
Sebenarnya sudah seminggu ini Reza memerhatikan Ibu Lia dan Mentari. Sedari siang juga sudah tiba di kota nya namun belum pulang ke rumah.
Ada perasaan haru melihat begitu giat dan kuatnya Mentari membantu Ibu Lia dengan perut nya yang membuncit. Ia juga sudah tahu jika Mentari mengatakan pada Pak RT dan tetangganya jika wanita yang mengandung anaknya itu bahwa sang suami tengah merantau di Negeri orang.
Hembusan nafas terdengar darinya. Kehilangan anak dalam kandungan Diana mampu membuat hatinya hancur. Walau ia sudah tak lagi ada perasaan kepada Diana tetapi kehilangan anak juga membuatnya terpukul begitu dalam.
Ia juga merasa ini adalah karma untuknya yang telah menyia-nyiakan Mentari dan menelantarkan anak dalam kandungan wanita itu.
Sore hari Mentari dan Ibu Lia menutup warung dan kembali ke rumah kontrakan mengendarai sepeda motor. Hatinya teriris melihat Mentari mengendarai motor itu dalam keadaan hamil besar.
Diikutinya dua wanita beda generasi itu untuk memastikan keselamatan mereka. Melihat mereka telah masuk dalam rumah membuat ia menghidupkan kembali motornya kembali pulang.
Sepanjang jalan pikiran nya berperang dengan hatinya. Pikiran nya mengatakan untuk tetap setia pada pernikahan nya dengan Diana namun hatinya berontak untuk bertanggung jawab pada Mentari, wanita yang selama ini selalu ada untuknya.
Di putar balik arah motornya ke arah rumah Mentari. Sudah cukup ia menjadu pria pengecut, bagaimanapun caranya ia harus bisa bertanggung jawab atas masa depan Mentari dan anaknya yang di kandung wanitanya itu.
Berulang kali tarik nafas menetralkan degub jantung. Hari ini ia siap jika harus di hajar ataupun mendapat caci maki yang penting Mentari menerimanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucapnya berulang kali.
"Waalaikumsalam."
Setelah mengucapkan beberapa kali barulah ada sahutan dari dalam. Reza mendadak gugup karena suara yang menyahut adalah suara Mentari.
Pintu terbuka menampakkan Mentari yang sudah berganti pakaian memakai daster. Tubuh keduanya sempat mematung untuk beberapa saat.
Reza berdehem kemudian membungkuk mengelus perut buncit Mentari. Matanya memanas memikirkan nasib anaknya jika tak ada dirinya. Di kecup perut buncit itu barulah ia berdiri tegak lagi.
Saat matanya bertemu dengan tatapan mata Mentari sudah menangis.
"Pergilah, kehadiranmu sudah tak ku butuhkan lagi," papar Mentari tetapi ucapan nya sendiri begitu menyayat hatinya.
"Jangan usir aku, Tari."
"Kemana kau saat aku membutuhkan tanggung jawabmu? ah ya, kau sedang bahagia memadu kasih bersama istrimu. Pergilah," usir Mentari mendorong Reza agar pergi dari rumah kontrakan nya.
__ADS_1
"Jangan usir aku. Tari," ucap Reza mengiba.
Mentari terus saja mendorongnya namun tetap berusaha agar berdiri tegak.
"Mentari, ada apa?" tanya salah satu tetangga yang melewati rumah Mentari.
Reza dan Mentari menoleh ke arah ibu-ibu tetangga itu. Reza menyeringai ketika ide terlintas. Di kecup kening Mentari membuat wanitanya itu diam mematung. Setelah itu mendekati ibu itu.
"Maaf, Bu. Saya suami Mentari, Bu. Istri saya ngambek karena baru bisa pulang," akui Reza berbohong. Ia lakukan ini karena ingin bicara dengan Mentari dan Ibu Lia secara baik-baik.
"Owalah, Le. Kau rupanya suami Mentari. Syukurlah kau pulang karena Mentari sudah jadi bahan gosipan karena suaminya gak pulang-pulang. Ya sudah kalau gitu. Yang akur kalian ya, sebagai suami juga harus sabar apalagi istri lagi hamil."
Reza tersenyum dan mengangguk. Melihat ibu itu pergi, Reza balik badan menatap Mentari dengan senyum kemenangan.
"Kau licik. Reza,"
"Reza, Kau membuat ku gila," pekik Mentari atas perlakuan baru saja dilakukan pria itu.
__ADS_1
❤️
TBC