
Sesuai permintaan sang adik. Selepas pulang berjualan di Pasar, Hana memasak banyak untuk menyambut pacar Askar.
"Seperti mau menerima lamaran saja."gerutu Hana kesekian kali.
Heri yang juga ikut membantu memaklumi karena merasa lelah dan mengantuk akibat pukul tiga dini hari sudah terbangun pergi ke Pasar untuk berjualan.
"Biarlah sekali-sekali. Askar jarang kan meminta sesuatu sama kita."
"Iya, anak itu sudah terbiasa ingin apa-apa usaha sendiri. Seperti uang dulu itu. Ku suruh daftar kuliah malah dibuat untuk jualan."
"Bukankah itu juga bagus? lihatlah, disaat teman-teman nya masih kuliah, Askar sudah memiliki penghasilan. Menuntut ilmu nggak harus dari kuliah."
Hana menghela nafas tanpa menjawab karena perkataan suaminya benar adanya
Makanan telah selesai di masak. Sudah waktunya bersiap untuk menyambut calon adik iparnya. Hana pun berlalu ke kamar mengambil handuk dan pakaian ganti kemudia berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dapur.
...****...
Di lain tempat. Lebih tepatnya di kediaman ayah Yusuf. Askar dengan setia duduk menanti calon istri dan Sania bersiap di kamar sedang Satria sudah rapih sedari tadi dirinya yang membantu.
"Nak Askar, apa nggak sebaiknya Satria dan Sania di tinggal saja? ini kan pertemuan pertama Zilla dengan kakak mu, nak."ujar ayah Yusuf merasa ragu dengan usulan Askar untuk membawa kedua cucunya untuk bertemu kakak pria itu.
"Enggak apa-apa, pak. Saya juga maunya kakak saya cepat tahu sebenarnya."
Berselang beberapa waktu Adzilla keluar kamar diikuti Sania. Askar terpaku dengan penampilan Adzilla. Benar-benar cantik dan pasti orang lain mengira Adzilla masih seorang gadis.
"Askar."
Askar tersentak suara wanita yang dilamunkan memanggil. Bahkan sampai mengelus dada.
"Berangkat sekarang?" tanya Askar.
Adzilla mengangguk membuat Askar tersenyum. Mereka pun bangkit dan berpamitan kepada ayah Yusuf tak lupa mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
"Abang, adek di depan ya sama papi." pinta Sania kepada sang kakak.
"Enggak boleh, laki-laki di depan. Iyakan, pi?" tolak Satri meminta dukungan kepada Askar.
Askar yang ditanya menjadi bingung lalu melirik Adzilla terkekeh melihatnya kebingungan.
"Adek di belakang sama mama. Pulang nanti baru di depan. Gantian." ucap Adzilla menengahi.
Nampak wajah binar kemenangan dari Satria tetapi berbeda dengan Sania seperti hendak menangis.
"Sayang papi, gak boleh nangis ya. Pulang nanti papi janji, adek duduk di depan sama papi." Askar menggendong Sania sebentar menghadiahi banyak kecupan di pipi gadis kecil itu.
"Geli, pi." Akhirnya gadis kecil itu tertawa membuat Askar dan Adzilla merasa lega.
__ADS_1
"Siapa yang pakaikan lipstik Sania?" tanya Askar.
"Mama."
Askar manggut-manggut tanpa menjawab langsung meletakkan Sania di atas motornya. Di lirik calon istrinya itu. "Apa lipstik kakak semerah itu?" bisiknya karena Adzilla sudah memakai masker.
"Enggak terlalu kok."
Jawaban Adzilla membuat Askar tersenyum. Sebenarnya jika Adzilla tidak berlipstik seperti biasa, atau lipstik warna menyala atau tidak tak masalah baginya.
Dikecup tiga ujung jarinya lalu di tempelkan ke kening Adzilla. "Pingin cium kakak, tapi nggak apa kan begitu?"
"Apaan sih, As."
Askar terkekeh melihat Adzilla tersipu malu. Ia pun naik ke motornya diikuti Adzilla. Selama perjalanan baik Askar ataupun Adzilla tak saling berbicara tetapi mereka meladeni Satria dan Sania yang terus bersuara.
Motor matic NMAX milik Askar berhenti tepat di depan rumah sederhana bercat hijau tersebut. Dengan telaten Askar membantu Satria dan Sania turun dari motornya.
Pandangan Askar dan Adzilla bertemu. "Jangan takut." ucap Askar menenangkan.
"Ayo."
...****...
Dengan serempak mereka berempat mengucap salam dan di jawab oleh orang yang berada di dalam rumah.
Terkejut dengan apa yang ia lihat. Tetapi Hana tetap bersikap wajar dan berpikir positif. Mungkin saja itu adik atau keponakan dari pacar sang adik, pikirnya.
"Sini duduk." ucapnya ramah.
Ia melihat Askar dengan telaten membantu kedua anak itu duduk di sofa dan mempersilahkan wanita itu duduk di sebelah sang adik.
"Dimana bang Heri, kak?"
"Masih ganti baju. Nah itu dia." sahut Hana.
"As, ambil teh di dapur."
Di lihat penampilan pacar sang adik. Ia akui memang lebih cantik dari Mentari. Pilihan sang adik wajib di acungi jempol.
"Berapa umurmu?"
"Akhir tahun ini 26 tahun, kak."
Mata Hana terbelalak mendengar usia Adzilla itu berarti 5 tahun di atas usia adiknya. "Kok mau sama Askar? kan dia jauh lebih muda, apa karena hartanya?"
Hana melihat Adzilla tersenyum getir atas pertanyaan nya. Tetapi tak ada salahnya jika bertanya seperti itu.
"Kasih sayang yang tulus dari Askar yang membuatku luluh, kak."
__ADS_1
Hana manggut-manggut setuju. Ia tahu betul jika adiknya memang tipe pria penyayang.
"Satria, Sania.. Ini papi buatin susu cokelat."
"Makasih, pi."
"Makasih, papi."
Kakak dari Askar itu terperanjat dengan ucapan Askar karena menyebut papi.
"Papi?" tanya Hana.
Askar tersenyum mengangguk namun belum menjelaskan karena masih meletakkan beberapa gelas teh di atas meja.
Setelah itu Askar duduk dan menggenggam tangan Adzilla. Semua itu tak luput dari pandangan Hana dan Heri.
"Kak, Aku pernah bilang dulu aku suka sama cewek tapi dia masih milik orang lain. Adzilla orang nya kak. Ibu dari dua anak. Wanita lemah lembut dan memiliki kesabaran seluas samudra."
Hana benar-benar tidak menyangka pilihan adik kesayangan nya adalah wanita lebih tua dan janda beranak dua. Ingin rasanya ia mengomel kepada sang adik. Tetapi urung karena tidak ingin membuat Adzilla tersinggung.
"Kenapa bisa pisah sama mantan suamimu, Zilla?"
Saat Adzilla hendak menjawab, Askar sudah lebih dulu berbicara. "Kak, itu adalah aib masa lalu Adzilla. Sebenarnya aku tahu penyebabnya, tapi biarlah aib itu tetap tersembunyi sebagaimana kita menyembunyikan aib kita sendiri."
Hana menghela nafas panjang. "Atau jangan-jangan kau yang sudah hancurkan rumah tangga Zilla, As."
"Mana ada kak, aku cuma menemani proses nya saja ya."
Dengan senyum mengembang menghiasi pahatan sempurna sang adik membuat ia sulit untuk menolak permintaan Askar.
"Kak Han. Aku juga mau sampaikan, minggu depan ke rumah ayah Yusuf ya."
"Siapa ayah Yusuf?"
"Ayah Adzilla, calon mertua ku. Datang kesana lamar Adzilla untukku."
Apa yang bisa diperbuat jika sang adik sudah meminta sesuatu padanya? karena selama ini Askar sudah berusaha untuk hidup mandiri semenjak kedua orang tua mereka tiada.
Hana terus melihat interaksi antara Askar pada Adzilla, lalu bagaimana begitu perhatian Askar kepada kedua anak Adzilla.
"Mau kakak bantu dari biaya atau enggak?"
"Enggak, kak. Biaya biar aku saja yang pikirkan. Aku mau bingkisan nya sesuai mau Zilla saja."
Benar dugaannya. Jika masalah biaya pasti Askar tak ingin dibantu.
Setelah mengobrol, Hana mengajak mereka untuk makan siang. Sekali lagi dapat dilihat ketulusan Askar menyayangi ketiga orang itu.
Tapi, ada rasa tak rela dihatinya.
__ADS_1
❤️
TBC