SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
31. Aku hancur, Zilla


__ADS_3

Keesokan hari, Askar sudah merencanakan untuk datang ke rumah Adzilla setelah ayah Yusuf dan Sania pergi menjemput Satria dari sekolah.


"Assalamualaikum." ucapnya langsung di jawab dengan Adzilla.


"Waalaikumsalam." wajah Adzilla berubah menjadi datar tetapi tidak dengan Askar yang selalu tersenyum pada Adzilla.


"Ada perlu apa?" tanya Adzilla datar.


Askar berdecak kemudian menyerahkan satu buket bunga mawar dan sebungkus cokelat merk ternama.


Dahi Adzilla mengerut namun tetap menerima pemberian Askar. "Untuk apa, As?"


Askar berdecak kembali. "Gini kalau cinta nya sama perempuan yang sudah tua." ucap Askar membuat Adzilla melotot.


"Kau ini. Aku belum setua itu. Maksudku tujuan mu ngasih ini apa?"tanya Adzilla sewot merata tak terima dikatakan tua oleh Askar.


Pria itu tertawa melihat wajah kesal Adzilla. "Untuk wanita yang sudah mematahkan hatiku. Aku tamu, apa gak boleh masuk?"


Askar merutuki dirinya setelah mengatakan itu karena raut wajah Adzilla berubah datar kembali.


Sial!


"Ayah gak di rumah. Kalau ada perlu nanti saja tunggu ayah pulang."


"Oke, aku tunggu di teras saja. Benar kata mu, tunggu ayah biar sekalian main sama anak-anak ku."


Lagi-lagi ucapan Askar membuat Adzilla melotot dan kesal. Sekuat tenaga Adzilla untuk terus acuh pada Askar.


"Dia anak-anak ku, As. Kalau kau mau punya anak ya nikahi Mentari jangan akui anak-anakku sebagai anakmu."


Askar tak menanggapi hanya mengedikkan bahu.


...****...


Masih di depan pintu, Adzilla terus memerhatikan Askar duduk di teras seakan tak perduli dengannya. Apalagi melihat Askar sedang bermain ponsel.


Adzilla tersenyum miring ketika menyadari dirinya sempat merasa senang karena kehadiran Askar.

__ADS_1


Enggak. Askar tetap harus tanggung jawab sama perbuatan nya Zilla, jangan pernah berandai-andai hidup bersama dengan pria ini.


Ia memghampiri Askar, meletakkan bunga buket dan cokelat tersebut di meja sebelah kursi dimana Askar duduk. Pandangan mereka sempat bertemu tetapi segera di putuskan oleh Adzilla.


"Kasih pada orang yang tepat, As. Dan itu bukan aku." ucap Adzilla lirih. Sekuat tenaga ia tak menangis di depan Askar.


Tidak akan pernah.


...****...


Tangan Askar terkepal mendengar ucapan Adzilla. "Kenapa? kenapa kau merasa bukan orang tepat untuk ku?" sentak Askar dengan mata memerah.


Adzilla diam membisu.


"Apa karena status janda mu, kau meninggalkan ku, Zilla? bahkan kau tahu sendiri jika aku sudah jatuh cinta padamu saat menjadi istri orang. Apa karena kau sudah punya anak? kau sendiri tahu bagaimana sayang ku pada mereka. Karena restu kak Hana? kau pernah berumah tangga, selama tujuh tahun kau bisa bertahan dengan pria seperti Bari, lalu kenapa kau menyerah karena tak ada restu padahal aku begitu mencintaimu?" cecar Askar kehilangan kesabaran nya pada Adzilla.


Hatinya mencelos ketika mendapati Adzilla sudah menangis. Ia pun bangkit membawa Adzilla masuk ke dalam rumah. Mendudukkan wanita itu kemudian duduk bersebelahan dengan ada jarak di antara mereka.


Hening. Baik Askar maupun Adzilla tak ada bersuara menikmati keheningan.


"Tahukah kau Zilla, rasaku amat mendalam, sekalipun dia telah hancur, irisan hatiku masih namamu." ucap Askar lirih masih terdengar oleh Adzilla.


"Kau benar-benar mencintai seseorang ketika kau tidak bisa membencinya meskipun dia telah menyakitimu. Dan itu yang ku rasakan padamu."


Askar mendengar Adzilla semakin terisak atas ucapan nya. Ia tahu jika Adzilla sama terluka seperti dirinya.


"Maafkan aku, As."


Askar menggeleng. "Kau yang terbaik, juga terburuk. Kau yang mengajari arti patah hati. Kau beri harap, lalu kau pergi. Tapi kenapa hatiku tak bisa membenci dan menghapusmu dari hatiku, Zilla?"


Tatapan ke duanya bertemu kemudian saling memalingkan wajah. Lagi-lagi Askar dapat melihat arti luka dari tatapan Adzilla.


"Belajarlah membenci ku, As. Itu adalah jalan keluar untuk kita berdua."


Askar menoleh ke arah Adzilla. "Kenapa? kenapa kau menyuruh ku membenci mu? kau menyuruhku seperti itu tapi kau juga terluka." Sekuat tenaga Askar menahan emosi nya karena Adzilla masih keukeh untuk tak menerima dirinya kembali.


"Karena aku mencintaimu, tapi kita gak bisa bersama. Aku ada di antara kalian, As."

__ADS_1


"Antara kalian siapa? Mentari? aku sudah jelaskan dari awal kalau aku dan dia sama sekali gak ada hubungan apa-apa. Memang saat SMA dulu aku pernah suka sama fia tapi di tolak, itu saja. Kami gak punya kenangan istimewa, Zilla."


Adzilla semakin menunduk dalam memikirkan perkataan Mentari waktu lalu.


Mentari gak mungkin bongkar aib sendiri kan kalau dia sudah tak suci lagi? atau menurut Askar melakukan hubungan suami istri dengan Mentari hal biasa? Astaghfirullah.. Kenapa hati ku bimbang begini?


"Maafkan aku, As. Aku sangat mencintaimu. Tapi Jikapun ternyata kau memiliki perasaan yang sama seperti diriku, biarkan kita saling mencintai tapi tidak bisa memiliki. Biarkan seperti ini, cukuplah saling memperhatikan dari kejauhan saja. Dan berharap kita selalu mendapatkan sesuatu yang terbaik."


"Percayalah, saling mencintai tapi tidak bisa memiliki, kelihatannya bukan sesuatu yang terdengar buruk. Namun aku cuma mau bilang, mungkin ini yang terbaik saat ini, kedepannya aku tidak tahu!.” imbuh Adzilla lagi membuat Askar menoleh ke arahnya.


Pupus sudah harapan Askar dan harapan nya hanya satu saat ini. Membujuk ayah Yusuf.


Dalam sebuah hubungan, pasti akan ada pasang surutnya. Tergantung pada bagaimana kita menyikapi pasang surut tersebut, hasil akhir dari sebuah hubungan memang tak selalu dapat diprediksi. Terkadang, perpisahan dapat menjadi jalan terbaik bagi keduanya.


Terlebih jika ada satu pihak yang telah menorehkan luka dan rasa sakit hati sedemikian rupa, maka pihak yang lain pasti tak akan gampang memaafkan. Perlu waktu untuk mencerna dan menerima semuanya, untuk lantas berdamai dengan keadaan.


Tidak ada yang membuka suara sampai ayah Yusuf pulang bersama kedua anak Adzilla.


Adzilla bangkit langsung membawa ke duan anak nya masuk ke dalam kamar. Tinggallah Askar dan ayah Yusuf di ruang tamu tersebut.


"Ada apa, nak Askar?" tanya ayah Yusuf.


"Ayah, aku ingin mengajak Zilla melanjutkan hubungan kami. Aku merasa Zilla juga mencintaiku dan sama terluka dengan perpisahan kami."


Ayah Yusuf manggut-manggut membenarkan ucapan Askar barusan.


"Belajarlah mengikhlaskan apa yang akan pergi dan membuka lembaran yang baru. Tak menutup kemungkinan, kalian berdua kembali menulis kisah yang lebih indah di lembar yang baru tersebut."


"Mungkin bukan sekarang kalian bisa saling memiliki, tapi mungkin suatu saat nanti. Atau bisa jadi kalian diciptakan memang bukan untuk saling memiliki. Tapi bisa memiliki atau enggak, yang penting kalian pernah saling jatuh hati." lanjut Ayah Yusuf lagi.


Semua kalimat ayah Yusuf di cerna oleh Askar dan ia dapat menyimpulkan bahwa ayah Yusuf juga mendukung keputusan Adzilla.


Askar tak lagi membantah hanya pamit pulang dengan mencium punggung tangan ayah Yusuf dan mengucap salam.


*Aku hancur, Zilla.


❤️

__ADS_1


TBC*


__ADS_2