
Mentari tercengang dengan apa yang dilakukan Reza padanya. Dan ini bisa menjadi bahan gosip para tetangga yang selama ini julid padanya.
"Reza, Kau membuat ku gila," pekik Mentari atas perlakuan baru saja dilakukan pria itu.
Reza tersenyum tak memasukkan hati dengan umpatan yang dilayangkan untuknya. Ia terus menggendong Mentari masuk ke dalam dan mendudukkan wanita hamil anaknya itu ke lantai yang sudah bergelar tikar tersebut.
Untuk pertama kalinya Reza memasuki rumah kontrakan Mentari membuat dadanya sesak karena merasa tak adil pada wanitanya ini. Dirinya tinggal di rumah peninggalan ayah nya yang cukup luas dan fasilitas ia lengkapi untuk ibu dan Diana.
"Kau pingin apa, Tari?" tanya Reza membuat Mentari memalingkan wajah.
"Ingin kau pergi dan jangan datang lagi ke hidupku,"
Reza menggeleng cepat. "Aku gak akan biarkan kau kesusahan sendiri, aku akan bicarakan ini pada Ibu," tegasnya membuat Mentari mendengus.
Tentu saja Mentari begitu paham dengan sosok pria, ayah dari anak dalam kandungan nya ini keras kepala.
Tanpa ada membuka suara, Mentari memilih memijat betisnya yang terasa pegal sedari kemarin.
Bahkan ketika Reza bangkit berjalan menuju dapur, ia hanya melirik sekilas membiarkan sesuka hati pria itu.
Bagaimana kejam nya pria tersebut ternyata belum juga bisa membuatnya benci. Ia masih sayang dan mencintai Reza, ayah dari anak yang dikandungnya.
"Ibu kemana?" tanya Reza membuyarkan lamunan Mentari.
"Keluar," sahut Mentari singkat.
__ADS_1
Reza menunduk diam sembari mengaduk-aduk teh yang dibuatnya kemudian mengambil teh itu dengan sendok. Di sodorkan ke arah Mentari namun wanita itu memalingkan wajah.
"Muka mu agak pucat, minumlah teh ini lalu kita ke Dokter untuk periksa," ucap Reza dengan suara lembut.
Mentari menoleh dan menatap Reza dengan tajam. "Jangan beranggapan hubungan kita sedekat itu. Za," pungkas Mentari sarkastik.
"Aku hanya ingin bertanggung jawab dengan mu dan anak kita,"
Mentari mendengar itu semakin murka namun sekuat tenaga ia tahan demi kewarasan. Hingga terdengar ucapan salam dari luar rumah.
Ibu Lia bersama dengan tukang urut masuk ke rumah. Ibu Lia terkejut mendapati pria yang bersama putrinya. Ia tahu cepat atau lambat akan ada kejadian ini dimana Reza akan mendatangi anaknya lagi.
"Tari, masuklah ke kamar. Mbah Jum akan mengurutmu," tutur Ibu Lia di angguki oleh Mentari.
Tak dipungkiri jika terlihat jelas dari pandangan keduanya masih menampakkan pancaran kobaran asmara disana.
Ibu Lia menghela nafas panjang. Tidak ada yang membuka suara selama Mentari sedang di urut di dalam kamar.
Beberapa saat kemudian, Mentari keluar kamar dengan memakai sarung terlilit di tubuhnya. Sekali lagi, Ibu Lia membiarkan Reza berdiri membantu Mentari ke belakang. Itu karena masih ada Mbah Jum yang tadi sempat bertanya apakah Reza suami anaknya.
...****...
"Aku siapin air hangat," ujar Reza tanpa menunggu jawaban Mentari.
Reza mengambil panci lalu menuangkan air kedalamnya barulah ia rebus air tersebut. Sementara Mentari hanya mendengus merutuki dirinya yang tak bisa membenci pria yang sibuk di depan kompor tersebut.
__ADS_1
"Kapan acara 7 bulanan nya, yang?" tanya Reza.
Mata Mentari terbelalak seteah pertanyaan itu. "Gak ada acara begituan, aku ini gak punya suami kalau kau lupa," Ia menundukkan wajah karena wajahnya pasti bersemu merah akibat panggilan Reza yang sering memanggilnya sayang ketika melakukan pergulatan panas kala itu.
Reza menghela nafas, sedari tadi Mentari bicara ketus padanya. Ada rasa takut menjalari bila keputusan nya akan di tolak mentah-mentah oleh Mentari dan Ibu wanitanya ini.
Tanpa menjawab, Reza kembali ke depan kompor karena air yang direbus sudah panas kemudian melangkah menuju kamar mandi. Di tuang air panas tersebut di dalam ember besar barulah ia campurkan dengan air dingin hingga sampai pada hangat yang diinginkan.
Mentari masuk kamar mandi dan mengunci pintu itu. Sedang Reza setia menunggu di dapur sembari mengumpulkan tenaga untuk menghadapi kemarahan Ibu Lia.
Mentari tersentak melihat Reza masih setia menunggu apalagi sekarang ia mengenakan handuk yang hanya sebatas paha nya. Bahkan ia dapat melihat tatapan Reza mengarah paha yang tak tertutup.
Sungguh ia sangat hafal bagian tubuhnya yang disukai pria itu. "Balik badan," sentak Mentari menyadarkan pikiran traveling Reza dan otomatis berbalik badan.
Melihat Reza balik badan langsung membuatnya melangkah cepat masuk ke dalam kamar dan memakai pakaian.
Tubuh Mentari mendadak gugup duduk bersebelahan dengan Reza di depan sang ibu. Seperti terdakwa yang hendak di hakimi.
"Bu, aku akan bertanggung jawab atas hidup Mentari dan anak kami," ucap Reza dengan tegas.
"Bertanggung jawab yang bagaimana?"
❤️
TBC
__ADS_1