SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
40. Ular Piton Babon


__ADS_3

Inilah yang ingin ia rasakan, dipuji atas fantasi nya ketika di atas ranjang. Adzilla mendorong Askar hingga terlentang. Tangan nya menggeliat dari dada turun ke perut hingga berhenti pada tonjolan yang ada di balik celana.


Dielus terus menerus membuat Askar benar-benar mabuk kepayang. Di buka celana pendek itu juga benda segitiga pelindung.


Ia menelan saliva melihat ukuran milik Askar sangat jauh berbeda dengan milik Bari. Ini mah ular piton babon. Pasti gak sakit kan?


"Jangan di lihatin terus, aku malu sayang."


Lamunan nya melihat milik Askar buyar mendengar ucapan Askar, bahkan rasanya ingin tertawa.


Ah, Adzilla baru ingat jika malam ini sedang perjakain suaminya. Ingin sekali dirinya tertawa tetapi ini adalah momen tak tepat untuk itu.


Tanpa menjawab, Adzilla menggenggam ular piton yang sudah berdiri kokoh. Genggaman disertai pijatan rileksasi membuat sang pemilik ular piton menge rang hebat.


Perlahan tapi pasti. Adzilla memulai mendekati pisang raja itu. Mengecup dari ujung kepala hingga pangkal ular piton.


Tak lupa satu tangan lain nya memainkan buah yang bergelantungan itu.


"Aah.. Sa-sayang."


Adzilla mendongak menatap Askar yang juga sedang menatap nya. "Ya." sahut Adzilla sembari memijat dengan gerakan naik turun.


"Kau luar biasa." puji Askar lagi membuat Adzilla tersenyum malu kemudian menunduk kembali.


Lidahnya mulai menjelajahi ular piton. Lidahnya menyapu bagian kepala ular piton. Sungguh, suara era ngan Askar membuat dirinya menggila.


Untuk malam ini, Adzilla tak memikirkan rasa malu karena kalimat pujian dari Askar membangkitkan sisi liar nya.


Adzilla menegakkan tubuh nya karena sudah tak tahan ini merasakan ular piton milik Askar.


Tetapi Askar menggeleng dan meminta dirinya tidur terlentang. "Aku juga ingin belajar, yang."


"Tanganmu gak sakit?" tanya Adzilla.


"Hanya sebentar. Tapi aku janji, setelah tangan ku sembuh pasti akan lebih memuaskan mu."


Adzilla tersenyum kemudian mengangguk.


...****...


Askar mulai mencium, melu mat, dan membelitkan lidah nya. Tatapan keduanya bertemu lalu tersenyum di tengah kegiatan mereka.


Hingga pada akhirnya Askar membuka kedua paha dan terpampang jelas goa kenikmatan yang akan menjadi sarang ular piton nya.


Goa dengan di tumbuhi semak yang terawat. "Apa kau potong?"

__ADS_1


Adzilla tampak mengangguk. Kemudian menutupi nya karena kepala Askar menunduk mendekati goa miliknya.


"Mau apa, As?" tanya Adzilla.


"Melakukan hal yang sama sepertimu." sahut Askar dengan suara berat.


"Jangan, nanti kau jijik." cegah Adzilla. Jujur, ingin sekali ia merasakan hal itu. Tetapi tak pernah tersampaikan karena dahulu Bari selalu mengatakan jijik dan jorok.


"Kenapa jijik kalau kau saja melakukan hal sama. Tapi maaf kalau aku gak mahir sayang."


Tanpa menunggu jawaban Adzilla, ia mempraktekkan apa yang dilakukan istrinya tadi. Memulai menjulurkan lidah dan menyapu setiap sisi goa itu. Kemudian menghi sapnya. Melakukan itu berulang kali hingga ia merasakan sesuatu keluar dari sana bersamaan desa han Adzilla menggema.


Menyeruput cairan itu hingga tandas kemudia ia tegak bertumpu pada kedua lutut. Menyaksikan Adzilla tengah terpejam dengan senyuman dan nafas terengah-engah.


Mengarahkan ular piton ke goa yang akan menjadi sarang nya. Menyebut nama keduanya tanpa bisa menggambarkan kenikmatan tiada Tara yang mereka rasakan.


Desa han, erangan, dan racauan menggema di setiap sisi kamar mereka. Hingga sampai pada titik puncak nirwana bersama.


...****...


Sebelum subuh keduanya menyelesaikan pergula tan itu. Dan baru sama menyelesaikan mandi wajib, kini.


"Maaf membuatmu lelah, yang." ucap Askar sembari membantu mengeringkan rambut Adzilla dengan handuk.


Adzilla mencebik bibir karena malu harus membahas apa yang baru saja mereka lakukan. "Jangan bahas itu, aku malu."


Adzilla menggeleng. "Bang Bari gak suka sama perempuan yang banyak tingkah."


Askar bernafas lega. "Sayang, tetaplah jadi perempuan yang punya rasa malu. Perlihatkan sisi liar mu hanya padaku."


"Kenapa begitu?"


"Karena Allah menciptakan wanita sesuai dengan fitrahnya, yaitu menjadi perhiasan dunia dengan keshalihannya, dan malu adalah salah satu dari ciri khas tersebut."


Adzilla tersenyum lalu mengangguk. Pandangan mereka bertemu dari pantulan cermin. Ia meraih tangan Askar berada di pundaknya. Mengecup punggung tangan suaminya dengan ucapan banyak terimakasih.


Suara adzan berkumandang, Askar dan Adzilla kompak membangunkan kedua anak mereka untuk sholat berjamaah.


Dengan telaten keduanya mendampingi anak-anak mereka berwudhu secara bergantian.


Mereka sholat di ruang tamu yang sudah Askar alat dinding khusus untuk sholat dan memgaji. Adzilla sendiri merasa bersyukur. Kini keinginan bisa sholat berjamaah dengan suaminya sudah terwujud walau dahulu keinginan itu datang ketika masih menjadi istri Bari.


Selesai sholat, Satria dan Sania pergi tidur kembali. Sedang Askar sudah mengaji membelakangi Adzilla.


Di belakang Askar, Adzilla terus memandang punggung suaminya. Bahkan tanpa terasa air matanya menetes merasa begitu bahagia.

__ADS_1


Bukan harta dan tahta yang utama keinginan nya. Hanya seperti ini, hidup sederhana dan tentram juga damai dalam memperdalam ilmu agama.


Terciptanya Rumah tangga yang Sakinah mawadah warahmah.


Berulang kali ia mengucapkan kata syukur telah dipertemukan oleh Askar.


...****...


"Sayang." panggil Askar memasuki dapur.


"Ya." jawab nya baru saja selesai mencuci piring setelah selesai sarapan bersama.


"Aku saja yang antar Satria ke sekolah ya. Kau belum ada tidur sejak tadi malam."


"Setelah pulang, aku tidur. Kau di rumah jaga Sania. Maaf, bukan gak nurut. Tapi aku gak mau kau kenapa-kenapa di jalan karena nyetir tangan satu."


"Baiklah, ingat ya langsung pulang."


Adzilla mengangguk kemudian mencium punggung tangan Askar dengan takzim.


Askar tersenyum. "Aku mencintaimu."


"Aku lebih dari itu. Kami berangkat ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Askar mengantarkan Adzilla dan Satria sampai depan rumah. Ada rasa tak enak hati karena harus Adzilla yang mengantar Satria sekolah.


Hah, sekali lagi Askar merutuki kebodohan nya karena patah hati harus berakhir dengan tangan patah tulang begini. Padahal jika saja bersabar sedikit lagi, Adzilla juga akan dinikahi nya.


"Askar bodoh." umpatnya tetapi sedetik kemudian ia tersenyum mengingat kejadian malam tadi.


Benar-benar tak menyangka Adzilla benar-benar membuatnya terbang ke angkasa mengarungi awan-awan di langit biru.


Ia berpikir bukanlah dirinya yang memberi nafkah batin, melainkan dirinyalah yang diberi nafkah batin itu.


Terbukti. Adzilla sanggup melebihi ekspektasi nya.


Jika dipikir-pikir, dirinya sangat payah dengan permainan malam tadi. Tetapi Adzilla mampu mengarahkan dan mengajarinya.


"Astaghfirullah, As. Jangan pikirin itu lagi. Joni bangun. Lebih baik tidur mumpung Sania tidur."


Askar pun memaksa matanya untuk terpejam walau sangat susah harus di dahului doa tidur dan permohonan agar tak berpikir kotor lagi.


❤️

__ADS_1


TBC


__ADS_2