secara caesar, jadi untuk menghindari yang tidak di inginkan lebih baik berjaga-jaga."
Askar menoleh ke arah Adzilla dengan tatapan sukit diartikan. "Kok gak pernah kasuh tahu aku, Mi," ucapnya lirih.
Sedang Adzilla hanya diam saja. Usai di periksa dan di beri vitamin, keduanya keluar dari ruang periksa langsung ke meja kasir membayar biaya periksanya.
"Kita langsung ke rumah Ayah ya, Pi. Jemput anak-anak," ujar Adzilla hanya dibalas deheman oleh Askar.
Askar melajukan sepeda motor dengan hati-hati karena sekarang sudah ada anaknya tumbuh di rahim istrinya walau sebenarnya ia kesal dengan dirinya yang bodoh tak mengetahui bila kedua anak sambungnya dilahirkan secara caesar.
Ia mengulas senyum ketika merasakan tangan Adzilla melingkar diperutnya dan kepala sang istri bersandar di punggung nya.
"Jangan berkecil hati," bisik Adzilla semakin membuat hati Askar menghangat karena memiliki istri yang sangat mengerti dirinya.
Sekali lagi, ia telah jatuh cinta pada Adzilla, istrinya.
"Aku hanya merasa bodoh enggak pernah tahu dan bertanya bagaimana sayang melahirkan Satria dan Sania," ucap Askar saat mematikan motor matic nya di depan rumah Ayah Yusuf.
Di rapikan rambut Adzilla yang menyembul keluar dari hijab istrinya itu.
"Aku kira Papi sering elus bekas luka operasi nya sudah tahu, Pi."
__ADS_1
Askar tersentak. "Jadi itu bekas operasi nya? aku kira tanda lahir," Askar menggaruk kepala bagian belakang nya yang tak gatal merasa malu sendiri.
Adzilla tertawa semakin membuat Askar terpesona. "Jangan menertawakan aku, Mi. Bisa jadi ciuman akan mendarat di bibir Mami."
Ucapan Askar langsung membuat Adzilla menutup mukut dengan kedua tangan.
"Papi ada-ada saja, apa Papi beneran gak tahu gimana luka bekas operasi caesar?"
Askar menggeleng lucu. "Gimana mau tahu, sayang? tubuhmu adalah satu-satu nya yang ku lihat tanpa pakaian kalau malam atau pakai baju setelah mandi. Jadi aku gak ada pernah tahu luka operasi caesar gimana."
Adzilla menelan saliva menyadari apa yang dikatakan Askar benar adanya tetapi senyum penuh maksud dari Askar sudah bisa diartikan olehnya.
"Jangan aneh-aneh. Ini di rumah Ayah sudah pasti anak-anak akan tidur sama kita."
Askar nyengir kuda menyadari itu. "Iya-iya. Padahal aku masih kangen, ayo kita masuk."
Keduanya masuk ke dalam rumah setelah ucapan salam mereka di jawab dari dalam. Adzilla terkejut melihat seseorang yang tengah mengobrol dengan Satria.
"Kakek mana?" tanya Adzilla pada Satria.
"Di kamar mandi, Mi."
Sedang Askar harus menekan kecemburuan melihat anak sulung nya sedang asyik mengobrol dengan orang itu.
"Ada perlu apa abang kesini?" tanya Adzilla dengan wajah datar.
"Abang kesini mau minta izin bawa anak-anak ke rumah untuk jenguk ibu, dek," kata Bari dengan suara melembut tak seperti dahulu.
Askar duduk disebelah Adzilla mengepalkan tangan mendengar Bari memanggil istrinya dengan sebutan 'dek'.
Tetapi dirinya hanya bisa menekan rasa cemburu karena yang dibicarakan mereka masalah anak.
"Enggak, aku enggak izinkan,"
"Dek."
"Nduk."
Adzilla menoleh ke arah sang ayah yang baru saja bergabung dengan mereka. Sedang Satria sudah ke kamar atas permintaan Askar.
Adzilla menggeleng. "Aku gak izinkan. Kemana saja kalian selama aku masih menjadi istrimu, Bang? dan kemana kalian ketika kami bertiga pulang ke rumah Ayah setelah kau mengucapkan kata talak itu?" cecar Adzilla dengan suara meninggi dan air mata itu sudah membasahi pipi.
__ADS_1
Ayah Yusuf hanya bisa diam menghela nafas sedang Bari tertunduk malu. Belakangan ini begitu banyak masalah di keluarganya. Dari ibu nya jatuh sakit, belum lagi sikap istrinya yang tak sesuai yang diharapkan.
Askar melihat istrinya begitu langsung memeluk dari samping. Mengelus punggung dengan lembut berharap istrinya segera tenang walau tak secepat yang diharapkan karena Adzilla semakin mengencangkan tangisnya.
"Istighfar, ingat anak kita sayang," ucap Askar memberi ketenangan.
"Kau tak akan memintaku untuk kasih izin orang itu kan? kau pasti tahu aku akan patuh apapun yang kau inginkan, As!"kata Adzilla dengan suara terbata-bata.
Masih dengan posisi yang sama, Askar semakin mempererat pelukan. "Gak akan ada yang bawa kedua anak kita pergi tanpa izin darimu, kak,"
Adzilla merengut langsung mengurai pelukan karena merasa tua jika dipanggil kakak oleh suaminya sendiri.
Askar terkekeh langsung memeluk Adzilla kembali dan melabuhkan kecupan di pucuk kepala istrinya itu.
"Aku antar ke kamar, ya. Ingat mami sedang hamil. Enggak boleh marah-marah nanti dede bayi nya mirip Mami."
"Papi," rengek Adzilla membuat Askar tertawa sembari menuntun Adzilla masuk ke dalam kamar.
Ayah Yusuf melihat itu menjadi tersenyum sedang Bari tersenyum getir menyesali apa yang telah ia lakukan di masa lalu.
"Maafkan saya, Yah," ucap Bari.
Ayah Yusuf yang masih memerhatikan pintu kamar sang putri yang masih tertutup langsung menoleh ke arah Bari.
"Semua sudah lewat, Zilla sudah bahagia sekarang."
...****...
Ditempat lain, sepasang anak manusia di dalam selimut yang sama. Keduanya baru saja menghabiskan waktu dengan mandi dalam peluh yang sama.
"Mas aku pulang ya," rengek si wanita tetapi itu justru membuat pelukan dari si pria semakin erat.
"Mas masih kangen," ucap si pria lirih.
"Jangan seperti ini, aku enggak enak sama istri mas dan suamiku juga akan pulang hari ini,"
Pandangan mereka bertemu dan kembali saling berpagut. Hingga pasokan udara dalam dada hampir habis barulah mereka menyudahi pagutan.
"Kenapa mereka gak ngerti posisi kita, dek? kita baru saja kehilangan anak-anak kita untuk kedua kalinya."
❤️
__ADS_1
TBC