
Reza menghela nafas melihat sang Ibu belum juga mau bicara padanya semenjak ia berpisah dengan Diana dan memperkenalkan Mentari.
Ya, keesokan harinya Reza membawa Mentari ke rumahnya untuk memperkenalkan pada sang Ibu. Dan Reza juga mengatakan ia akan membawa Mentari tinggal dirumahnya setelah sang ibu menerima pernikahan keduanya.
Memang tidak ada sepatah kata menyakitkan keluar dari mulut sang Ibu, namun diamnya sang Ibu membuat Reza dan Mentari berasumsi bahwa sang Ibu belum menerima perlakuan mereka berdua.
Reza juga telah mengurus surat perceraiannya dengan Diana. Ia juga tak lupa meminta maaf pada Diana atas perlakuan nya selama menjadi suami tak pernah memerhatikan Diana.
"Kau sudah makan Mentari?" tanya Reza melihat sang istri tampak kelelahan setelah melayaninya.
"Sudah. Tapi kayaknya aku lapar lagi, Za!" sahut Mentari mencari tempat ternyaman untuk tidur di lengan Reza.
"Pengen apa?"
Mentari mendongak begitu juga Reza menunduk. Mentari mengecup bibir Reza sekilas. "Aku mau makan kebab yang kau bawa saja. Za, ibu bisa makan bubur bayam nggak?"
"Bisa. Masaklah untuk Ibu besok biar aku yang antar ke rumah. Kau juga jangan capek-capek, ya. Biar anggota kerja mu saja yang ngurus warung."
Pagi harinya, sesuai perkataan Mentari sudah memasak bubur bayam dan ayam sambal balado. Mentari sangat berusaha keras untuk mendapatkan restu Ibu mertuanya. Baginya, Ibu Reza juga adalah ibu nya yang harus di hormati dan disayangi.
Mentari menyerahkan rantang pada Reza. "Hati-hati, jangan ngebut."
Reza mengangguk lalu mengulurkan tangan dan disambut Mentari dengan ciuman di punggung tangan Reza.
__ADS_1
Sepanjang jalan Reza memikirkan cara apa yang hendak diperbuat akan sang Ibu menerima pernikahan keduanya.
"Assalamualaikum," ucapnya langsung di jawab sang ibu.
"Bu. Mentari kasih sayur dan lauk untuk Ibu. Dimakan, ya?"
"Hem."
"Reza pulang, Bu! Reza gak bisa lama-lama karena Mentari sudah hamil besar."
"Bawa kesini istrimu, Za. Biar ada yang jaga kalau kau kerja."
Reza menoleh kearah sang Ibu. "Apa Ibu sudah menerima kami?" tanya Reza dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu bukan gak terima, hanya kecewa sama kau, Za. Jadi laki-laki kok pengecut dan berengsek begitu. Ibu malu!"
"Maafin Reza, Bu."
"Sudah-sudah. Yang terpenting jangan kau ulangi lagi!"
Reza mengangguk.
Sepulang dari rumahnya, Reza selalu mengulas senyuman membuat Mentari bertanya-tanya.
__ADS_1
"Senyum-senyum terus. Baru ketemu mantan, ya?" sindir Mentari membuat Reza menatap heran pada Mentari.
Melihat Mentari cemberut membuat Reza mengulum senyum. Sangat jarang sekali istrinya ini mengungkapkan perasaan bila sedang cemburu.
"Iya. Tadi ketemu dijalan. Dia makin cantik. Kau tahukan Ayu? mantan ku dulu yang enggak mau putus sama ku, dan itu kau juga sudah jadi simpanan ku?"
"Hem. Terus?"
"Ternyata dia belum nikah, mana makin cantik lagi."
Niat untuk menggoda sang istri justru ia menjadi ketakutan kala melihat tatapan Mentari begitu tajam kearahnya. Menelan saliva terasa sangat kasar dan sulit.
"Malam ini, tidur diluar!"
Tubuh Reza menegang. "Mana bisa begitu, Tari."
Mentari melotot. "Siapa bilang nggak bisa? bentang tikar, ada selimut, dan bantal juga."
"Nanti kalau kau kedinginan dan minta peluk gimana?" tanya Reza panic.
"Ada selimut dan bantal guling."
"Sayang, kita harus melakukan itu setiap malam biar lahiran kamu lancar, loh."
__ADS_1
❤️
TBC