
Sedari malam sebelum akad nikah Reza sudah tak tenang. Sedari malam itu, dimana ia memberitahu bila akan bertunangan dengan Diana. Dirinya tak pernah lagi bertemu Mentari.
Mencoba memeham mata hingga terbangun pukul 3 dini hari. Ia pun pergi ke kamar mandi berwudhu untuk menunaikan sholat malam.
Berdoa memohon ampun atas segala kebejatan dan kejahatan yang ia lakukan pada Mentari. Dan ia juga memohon untuk di pertemukan dengan wanita yang menjadi teman tidurnya, wanita yang suka rela menyerahkan tubuh dan cinta tulus padanya.
Tetapi, hingga pagi hingga akad selesai Mentari tak menampakkan diri. Bahkan acara resepsi pun terlewati tanpa ada Mentari.
Memang ia tersenyum dan tertawa, tetapi tak ada yang tahu jika hatinya gunda gulana. Di tatap wajah Diana yang baru saja selesai membersih make-up.
Helaan nafas berat darinya memikirkan hal selanjutnya yang akan terjadi. Ia harus memberikan nafkah batin pada Diana.
Bisa tidak bisa.
Mau tidak mau.
Malam ini harus terlaksana. Bohong jika ia tak terang sang bila sedang berduaan dengan Diana karena wanita yang sudah menjadi istrinya itu tak mengenakan hijab seperti Adzilla dan Mentari.
Tetapi yang menjadi masalahnya adalah, setiap kali mencumbu Diana pasti terngiang wajah Mentari.
Karena selama ini, hanya dengan Mentari ia melakukan itu.
"Mas," panggil Diana berjalan berlenggak-lenggok mengenakan lingerie berbahan satin.
Reza mendongak. Cukup terkejut karena sebelum nya Diana belum mengenakan pakaian tipis itu. Ia tahu jika Diana tersenyum ketika dirinya sedang menelisik bentuk tubuh istrinya.
"Sekarang mas bebas ngelakuin apa saja denganku," ucap Diana duduk di sebelah Reza bergelanyut manja.
Risih.
Itulah yang dirasa Reza. Ia menginginkan Mentari bukanlah Diana. Tetapi sadar bila itu tak mungkin. Malam ini harus menjalani kewajiban nya sebagai suami.
Maafin aku, Mentari.
Kedua mata mereka bertemu semakin mengikis jarak hingga kedua bibir itu bertemu. Mata terpejam mengingat percumbuan nya dengan Mentari.
Reza yang sudah pernah melakukan itu sedari lama tentu tahu titik kelemahan Diana. Tiba saat nya miliknya hendak memasuki intin Diana.
Gerakan nya terhenti menyadari sesuatu. Mata keduanya bertemu. Kecewa pasti saja. Tetapi karena masih dalam gai rah yang menurun, ia melanjutkan permainan. Bahkan tak ada keluar racauan seperti mana ia jika sedang menyatu dengan Mentari.
Tak lagi menikmati, dengan segera mengakhiri permainan. Begitu pelepasan, ia langsung bangkit memakai celana pendek. Keluarbkamar menuju dapur memasuki kamar mandi untuk mandi wajib.
"Mas," panggil Diana ketika Reza baru saja masuk kamat kembali.
Reza duduk tepi ranjang. "Siapa yang melakukan nya?" tanyanya dingin.
__ADS_1
"Melakukan apa, mas?"
Reza menoleh ke arah Diana dengan tatapan tajam. "Jangan kau kira aku bodoh, Diana. Walau milik mu itu sempit tapi aku tahu kalau kau tak lagi gadis."
Diana menunduk meremas baju tidurnya.
Reza menghela nafas. Sadar jika ini pantas ia dapat karena ada seseorang yang ia sakiti sedari dulu.
"Jangan tinggalin aku, mas."
"Gara-gara kau, aku harus ninggalin seseorang," ucap Reza mengacak rambut nya frustasi kemudia baring memunggungi Diana.
Tidak ada lagi pembicaraan malam itu. Sungguh Reza sangat merindukan Mentari.
...****...
Pagi harinya, Reza mengajak Diana untuk belanja keperluan dapur karena hari itu juga ia akan membawa Diana tinggal bersama ibunya.
Bukan ia tak ingin berbicara jujur pada sang ibunda. Tetapi, ia takut ibunya harus masuk rumah sakit lagi karena memikirkan masalahnya.
Ibu Reza memiliki penyakit diabetes dan darah tinggi.
Sesampainya di pajak, ia harus menelan pahit karena Diana rewel ketika dirinya meminta memilih bawang dan cabai.
Berulangkali mengucap istighfar dalam hati. Dan timbul perasaan membedakan antara Mentari dan Diana.
Sepertinya alam sedang mendukungnya tanpa sengaja, ia melihat mentari berdiri tak jauh dari tempatnya.
Dengan cepat ia mengejar Mentari karena ia tahu wanita itu sedang menghindar darinya.
"Mentari." panggilnya.
Ingin sekali ia memeluk tubuh Mentari tetapi melihat wanita itu mundur ketika ia berusaha mendekat membuatnya urung.
"Ada apa, Za?"
"Kau kemana saja? Aku mencarimu," Reza benar-benar merindukan Mentari.
Reza melihat senyuman Mentari yang terpaksa dan itu berhasil membuat hatinya perih.
"Aku pulang kampung. Maaf aku gak bisa datang di acara pertunangan dan pernikahan mu semalam. Aku baru sampai pagi ini."
"Tapi-,"
"Mas."
__ADS_1
Reza mengumpat kesal pada Diana membuat menoleh ke arah istrinya itu. Mende sah kesal karena Diana mendatanginya hanya untuk menemani belanja padahal dirinya butuh waktu untuk bicara dengan Mentari.
Mengingat Mentari membuat Reza menoleh ke arah wanita itu namun sangat di sayangkan karena Mentari sudah berlari cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Di hempas rangkulan Diana di lengan nya. Kemudian ia sendiri yang memilih bahan dapur. Selesai berbelanja tanpa bicara ia berjalan ke Parkiran membiarkan Diana berjalan di belakang nya.
Aku harus cari Mentari dan berbicara dengan nya.
...****...
Tiga bulan kemudian, Diana dinyatakan hamil. Tetapi sikap Reza tak juga berubah. Memang benar, cinta tak dapat di paksa.
Usia kandungan Diana sudah 3 minggu. Dan ini adalah kehamilan kedua Diana karena sebulan setelah menikah, istrinya itu dinyatakan hamil tetapi tak berapa lama keguguran.
Reza memikirkan hanya dua kali selama sebulan itu memberi nafkah batin pada Diana sudah hamil. Timbul pertanyaan apakah Mentari hamil saat ia tinggalkan? karena selama berhubungan dengan Mentari, ia tak pernah menggunakan pengaman.
Ia dan Mentari tak suka memakai benda pembungkus itu.
"Mas, nanti malam boleh ya."
"Hem."
Reza tahu maksud dari ucapan Diana. Istrinya itu meminta nafkah batin darinya. Selama menikah, lebih sering Diana yang meminta lebih dahulu karena ia merasa sangat kecewa dengan Diana dan juga merasa mengkhianati Mentari.
Lagi pula bersama Diana ia tak pernah puas. Istrinya itu selalu saja tak berdaya setelah pelepasan pertama sedang dirinya tak bisa hanya sekali.
Mentari, aku begitu merindukanmu.
...****...
Malam hari nya. Ia berdecak melihat Diana masih menunggu nya, padahal ia sengaja pulang terlambat malam ini untuk menghindari permintaan istrinya.
"Kenapa belum tidur? kau kan lagi hamil." ucapnya berjalan menuju dapur di ikuti Diana.
"Aku nunggi mas pulang. Aku kangen, kan mas sudah janji."
"Apa lupa kalau kau pernah keguguran?" tanya Reza dengan pertanyaan benar walau ada niat terselubung dari pertanyaan nya.
Tanpa menunggu jawaban Diana, ia masuk ke kamar mandi membuka pakaian dan membersihkan diri. Setelah itu ia mengenakan celana boxer saja baru keluar dari sana.
"Ibu sudah tidur?" tanya Reza masuk ke kamar diikuti Diana.
"Sudah."
Dan malam itu Reza memberikan nafkah batin itu lagi. Ia tahu yang dilakukan ini adalah salah. Namun, terhadap Mentari ia memiliki rasa tanggung jawab yang belum terlaksana.
__ADS_1
❤️
TBC