
Acara lamaran telah usai. Hidangan makanan sudah tersaji pun tandas. Foto bersama keluarga dua belah pihak juga sudah terlaksana.
Kini prosesi foto bersama teman-teman. Jangan tanya mengapa Adzilla tidak memiliki teman. Itu karena sedari dulu tidak memiliki teman dekat.
Teman dekat atau sahabat Adzilla hanya sang ayah.
"As, kenapa harus di videoin gitu sih?" Adzilla tampak kesal karena Reza dan kedua temannya yang lain sedang sibuk mengarahkan kamera ke arah calon istrinya.
"Untuk kenangan yang akan kita tunjukin ke anak-anak kita nanti, kak."
Ah, ingin rasanya Askar memeluk Adzilla sekarang juga melihat pujaan hatinya tersipu malu dengan pipi merona.
"Aku malu."
Reza berdehem karena sudah standby untuk memotret tetapi pasangan itu terus saja berdebat. Walau setiap perdebatan itu juga tak luput dari potretan nya.
Askar mengajak Adzilla keluar untuk mengambil foto di luar. Reza mengintrupsi mereka berdua untuk berpegangan tangan. Tentu saja dengan senang hati menuruti Reza.
Tapi lihatlah wanita yang sudah resmi bergelar sebagai tunangan nya itu melotot karena perlakuan nya.
"Pegang tangan doang, kak."
"Sudah cepat balik badan belakangi kamera jangan ngobrol terus." tegur Reza membuat kedua orang itu berbalik badan.
Askar membantu Adzilla untuk bergaya karena pujaan hatinya itu sedikit kaku bila di foto di depan orang yang tak di kenal.
"Kakak cantik." puji Askar setelah Reza memotret mereka.
"Kau juga ganteng, As. Gak kelihatan kalau kau kang kebab."
"Jadi ceritanya malu punya calon suami kang kebab?" pancin Askar karena sebenarnya juga ingin mengetahui hal itu.
"Bukan malu, tapi kesel kau ganjen sama pelanggan mu."
Eh!
Askar melihat Adzilla pergi setelah mengucapkan itu. "Apa dia cemburu? tapi katanya gak masalah kalau aku ramah sama pelanggan."
"Kak." Askar mengejar Adzilla masuk ke dalam rumah. Ternyata pujaan hatinya sedang sibu berfoto riya dengan Satria dan Sania.
__ADS_1
Ia pun ikut berfoto dengan mereka. Setelahnya Reza kembali memberi tahu untuk mengambil satu sesi gambar lagi.
Berfoto dengan pakaian berbeda. Tetapi sepertinya Adzilla terpaksa melakukan gaya foto ini walau Askar menyukainya.
"Biar terbiasa nanti kalau sudah menikah, kak."
"Apaan sih, As."
"Kau senang bisa tidur di kakiku, kan?" tanya Adzilla ketus.
Askar yang masih tiduran dengan kepala di paha Adzilla terkekeh. Mata di balik kaca mata hitam itu terus menikmati kecantikan wajah Adzilla dari bawah.
"Sangat cantik." gumam Askar masih terdengar Adzilla.
Di kecuk ujung tiga jemari Askar lalu di tempelkan pada kening Adzilla yang terpejam. "Aku sayang sama kakak. Jangan pernah tinggalin aku ya."
Adzilla tersenyum tanpa menjawab. Namun senyuman itu sudah cukup baginya.
"Aku enggak akan upload foto kita yang ini." celetuk Askar masih berada di tempat yang sama.
Adzilla menunduk dan tatapan mereka bertemu."Kenapa?"
"Askar, kau mesum." Adzilla menyilang kedua tangan di dadanya.
Askar tertawa renyah. Tentu saja ia berpikir mesum. Aset berharga Adzilla tepat berada di atas wajah nya menggantung penuh pesona.
Untuk pertama kali Askar melihat Adzilla berpakaian tak selonggar biasanya dan ia merasa tak rela.
...****...
Akhirnya acara lamaran mereka telah usai. Keluarga dan teman Askar sudah kembali pulang tetapi tidak dengan Askar karena sedang membantu ayah Yusuf membereskan ruang tamu.
Dan ia juga akan melunasi jasa dekorasi dan make-up Adzilla karena saat pemesanan hanya membayar uang muka saja.
"Pak, aku pulang dulu ya." pamit Askar pada Ayah Yusuf.
Ayah Yusuf mengangguk. "Hati-hati. Panggil ayah saja, nak."
Askar terharu mendengar ayah Yusuf menyuruhnya memanggil sebutan ayah. Panggilan untuk seseorang yang sudah lama tak terucap dalam hidupnya.
__ADS_1
...****...
"Assalamualaikum." ucap Askar ketika hendak memasuki rumah Hana.
Ia berdecak melihat kakak dan saudara lain nya masih berkumpul. Melihat keadaan menjadi senyap pasti ada yang mereka bicarakan di belakang nya.
"Askar, kenapa kau gak kasih tahu om kalau calon mu janda?" tanya salah satu saudara Askar.
Askar menghela nafas lalu duduk bergabung dengan mereka. "Adzilla pilihanku, om."
"Tapi dia lebih tua darimu, As. Kenapa kau gak ngerti juga maksud kakak sih dek? kau mau di jengkali sama dia? belum apa-apa saja kau bangkang sama kakak."
Askar meraup wajah dengan kasar. Heran mengapa mereka hanya menilai yang terlihat. Andai mereka tahu bagaimana usaha Adzilla menjadi lebih baik. Dirinya lah lah yang membuat Adzilla kembali buruk karena sering memaksa wanita itu untuk menggenggam tangan, berduaan tanpa orang lain, apalagi ia sering memberi kecupan walau melalui ujung jemari yang di tempelkan ke pipi atau kening wanita itu.
"Apa begitu buruk Adzilla untukku, kak?" tanya Askar lirih.
"Bukan itu maksud kakak, dek. Maksud kakak kenapa harus yang lebih tua dan janda beranak, As?"
Heri dan keluarga lain nya hanya bisa diam mendengarkan kakak beradik itu. Bagaimana pun Askar adalah kewajiban Hana sebelum menikah.
"Aku sudah pernah bilang ke kakak. Ini permintaan ku bukan? tolong kabulkan. Aku hanya butuh restu mu, kak. Umur, status, dan anaknya bukan kendala untuk hatiku memilihnya."
Askar meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya. Rasanya masih bingung mengapa kebanyakan orang masih berpikiran sempit menilai seseorang seperti Adzilla.
Di dalam kamar, Askar meletakkan pakaian yang ia pakai saat acara pertunangan tadi lalu mengambil ponsel di saku.
Senyuman nya terbit membaca isi pesan dari pujaan hatinya.
Adzilla :
Untuk beberapa hal, kamu selalu mampu membuatku merasa beruntung memilikimu. Aku harap tak ada kata akhir.
"Ah, calon istriku itu selalu manis kalau jauh darinya." Askar pun membalas pesan itu.
Askar :
Tetaplah bertahan apapun cobaan menghadang hubungan kita.
Askar meletakkan ponsel di nakas setelah sekian lama menunggu balasan dari Adzilla ternyata yang di tunggu tak kunjung ada balasan.
"Aku sangat berharap kau tak akan mundur."
__ADS_1
❤️
Bersambung..