
Malam hari setelah pulang dari rumah sakit ayah Yusuf mengajak Adzilla berbicara. Tak biasanya ayah Yusuf nampak serius. Kedua nya duduk lesehan di depan televisi.
"Zilla, besok Askar pulang dari rumah sakit, kan?" tanya ayah Yusuf.
"Iya ayah."
"Apa kau akan menjenguk dia di rumah kontrakan nya?" tanya ayah Yusuf masih dengan raut wajah serius.
"Zilla enggak tahu ayah. Askar memang meminta tapi gak mungkin Zilla kesana walau bawa anak-anak kan, yah? Zilla takut timbul fitnah."
Ayah Yusuf menghela nafas. "Besok kalian akan menikah."
Deg
Adzilla terperanjat langsung menatap ayah Yusuf dengan wajah terkejutnya. "A-apa maksud ayah?"
"Ya maksud ayah, kalian menikah besok biar gak ada lagi fitnah. Ayah juga melihat bagaimana kerinduan antara kalian berdua setekah terpisah lama."
Adzilla menunduk dalam tanpa menanggapi ucapan Ayah Yusuf karena ia membenarkan itu semua.
Karena tanpa orang lain tahu, setiap berkunjung ke Rumah Sakit pasti Askar memeluknya lebih dahulu walau pada akhirnya dirinya lah yang melepaskan pelukan lebih dahulu. Hal iyu karena pelukan Askar begitu membuat ia nyaman dan aman.
"Tapi, ayah. Apa gak terlalu cepat?" tanya Adzilla.
"Apa bagus menunda kebaikan, nak?" tak menjawab lantas balik bertanya
Adzilla menggeleng. Tiba-tiba kegugupan langsung menyertainya. Remasan hemari menyertai nya.
"Apa Askar tak akan berubah setelah menikah nanti, ayah?"
Pertanyaan Adzilla membuat ayah Yusuf memeluknya dari samping. "Ayah sangat yakin kalau Askar gak akan berubah."
Adzilla hanya mengangguk. Ia pamit ke kamar setelah selesai berbicara pada ayah Yusuf. Di dalam kamar, ia membuka lemari menatap gamis putih bergantung di dalam sana.
Pakaian yang sengaja di jahitkan ke tukang jahit untuk pernikahan nya dengan Askar dahulu. Tapi belum sempat di perlihatkan pada Askar justru pernikahan mereka harus dibatalkan.
"Ini memang impian kita, tapi kenapa aku gugup begini? padahal ini bukan pertama untukku."
Menghela nafas berulang kali barulah Adzilla membenahi selimut kedua anaknya kemudian tidur.
*
*
*
Para tamu undangan sudah berpulangan kecuali Reza dan dua teman lain nya.
"Sana kalian pulang." usir Askar membuat ketia teman nya berdecak.
"Kami mau minta makan sampai malam, As." jawab Reza dengan kekehan.
Ayah Yusuf sudah pulang membawa Satria dan Sania. Sepertinya ayah dari Adzilla Rahma itu mengerti bahwa malam ini adalah malam yang dinanti setiap pasangan yang baru saja mengikrarkan janji suci.
Sedang Hana masih berbincang dengan Adzilla, Heri di depan rumah asyik dengan game yang tengah populer belakangan ini.
__ADS_1
"Hanya makan malam. Jangan ada yang menginap." kata Askar semakin membuat ketiga teman nya tertawa.
"Halah. Mana bisa kau malam pertama, As. Tangan mu saja begitu." ejek Reza membuat Askar semakin kesal.
Ia pun menyesali mengapa harus mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi malam itu.
Saat makan malam belum ada interaksi begitu in tim antara Askar dan Adzilla. Mereka masih saja nampak malu-malu. Padahal degub jantung keduanya begitu kencang.
...****...
Semua orang sudah pulang sesudah makan malam dan membantu membersihkan piring kotor, menggulung tikar, juga mengutip botol mineral yang berserakan disana.
Adzilla duduk di dapur sendiri karena bingung harus melakukan apa. Sedang Askar masih di dalam kamar mandi. Dirinya sudah membersihkan diri sebelumnya dan berganti pakaian dengan baju tidur lengan panjang dan hijab masih menutupi kepalanya.
"Sayang." panggil Askar dari dalam kamar mandi berada di dalam satu ruangan dapur itu.
"I-iya." sahut Adzilla berjalan mendekati kamar mandi.
Matanya terpejam kala pintu kamar mandi terbuka.
...****...
Di dalam kamar mandi Askar merutuki diri atas kecerobohan nya itu hingga dirinya tidak bisa melakukan apapun sendiri termasuk membuka pakaian nya sendiri.
Berulang kali menetralkan kegugupan untuk meminta tolong pada Adzilla yang sudah menjadi istri sah nya itu.
"Sayang." panggilnya membuka sedikit pintu kamar mandi itu.
"I-iya."
"Kenapa di tutup begitu matanya?" tanya Askar menahan senyum karena merasa lucu dengan tingkah Adzilla karena dirinya bukanlah pria pertama di hidup Adzilla, mengapa harus seperti itu.
Senyumnya mengembang melihat Adzilla membuka mata. "Sayang, tolong buka kan kancing kemeja ku."
Adzilla hanya mengangguk dan ikut masuk ke kamar mandi. Apakah istrinya itu tak sadar sudah masuk ke dalam kandang singa kelaparan?
Tetapi mengingat tangan kirinya membuat ia berdecak membuat Adzilla mendongak menatapnya. Ah, bukan mata Adzilla yang ia lihat melainkan bibir sensual milik wanita itu.
Entah mengapa hal itu justru membuat keduanya menjadi gugup. Dengan cepat Adzilla membuka kancing baju nya kemudian buru-buru keluar dari kamar mandi.
Ia pun menutup pintu begitu saja karena begitu gugupnya. Askar mengelus dada dan meletakkan telapak tangan di dada nya.
"Ya ampun jantungku." gumam nya kemudian segera membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri dan hanya memakai celana pendek tanpa memakai penutup badan. Askar celingukan mencari sosok Adzilla di dapur. Ada rasa malu tidak memakai penutup badan di depan Adzilla walau sudah terbiasa seperti ini jika hendak tidur.
Terlihat tak ada Adzilla di dapur membuatnya memberanikan keluar kamar mandi hendak ke kamar.
"Astaghfirullah." ucap Askar dan Adzilla bersamaan dengan itu membalikkan badan berlawanan.
"As, Kenapa gak pakai baju?" tanya Adzilla memunggungi Askar.
Askar yang juga memunggungi Adzilla menggaruk tengkuk leher yang tak gatal merasa bingung harus menjawab apa.
"Aku sudah terbiasa tidur begini, yang. Terus sulit pakai baju sendiri." sahutnya lirih.
__ADS_1
Askar berdehem. Walau begitu gugup dan malu, ia memberanikan diri membalikkan badan. Menelisik tubuh Adzilla dari belakang.
Tubuh yang sering membuatnya pikiran nya traveling padahal tubuh itu selalu berbalut kain yang sangat tertutup.
"Ngapain ke dapur lagi?" tanya Askar masih membiarkan Adzilla memunggunginya.
"Mau ambil air minum."
"Mau aku temeni atau gimana?"
Adzilla menggeleng.
"Ya sudah, aku ke kamar ya."
...***...
Askar dan Adzilla sudah berada di dalam kamar. Tetapi agaknya kedua nya masih enggan memejamkan mata. Masih duduk bersandar di kepala ranjang dengan mulut terkunci.
"Sayang." panggilnya menoleh ke samping menatap Adzilla yang baru saja menatapnya.
Dimiringkan duduknya mengarah ke Adzilla. "Bolehkah aku melihatmu tanpa hijab?" tanya Askar pelan takut Adzilla tersinggung.
Adzilla mengangguk dengan senyum manis. "Tapi, akan kah cinta mu akan berkurang jika aku tak sesuai dengan ekspetasi mu?"
Askar tersenyum. "Dengarkan aku, setiap perempuan itu cantik dan akan bertambah mempesona bila di biayai oleh pasangan nya kan? aku bukan tipe laki-laki yang ingin istrinya tampil cantik tapi gak mikir biaya nya. Sayang bilang saja kapan mau ke salon atau beli skincare bareng Sania."
"Benarkah? nanti cuma omong doang. Gimana kalau rambutku keriting terus aku pengen di keratin? keratin mahal loh. Belum vitamin rambut nya. Terus gimana kalau leher ku hitap tak seputih wajah ku? terus gimana perut ku yang melar sudah ngandung dua anak?"
"Suntik putih, lulur, body lotion ada sayang." sahut Askar gemas langsung menarik hidup Adzilla membuat pemiliknya mengadu sakit.
Tiba-tiba menjadi hening ketika Askar sudah menggenggam tangan Adzilla lalu di kecupnya. "Akhirnya aku bisa menyentuhmu dengan halal, Zilla. Semua bagai mimpi. Bahkan dulu saat aku sudah jatuh hati padamu yang masih status istri orang, aku gak pernah berharap untuk bisa memiliki mu."
"As."
Askar menatap Adzilla kemudian membuka hijab instan Adzilla. Rambut hitam dengan gaya rambut Shin Ha Ri dalam drama Bussines Proposal.
Ia pun memperbaiki poni Adzilla agar menutupi kening sesuai gaya rambut itu. Bukan lagi sesuai ekspetasi tetapi melebihi dari yang dipikirkan. Ia pernah menilai bila rambut Adzilla panjang dan akan di gulung bila memakai hijab. Tetapi lihatlah, istrinya itu justru lebih modis di balik hijab nya.
"Kamu berpenampilan cantik begini saat bersama mantan suami mu?" tanya Askar mendadak cemburu.
Tetapi senyumnya terbit ketika Adzilla menggeleng. "Aku buat rambut ku begini karena nonton drama korea dan uang nya di kasih ayah."
Askar tak menjawab memilih merapikan rambut Adzilla menyelipkan di belakang daun telinga wanita itu yang menunduk."Jangan pernah buka hijab di depan orang lain. Aku cemburu, sayang. Kau begitu sempurna."
Askar mengangkat dagu Adzilla. Tatapan mereka bertemu. Ia memberanikan duri mengecup kening, kedua mata, dan turun ke hidung hingga bibir itu dengan mata terpejam.
Ketika kedua bibir itu bertemu sontak mata mereka terbuka lebar. Berawal ciuman ringan berubah menjadi luma tan lembut.
Hingga..
"Awwh.."
"Maaf, As."
❤️
__ADS_1
TBC