
Adzilla sibuk berkutat dengan alat masak. Ia ingin memasak ikan nila saus asam manis, sup ayam, sambal terasi.
Tidak tahu alasan mengapa ia begitu semangat memasak setelah pulang di antar Askar tadi. Senyuman mengembang mengingat bagaimana Askar gombal terhadapnya tadi.
Adzilla menggeleng kepala menyadari sikapnya seperti anak ABG jatuh cinta. Dan penyebabnya dari pria muda baru saja beranjak dewasa.
"Ada apa denganku?" gumamnya sembari menyelesaikan memasak.
"Banyak sekali makananmu, Zilla?" tanya ayah baru tiba di dapur menggendong Sania.
Adzilla berbalik dan tersenyum. "Nanti malam Askar mau makan disini, yah." katanya kemudian memasukkan sup ayam ke dalam wadah yang sudah disiapkan.
Ayah Yusuf tersenyum menanggapi. Ia merasa sangat senang melihat wajah putrinya kembali berseri dan tampak bahagia.
"Senang ya putri ayah, nampak sekali lagi jatuh cinta."celetuk ayah sembari mendudukkan Sania di kursi meja makan.
Sedang Adzilla mendekati ayah langsung merangkul lengan pria paruh baya itu dengan manja. "Ayah, apa Zilla akan bahagia bersama Askar? Zilla akui, pertama kali Askar berani mendekati Zilla dan Sania di taman sebelum bercerai sudah buat Zilla merasakan getaran cinta itu. Tapi, mau bagaimanapun perasaan Zilla, masih ada rasa takut."
"Jangan takut, jalani."
Adzilla mengangguk kemudian menyuapi Sania sembari merespon apapun yang di katakan Sania.
Malam yang ditunggu hadir juga. Mungkin langit sudah tahu bahwa malam ini akan membawa kabar gembira untuk seorang Askar.
Adzilla tersenyum melihat Askar masuk ke dalam rumah dengan disambut kedua anaknya. Terbersit pertanyaan dalam benaknya.
Mengapa bisa ia begitu disayang oleh berondong tampan itu?
Dirasa cukup lama Askar sudah bermain dengan kedua anaknya, lantas membuat ia harus menyudahi permainan mereka.
"Satria, Sania. Sidah ya main nya. Om Askar mau makan dulu, kalian tadi sudah makan kan?"
"Iya, ma."
"Om papi makan dulu ya, nanti kita main lagi."
"Horee..."
"Siap om papi."
Adzilla tersenyum melihat interaksi ketiga orang itu. Sungguh membuat hatinya menghangat.
Dahulu, berpikir bahwa Askar hanya terobsesi padanya. Tetapi melihat setahun ini, pria itu begitu sabar menantinya dan begitu menyayangi kedua anaknya membuat hatinya tersentuh.
Ia berjalan ke dapur dengan di ikuti Askar di belakangnya. Menata ulang lauk dan sayur ke atas meja setelah disimpan kembali ke lemari makanan, tadi.
__ADS_1
"Ini berlebihan, kak. Kenapa banyak sekali makanan nya?"
Adzilla tersenyum saja.
"Kan sudah aku bilang, aku ingin memasak untukmu."
Mengetahui Askar tengah tersenyum padanya membuat ia membalas senyuman tak kalah manisnya.
"Makasih, kakak sayang."
Adzilla mengangguk kemudian meletakkan sepiring makanan di depan Askar dan segelas air minum.
Sebelum makan, Askar menanyakan apakah Ayah Yususf sudah makan dan tak lupa menanyakan Adzilla dan kedua anaknya dengan pertanyaan yang sama.
Hal itu membuat nilai tambah bagi Askar di mata Adzilla.
"Kak, jangan lihat aku begitu." tegur Askar karena sedari tafi Adzilla memerhatikan pria itu melahap makanan nya.
"Loh, kenapa?"
"Tatapan mata kakak membuatbku terbuai."
Adzilla melongo kemudian tersenyum menanggapi. "Makanlah."
Ia melihat senyuman getir terpahat di wajah tampan Askar. Entah apa sebabnya.
"Dasar pemaksa." umpat Adzilla karena sedari tadi Askar terus memaksa untuk mencuci piringnya.
Duduk di ruang tamu saling berhadapan namun tak ada yang ingin membuka suara lebih dahulu karena mereka sedang menunggu ayah Yusuf yang sibuk menemani kedua cucunya di kamar.
"Askar." panggil Adzilla tak sabar karena ayah Yusuf belum keluar juga.
"Ya."
"Askar, kau bisa memikirkan keputusan mu lagi sebelum melangkah jauh bersama ku."
Askar menatap Adzillah secara intens. Entah apa yang ada dipikiran pria itu. Adzilla tak dapat menemukan jawaban dari tatapan Askar.
"Kita tidak bisa memilih jatuh cinta pada siapa. Ketika ingin mencari pendamping hidup, rupanya hatiku tertambat pada seorang wanita berstatus janda. Meskipun lingkungan sosial mungkin masih memandang dengan sebelah mata, tetapi tidak ada yang salah dengan menikahi seorang janda."
"Hatiku sudah mantap memilihmu, kak Adzilla."
Adzilla menunduk dalam tak dapat menyembunyikan rasa haru di hati. Tidak tahu sikap manis Askar akan tetap sama atau tidak nantinya, tapi ia akui sekatang ini hatinya juga telah memilih Askar.
"Bagaimana jika kau bertemu dengan Bari?" tanya Adzilla memberanikan diri menatap mata Askar.
__ADS_1
"Aku harus menerima risiko kalau kau akan secara rutin berkomunikasi dengan mantan suamimu untuk menjaga hubungan baik. Oleh karena itu, aku akan terus berusaha untuk berlapang hati ketika akan menikahimu."
"Terus gimana kalau aku terus terbayang dengan masalalu?"
Askar tersenyum menyadari dirinya sedang di introgasi oleh Adzilla. Tidak ada amarah melainkan gemas melihat wajah sang pujaan hati.
"Kau enggak memilihku karena mirip dengan mantan suamimu. kau memilihku karena aku unik dan memiliki kualitas yang membuatmu jatuh hati. Oleh karena itu, aku enggak perlu berkompetisi dengan mantan suamimu karena enggak ada yang perlu dibandingkan satu sama lain."
"Sepertinya aku belum bilang kalau aku memilihmu. Terus kenapa jawaban mu semeyakinkan itu?"
Askar tertawa renyah melihat wajah cemberut Adzilla. Ditambah pertanyaan pujaan hatinya itu membuat ia merasa yakin bahwa dirinya tak akan ditolak.
"Kan sudah aku katakan, semua itu karena hatiku telah mantap memilihmu."
Adzilla menghela nafas. "Aku ingin hubungan kita mendapat restu dari kak Hana." ucap Adzilla serius.
Askar pernah mengatakan jika dirinya tidak lagi memiliki orang tua dan hanya tinggal bersama sang kakak.
Senyuman mengembang membingkai wajah tampan Askar. Perkataan Adzilla menandakan secara tak langsung telah menerimanya.
Askar mengangguk. "Tentu, secepatnya kita akan menemui kak Hana."
"Ngapa senyum-senyum begitu, As?" kedua alis Adzilla bertaut karena heran dengan Askar sedari tadi tersenyum dan tatapan itu membuatnya salah tingkah.
Yang ditanya pun hanya menggeleng namun tetap tersenyum. "Aku bahagia kak. Akhirnya kakak membalas cintaku."
Adzilla hanya tersenyum saja karena sebenarnya hatinya juga telah merasakan hal sama, namun trauma dan keraguan terus mendominasi hatinya.
"Rasanya aku ingin memelukmu saat ini." celetuk Askar membuat Adzilla melotot tetapi pria itu justru terkekeh.
"Bercanda, sayang."
Deg.
Adzilla menelan saliva karena Askar menyebutnya dengan panggilan sayang. Terasa asing namun membuat ia berbunga.
"Tegur aku jika apa yang ku perbuat gak seperti keinginan mu. Ajari jika aku melakukan kesalahan yang membuatmu sakit hati." ucap Adzilla.
"Aku juga, As."
Keduanya saling pandang dengan senyum mengembang. Namun pandangan itu tak berlangsung lama karena Adzilla sudah menundukkan kepalanya dalam.
Debaran jantung itu menyesakkan namun membahagiakan. Malam ini, baik Askar ataupun Adzilla merasa bahagia karena penantian berujung suka.
❤️
__ADS_1
TBC