SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
58. Tumben


__ADS_3

Reza mengerutkan dahi melihat istri pertamanya sudah mandi dengan rambut basah juga pakaian kotor sudah di cuci dan terjemur. Dan aneh nya ada seprei di jemuran padahal malam tadi baru saja diganti.


"Tumben kau sudah mandi, Diana?" tanya Reza mendudukkan bokong ke sofa. Ia baru saja pulang dari kampung mengantarkan sang ibunda yang ingin menginap di rumah neneknya tak lain orang tua dari ibu Reza.


Jadi mereka hanya berdua di rumah, kini. Sebenarnya Reza bertanya tanpa curiga karena dirinya juga terbiasa mandi pagi. Tetapi melihat wajah Diana tampak tegang membuatnya mengernyitkan dahi merasa aneh.


"Kau kenapa?" tanya Reza membuat Diana semakin gugup.


"Enggak loh, mas. Mas, aku sudah habis nifas dari dua minggu lalu tapi mas belum juga sentuh aku," Diana hendak bergelayut manja di lengan nya namun segera Reza bangkit untuk menghindar.


Tentu Reza tahu maksud ucapan Diana. Bukan ingin tak adil, tetapi selama memberi nafkah batin pada Diana selalu tubuh Mentari menjadi fantasi permainan nya.


Katakan lah Reza pria brengsek tetapi pada kenyataan nya, ia memang sulit untuk terang sang bila Diana memancing bi ra hi nya. Mungkin karena Diana sangat agresif berbanding terbalik dengan Mentari yang selalu diawali terpaksa namun ketika mereka merasakan gai rah bersama membuat saling memuaskan.


Ia menelan saliva dengan kasar tanpa menatap Diana. Ingin sekali menolak tetapi perkataan Ibu Lia dan Mentari kembali terngiang bahwa dirinya harus berlaku adil.


"Siapin saja saat aku pulang kerja," kata Reza terpaksa.


Diana tersenyum lebar. "Oke siap, ayo sarapan mas."

__ADS_1


Reza menggeleng. "Aku sudah sarapan di jalan tadi. Aku pergi sebentar," elak Reza berbohong karena ia ingin ke rumah Mentari.


Tanpa mendengar perkataan Diana, ia kembali keluar rumah dan mengendarai sepeda motor matic nya ke arah rumah Mentari.


...****...


"Assalamualaikum," ucap Reza langsung di sahut dari dua suara wanita yang dikenalnya dari dalam rumah.


Senyum nya terukir kala melihat Mentari menyambut dan mencium punggung tangan nya. Hal sederhana yang tak pernah didapat dari istri pertamanya. Ia pun masuk ke dalam rumah setelah dipersilahkan masuk.


"Lupa kalau hari ini jatah hari istri pertama?" sindir Mentari ketus namun membuat Reza terkekeh karena menurutnya istri kedua nya itu sangat menggemaskan dan ia sangat tahu jika Mentari belum sepenuhnya setuju dengan keputusan nya dan Ibu Lia.


"Kangen sama dedek," sahutnya sembari duduk di sebelah Mentari di lantai beralas tikar.


Perkataan Mentari mampuat membuat nyeri dihatinya karena benar, malam nanti ia akan melakukan hal itu.


Ibu Lia datang dengan membawa satu gelas teh manis dan sepiring ubi kayu rebus. "Bu, jangan begini. Aku bisa ambil sendiri nanti," kata Reza tak enak hati.


"Enggak apa. Ibu ke warung depas sebentar ya," Ibu Lia berlalu begitu saja karena ingin memberi waktu lebih lama untuk anak dan menantunya.

__ADS_1


"Apa lihat-lihat?" tanya Mentari galak namun Reza tertawa.


"Makasih untu mau menerimaku yang berengsek ini, sayang."


"Aku terima juga karena permintaan Ibu dan demi anakku."


Reza mengelus perut buncit Mentari lalu mengecupnya. Beruntung istri keduanya ini memberi izin.


"Anak kita, dia adalah anak kita."


Mentari memalingkan wajah, kecupan Reza mampu membuat darah nya berdesir apalagi elusan itu mampu membuatnya meremang.


Bagaimana tidak? selama hamil ia sering sekali merasakan ingin di puaskan.


"Kyyaaa... Turunkan aku, Reza."


Dengan hati-hati Reza menggendong Mentari apalagi wanita hamil itu terus memberontak.


"Sayang, aku tahu kau begitu menginginkanku."

__ADS_1


❤️


TBC


__ADS_2