SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
28. Bisa kita perbaiki ini sekali lagi.


__ADS_3

Beberapa hari lalu pada saat sore hari. Adzilla dan Ayah Yusuf tengah duduk di samping rumah memerhatikan Satria dan Sania bermain sembari berbincang.


Hingga kedatangan dua orang yang dikenal Adzilla membuat perbincangan ayah dan anak itu berhenti.


"Kak Hana cari Askar? Dia baru saja pulang." tanya Adzilla setelah menjawab salam dari Hana.


"Bukan. Bisa kita ngomong di dalam?" tanya Hana langsung membuat Adzilla menatap ayah Yusuf seolah meminta persetujuan.


"Ayo masuk, kak." Adzilla mempersilahkan masuk Hana dan Mentari ke dalam rumah.


Ayah Yusuf ikut duduk di ruang tamu bersama Hana dan Mentari menunggu Adzilla sedang membuat teh untuk mereka.


Adzilla datang ke ruang tamu membawa nampan berisi 3 gelas teh hangat. Dengan senyuman ia meletakkan 3 gelas teh hangat tersebut di depan Hana Mentari dan ayah Yusuf kemudia duduk di sebelah ayahnya.


"Ada keperluan apa, nak Hana? apa ada tambahan untuk acara akad Askar dan Adzilla." tanya ayah Yusuf.


Bekum sempat Hana menjawab, salah satu warga memanggil ayah Yusuf dan mengharuskan pergi ke balai Desa karena ayah Yusuf termasuk salah satu orang yang di tua kan di Desa nya.


Kini di ruang tamu itu hanya ada Adzilla, Hana, dan Mentari. Adzilla sendiri sudah menduga-duga apa yang akan terjadi. Tetapi yakin ini perihal hubungannya dengan Askar.


"Kakak minta kau bisa batalkan pernikahan mu dengan Askar." Hana memecahkan keheningan membuat Adzilla terkejut.


Ia merasa bagaimana mungkin dibatalkan karena pernikahan akan di laksanakan kurang dari sebulan di hitung sejak hari itu.


"Tapi kenapa, kak?" Adzilla harus tahu alasan mengapa harus di batalkan.


"Coba kau pikir, Zilla. Adik ku masih muda dan serba cukup walau belum bisa punya rumah sendiri. Pikiran nya masih labil. Mungkin saat ini dia terobsesi dengan mu. Tapi setelah dia bosan pasti akan mencampakkan kau. Kau pasti gak mau jadi janda lagi kan?"


Adzilla meremas jemarinya melampiaskan kegugupan. Inilah yang ia takutkan jika menyambut dan menerima lamaran dari Askar.


"Tapi Askar nggak begitu, kak. Bahkan sampai sekarang Askar benar-benar menjaga setiap kedekatan kami." jawab Adzilla lirih tetapi masih di dengar Hana maupun Mentari.


"Karena itulah Askar penasaran denganmu. Kalau boleh jujur, dari awal aku sudah nggak setuju dengan hubungan kalian. Tapi karena Askar terus memaksa jadi aku turuti saja. Dan akhirnya jadi pikiran ku, makanya aku datangi kau langsung."


Sekuat tenaga Adzilla untuk tidak menangis walau mata sudah terasa perih. "Kak, apa gak bisa kami berjuang untuk mendapatkan restu kakak? Kalau kakak mau kasih kesempatan, kami bakal menunda pernikahan sampai kakak merestui kami tapi ku mohon jangan di batalkan."


"Gak bisa, Askar harus tanggung jawab sama perbuatan nya dulu." Mentari menyela pembicaraan dan ia harus melakukan itu karena melihat wajah Hana mulai berubah melembut seperti merasa iba pada Adzilla.


Ucapan Mentari sungguh membuat Adzilla dan Hana terkejut. Degub jantung Adzilla berpacu semakin cepat karena taku jika yang di katakan Mentari benar adanya. Maka hal itu mengharuskan pernikahannya dengan Askar benar-benar dibatalkan.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Mentari?" tanya Adzilla mencoba tetap tegar.


"Kami dulu saat SMA sudah melakukan itu. Dan aku minta Askar tanggung jawab dan kau harus membatalkan pernikahan kalian."


Setelah mengucapkan itu, Hana dan Mentari pergi dari rumah ayah Yusuf. Bersamaan dengan itu, air mata sedari tadi berusaha dibendung mengalir deras, kini.


Harapan kita pupus, As.


...****...


Seminggu sudah Askar tak menumi Adzilla. Bukan tak ingin, namun wanita itu telah menghubunginya agar tak lagi datang menemui mereka.


Pernah sekali mendatangi kesana dan hanya ada ayah Yusuf. Ia pun tak membuang kesempatan untuk meyakinkan ayah Yusuf. Tetapi jawaban pria paruh baya itu sama dengan jawaban Adzilla.


Hari-hari yang ia jalani terasa suram dan hampa. Tak ada lagi semangat hidupnya. Tak ada lagi tujuan nya cepat pulang agar bisa bertemu dengan Adzilla juga kedua anak wanita itu walau hanya sebentar saja.


Tidak ada lagi senyum wanita yang selama ini telah mencuri hatinya.


"Pada akhirnya, kita hanya menjadi dua orang asing yang tak saling menyapa, padahal dulu pernah berjanji saling menghapus air mata."


*B**isa kita perbaiki ini sekali lagi?


Tidak usah dari awal, karena akan terlalu jauh tetapi dari sini saja tepat di mana Kita pernah bertengkar hebat kalau itu.


Haruskah aku katakan tak apa aku kehilanganmu karena aku masih bisa memelukmu di dalam doa.


Jikapun harus terlepas, paking tidak Tuhan sudah mendengatkan betapa bahagiamu pernah menhadi yang paling ku aminkan*.


...****...


Malam itu, setelah melewati tanggal dimana seharusnya Askar dan Adzilla sudah mengubah status menjadi pasangan suami dan istri.


Untuk pertama kalinya Askar tersenyum ketika melihat Adzilla dan Sania datang ke grobak jualan nya.


Kerinduan pada dua orang yang jalan mendekat langsung membuat Askar meninggalkan pekerjaannya ia menyambut hangat kedatangan Adzilla dan Sania.


" Sania Papi rindu, Adik sehat?" tanya Askar langsung menggendong gadis kecil itu.


"Nia baru sembuh, kata mama papi kerja jadi gak jenguk Nia."

__ADS_1


Mendengar perkataan Sania membuat ia melirik Adzilla yang sedang meliriknke arah nya.


"Sania mau burger?" tanya Askar dan di angguki oleh Sania.


Askar mendudukkan Sania di kursi bahan plastik di sebelah Adzilla kemudian meminta Reza membuatkan burger kesukaan Sania dan kebab untuk Adzilla.


Setelah itu, Askar duduk berhadapan dengan Adzilla dan Sania. Sungguh sulit menahan diri untuk tidak perduli dengan Adzilla karena seharusnya dirinya marah karena di puttuskan secara sepihak tetapi amarah itu terkalahkan dengan rasa cinta nya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Askar menyebut Adzilla dengan sebutan sayang seperti kebiasaan nya setelah tak memanggil kakak lagi.


Ia dapat melihat keterkejutan Adzilla saat ia bertanya tadi.


Adzilla mengangguk. "Ya."


Ingin sekali ia menatap dalam di mata Adzilla agar ia tahu apa sebenarnya yang dirasakan wanita itu.


Apa sama seperti dirinya yang begitu merindu?


Apa sama seperti dirinya hidup tak memiliki semangat?


Apa seperti dirinya yang kehilangan keramahan terhadap orang lain karena Adzilla pergi darinya?


"As."


Askar langsung menoleh menatap Adzilla. "Ya."


"Segeralah nikahi Mentari. Aku akan sangat senang jika kau menikahinya."


"Cukup, Zilla. Cukup aku menerima keputusan mu secara sepihak tapi jangan memaksakan kehendakmu. Kau sungguh menyakitiku."


Askar berdiri meninggalkan Adzilla dengan membawa Sania bersamanya karena gadis kecil itu ingin ikut bersamanya.


Masuk ke dalam minimarket kemudian membeli es krim untuk Sania, Satria, dan Adzilla. Helaan nafas kembali terdengar mengingat nama wanita yang masih menempati hati nya.


*Kau bahkan tak perduli dengan hatiku.


❤️


TBC

__ADS_1


Hai, sebentar lagi pemenang gift akan di umumin loh..


ayo dukung karya emak banyak² ya*.


__ADS_2