
Mungkin bisa dikatakan ini sudah menjadi rutinitas setiap bulan bagi Adzilla. Menggunakan alat test kehamilan setiap bulan nya.
Tetapi bedanya sekarang menggunakannya tanpa ditemani oleh Askar. Itu karena sang suami tengah berada di Ibu Kota dengan keperluan berbelanja bahan jualan kebab dan burger.
Biasanya dirinya dan kedua anak nya juga diboyong ke Ibu Kota namun karena kesehatan nya beberapa hari belakangan membuat Askar terpaksa berangkat berdua bersama Reza.
Di pandang cukup lama dua bungkus alat test kehamilan berada di genggaman nya. "Jika saja nanti hasilnya masih garis satu maka ini adalah terakhir kalinya aku menggunakan alat test kehamilan. Aku pasrah setelahnya."
Ya, Adzilla sudah pasrah jika memang hasil nya masih tetap sama seperti bulan-bulan lalu. Di dalam kamar mandi itu, ia menampung air se ni di wadah kecil yang telah di persiapkan.
Kemudian membersihkan baru lah keluar dengan membawa air se ni dan dua alat test kehamilan. Adzilla memilih duduk di lantai.
Segala doa permohonan ia sebut dengan mata terpejam ketika bendah pipi itu ia celupkan didiami beberapa saat. Tak lama kemudian di legak wadah kecil itu di lantai kemudian mengambil dua benda pipih tersebut.
Ia pun menghela nafas karena merasa sudah terlalu lama memejamkan mata. Perlahan dibuka matanya dan melihat hasil dari test bulan ini.
Tubuhnya menegang tanpa terasa air matanya menetes. Ia tak menyangka bila bulan ini akan melihat dua garis merah di test kehamilan nya.
Ucapan syukur terus diucapkan dalam hati. Inilah yang dinantikan olehnya dan suami. Ia pun dengan segera mengambil ponsel hendak menelepon sang suami.
"Jangan. Mending aku kasih kejutan saja saat sampai rumah," Adzilla mengurung niat nya namun panggilan telepon nya sudah terlanjur terhubung.
"Assalamualaikum, mi."
Sebelum menjawab salam, Adzilla terkekeh mendengar panggilan 'Mami' dari Askar. Ya, semenjak Satria meminta padanya memanggil 'Mami' dengan alasan memanggil Papi itu pasangan nya panggil Mami. Dan akhirnya sudah terbiasa memanggil itu.
"Waalaikumsalam, lagi ngapain?"
"Baru pulang dari Masjid, ada apa telepon pagi-pagi? apa terjadi sesuatu?"
Adzilla menggeleng padahal Askar tak melihatnya. "Aku baik-baik saja."
Tetapi sepertinya jawaban dari Adzilla tak membuat Askar puas di seberang telepon. Suaminya melakukan panggilan video.
"Apa mami baik-baik saja?"
Adzilla mengangguk sembari mengulas senyum terbaiknya. Sebenarnya ia sedang menahan diri agar tak memberitahu Askar lebih dahulu.
"Cepat pulang, mami kangen," ia sengaja merengek dengan suara manja nya.
"Jangan bersuara begitu, mi. Nanti papi tambah kangen."
__ADS_1
Adzilla tertawa karena ia tahu betul apa yang dimaksud oleh suaminya. Selama dinikahi oleh Askar, ia sudah cukup mengerti dengan tingkat ke mesuman suaminya yang akan meninggi hanya dengan suara manjanya.
"Pulanglah, aku punya kejutan untuk suamiku yang tampan ini."
"Benarkah? apa kira-kira? apa lingrie baru lagi? atau servic lebih mantap lagi?"
Adzilla tertawa apalagi Askar mengerlingkan mata genit untuknya. Memang sering sekali ia melakukan yang di katakan Askar tadi.
Karena sekarang ia tahu bahwa pahala yang akan di dapat begitu besar jika meminta lebih dahulu pada suami.
Jangan tanya dari mana dirinya mendapatkan lingerie berbagai macam bentuk, pastilah dari aplikasi belanja online berlogo tas berinisial S itu.
"Ini jauh lebih dari itu, Pi. Sudah dulu ya, aku mau buat sarapan."
"Iya, sayang. Ada minta dibelikan sesuatu?"
Adzilla menggeleng. "Beli bolu Meranti atau Bika Ambon untuk anak-anak saja, aku hanya ingin kau cepat pulang."
"Baiklah, sepertinya istriku ini sangat merindukanku. Aku tutup ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah melakukan panggilan vidoe, Adzilla memasak sarapan untuknya dan kedua anaknya.
Dielus perut nya yang masih rata telah hadir makhluk kecil di dalam sana. Tanpa terasa air matanya meleleh begitu terharu. Dan ia membenarkan perkataan orang, buah dari kesabaran adalah kebahagiaan yang hakiki.
"Sehat-sehat di dalam perut mami, ya. Papi pasti senang ada adek, sekarang."
...****...
Malam harinya, Askar telah tiba di Stasiun kota tersebut. Sengaja tidak mengabari sang istri karena sebelumnya telah mengabari jika ia akan esok siang.
Ia sengaja pulang lebih dahulu karena Reza mengatakan ada yang ingin di belinya. Dengan menenteng dua kota kardus berisi Bolu Meranti dan Bika Ambon di tangan nya. Ia mengulas senyum sepanjang perjalanan dengan menaiki becak motor.
Becak Motor berhenti tepat di depan rumah kontrakan nya. Askar memberikan ongkos nya. Tanpa mengetuk pintu karena ia memiliki kunci cadangan rumahnya.
Pintu terbuka, ia membuka sepatu dan meletakkan bawaan nya ke meja ruang tamu. Bahan kebab dan burger akan di kirim ke alamatnya besok. Askar berjalan ke dapur mengambil air di sana barulah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri lebih dahulu.
Seusai membersihkan diri, Askar masuk ke dalam kamar kedua anak sambungnya. Duduk di tepi ranjang sang putra. Di elus dan di kecup pucul kepala anak itu kemudian diperbaiki posisi tidur dengan memekuk bantal guling itu.
Ia bangkit melangkahkan kaki nya ke kamar putrinya. Posisi hampir sama dengan Satria, bedanya Sania memeluk boneka beruang darinya sebagai hadiah ulang tahun ke 4 anak itu. Askar melakukan hal sama seperti pada Satria tadi barulah menutup pintu kamar itu secara perlahan kemudian masuk ke dalam kamar mereka yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
Askar berjongkok memandangi wajah Adzilla yang tertidur damai di atas ranjang. Di kecup kening kemudian beralih pada bibir ranum sang istri.
Ah, ternyata ia tak bisa hanya sekedar mengecup nya, terbukti ia tak membiarkan bibir istrinya menganggur tanpa sentuhan bibirnya dan sapuan lidah pada setiap sisi bibir Adzilla sudah dilakukan, kini.
Ciuman itu terlepas karena Adzilla memundurkan kepalanya karena terkejut. "Astaghfirullah," ucap Adzilla mengusap-usap dadanya.
"Maaf sudah membangunkan, mami," ucapan nya membuat sang istri melotot ke arahnya.
"Papi, kok disini?"
Pertanyaan Adzilla membuat Askar tertawa renyah kemudian bangkit duduk di tepi ranjang.
Dengan sigap Askar memeluk Adzilla setelahnya kedua bibir itu sudah saling memberikan sensasi yang di rindukan. Saling membelit menyusuri setiap jengkal rongga mulut keduanya.
Sepasang tangan kedua nya tak tinggal diam untuk memberikan sentuhan-sentuhan yang mampu membangkitkan ge lora cinta keduanya.
Tiga hari tidak bertemu menjadikan semangat baru untuk mengobati rindu.
Rengekan Adzilla mampu membakar has rat nya bertambah. Sengaja menyiksa sang istri agar mendengar rengekan yang telah membuatnya tak dapat menahan rindu.
"Aaskaar... Sekarang,"
Ia tersenyum kemenangan karena Adzilla tak dapat menunggu lama lagi. Ia pun membuka celana boxer dan dala man nya
Di gesek-gesek ke permukaan pintu gerbang milik Adzilla hingga ular piton babon itu siap menggempur sang istri.
Permainan kali ini begitu terasa lama dan panjang. Kerinduan kedua nya sama-sama menggebu-gebu hingga waktu tak terasa hampir mendekati Subuh.
Bahkan ketika terdengar suara adzan, Askar masih setia mengukung sang istri di bawahnya.
Tatapan mereka bertemu, tubuh sudah bermandikan peluh. Tak ada ucapan lain selain desa han, era ngan, dan raca uan di kamar itu.
"Kau selalu nikmat, sayang," puji Askar mempercepat gem puran nya.
Adzilla sendiri melingkarkan kedua tangan di leher Askar hingga tubuhnya melengkuh bersamaan suara mereka bersahutan.
Kini, keduanya kembali merasakan puncak nirwana. Askar memeluk tubuh sang istri tanpa melepaskan penyatuan yang sangat nikmat.
Begitu sempurna.
"Suamiku, aku hamil."
__ADS_1
❤️
TBC