
"Oh, rupanya seperti ini perempuan yang disukai, Askar?"
Adzilla menoleh ke sumber suara. Matanya memicing melihat siapa wanita yang baru saja turun dari sepeda motor langsung menodong pertanyaan seperti itu.
"Kenapa? heran karena aku kenal Askar?"
Adzilla hanya diam saja karena meraaa tidak mengenal siapa wanita itu. Mungkin salah satu wanita yang suka pada Askar, pikirnya.
"Aku, Mentari. Perempuan yang disukai Askar."
Adzillah manggut-manggut mengerti. Tetapi ia masih saja bungkam. Saat ini masih memerhatikan wajah Mentari. Bukan lagi waktunya berdebat dengan seseorang hanya masalah pria.
"Aku mau kau jauhi Askar."
"Kenapa enggak minta Askar saja yang jauhi aku?"
"Kalau kau bisa jauhi Askar, kenapa aku harus minta Askar jauhi kau?"
"Pesona ku beda dari mu. Tanpa ku minta pun, Askar akan terus datang padaku."
Adzilla merutuki diri sendiri atas ucapan nya yang begitu percaya diri. Bukan bermaksud membanggakan diri, tetapi ia tak suka dengan tatapan garang Mentari seakan meremehkan dirinya.
"Awas saja kau. Ku pastikan kalian nggak akan pernah bersatu."
Setelah mengancam Adzilla, Mentari pergi meninggalkannya.
Adzilla mengedikkan bahu merasa tak oenting dengan ancaman tersebut. Karena menurutnya, jika Askar jodohnya pasti mau bagaimana pun rintangan pasti akan tetap bersama.
Adzilla :
Masih lama, As?
Adzilla mengirim pesan pada Askar. Saat ini ia tengah menunggu Askar di taman. Pria itu sedang berada di kantor expedisi.
Tadi, sebelum Mentari datang. Mereka sengaja duduk di taman kota. Lagi-lagi Askar memanfaatkan waktu berdua karena kedua anak Adzilla tidak ikut. Beberapa saat duduk bersama, Askar pamit pergi ke kantor expedisi.
Beberapa saat kemudian, Askar datang membuat senyum Adzilla mengembang.
"Maaf lama, kak."
Adzilla hanya mengangguk. "Aku lapar, As."
...****...
Askar tersenyum mendengar Adzilla mengatakan apa yang dirasakan. Semakin hari sikap Adzilla padanya menjadi hangat.
Dan mulai berani mengutarakan apa yang diinginkan. Suatu perjembangan baik bukan?
Ia pun membawa Adzilla ke rumah makan ayam geprek. Satu hal yang ia sukai, ah bukan. Satu hal bertambah yang Askar sukai dari Adzilla yaitu makan begitu lahap tanpa malu di depan nya.
Bukan hanya saat ini, sudah beberapa kali mengajak Adzilla tetap lahap ketika makan.
"Nanti malam sempatkan datang, aku mau bicara dengan mu."
Senyuman Askar mengembang, ia tahu apa yang hendak di katakan Adzilla.
__ADS_1
Sebenarnya, sedari awal mendekati Adzilla. Tidak ada penolakan dari wanita itu, Adzilla hanya butuh waktu untuk mengobati luka dan menerima perasaan nya.
"Aku akan datang selesai sholat Isya ya. Dan makan malam disana, boleh?"
Adzilla mengangguk. "Aku akan memasak untukmu."
"Harus. Karena masakan calon istriku yang terbaik. Nanti setelah kita nikah, aku maunya makan masakan kakak. Makan di luar itu harus sama kakak dan anak-anak kita."
Adzilla berdecak. "Aku belum menjawabnya, As."
"Tapi kakak enggak pernah menolakku."
"Ya kalau aku terima pun kenapa harus cepat-cepat menikah?"
Askar menatap Adzilla dengan dalam. "Itu harus, kak. Seperti yang kakak bilang. Jika aku memilihmu, maka bukan lagi pacaran seperti orang-orang seumuran ku. Aku ingin segera meminangmu, melengkapi ibadahku. Dan satu lagi, enggak baik kita terus berduaan tanpa ikatan pernikahan."
"Aku menghormatimu, menjaga mu, aku takut mengotori iman mu hanya karena aku mencintaimu tanpa ada ikatan suci. Sekuat tenaga aku menahan has rat untuk tidak menyentuhmu sebelum kau muhrim untukku. Lantas, alasan apalagi untuk menunda niat ku menikahimu, kak?"
Adzilla diam tertunduk setelah menyelesaikan makan siang nya. Tidak mampu menjawab karena yang dikatakan Askar benar adanya. Apalagi mengingat bagaimana Askar menolak halus ayah Yusuf jika mengatakan tak apa jika ingin membawa Adzilla keluar di malam hari.
"Aku pesan untuk ayah dan anak-anak dulu ya." ucap Askar bangkit tanpa menunggu jawaban dari Adzilla.
Pesanan datang dan Askar membayar pesanan lalu mengajak Adzilla kembali pulang. Sepanjang jalan, senyuman Askar tak memudar. Akhir dari penantian panjangnya akan membuahkan hasil.
"Nggak mampir, As?"
Askar membuka kaca helm yang masih dengan senyuman. "Enggak. Aku langsung pulang, ya. Nanti malam kan mau kesini. Aku mau siapi bahan jualan dulu biar nanti anggota ku gampang nyusun nya."
Adzilla tersenyum justru membuat Askar bedecak hingga membuat Adzilla heran.
"Jangan senyum manis gitu kak."
"Memangnya kenapa?"
"Buat hati aku meleleh dan jantungku berdebar tak karuan."
Lagi, Askar menatap memuja melihat wajah Adzilla tersipu malu dengan pipi merona.
"Sudah sana pulang."
Askar mengangguk. "Iya, Assalamualaikum."
"Hati-hati. Waalaikumsalam."
Sesampainya dirumah setelah mengucapkan salam tanpa ingin mendengar jawaban dari Hana, Askar masuk kedalam kamar lalu keluar lagi dengan kaos polo putih dan celana bahan denim di tangan nya.
Sembari bernyanyi pelan, Askar menyalakan setrika untuk kaos polo nya.
Semua yang dilakukan Askar tak luput dari pandangan membuatnya penasaran.
"Kau kesambet tante girang, As?" tanya Hana membuat Askar berhenti menyetrika sebentar.
"Iya, puas kakak?"
Hana tertawa melihat wajah kesal Askar. Seperti itulah mereka, sering menjahili namun menyayangi satu sama lain.
__ADS_1
"Kau kenapa, dek? senang sekali aku lihat."
Askar tak lantas menjawab karena masuk ke dalam dapur cukup lama karena ia tengah menyusun bahan jualan nya.
Askar mendekati Hana setelah menyusun bahan. Duduk berhadapan dengan kakaknya. "Ya, aku sedang senang kak."
"Senang karena apa? bagilah cerita."
"Nanti malam aku mau kerumah cewek yang selama ini aku sukai."
Hana melongo. "Cuma itu?"
Askar berdecak melihat tatapan remeh dari Hana. "Kak, aku itu nunggu dia sudah satu tahun hampir lima bulan. Tentu aku senang disuruh main kerumahnya nanti malam."
"Siapa? Mentari?"
"Kenapa Mentari? dia itu cuma masa lalu yang nggak ada kenangan manisnya."
"Tapi dia baik loh sama kakak."
Semua orang memang harus baiklah ke sesama. Kalau selama ini nggak baik terus tiba-tiba baik coba selidiki, itu karena tobat atau ada maksud."
"Ya kakak mana tahu. Tapi Mentari cantik loh."
Askar mengangguk setuju. "Ya, tapi sayang kecantikan nya di umbar kemana-mana."
Usai mengatakan itu, Askar berlalu ke kamar mandi. Hari sudah hampir petang. Maghrib tiba membuat Askar mengambil peci berada di paku dinding dan kuci sepeda motor karena hendak melaksanakan sholat di Masjid.
Sengaja tetap berada di Masjid hingga waktu Isya agar setelah sholat, ia langsung menuju kediaman Ayah Yusuf.
Seperti rencana awal, kini Askar telah berada di rumah kediaman Ayah Yusuf dan tengah memerhatikan Adzilla sedang sibuk meletakkan beberapa makanan di depan nya.
"Ini berlebihan, kak. Kenapa banyak sekali makanan nya?"
"Kan sudah aku bilang, aku ingin memasak untukmu."
Askar tersenyum dan mendapati kehangatan di hatinya karena perhatian Adzilla.
"Makasih, kakak sayang."
❤️
TBC
Hai kesayangan emak..
Terimakasih sudah menjadi pembaca setia novel emak🥰
Apalah emak tanpa kalian, sayang.
Tetap setia dan nantikan setiap bab nya ya?
Oh iya, tetap dukung karya emak ini ya..
tetap like, komen, vote, dan kasih hadiah nya ya?
__ADS_1
dukungan kalian tetap emak hitung sampai akhir bulan untuk menentukan siapa 3 orang yang beruntung mendapatkan pulsa 10 setiap pemenang nya.